HARGA LAILATUL QADR (Tafsir Surah al-Qadr Ayat 2 Bagian 1)

HARGA LAILATUL QADR
(Tafsir Surah al-Qadr Ayat 2 Bagian 1)
Oleh: @deden_mm

Setelah pada ayat pertama dinyatakan tentang keberadaan satu malam (hari) yang agung yang dinamakan Lailatul Qadr, pada ayat ini Allah melukiskan keagungannya yang luar biasa dahsyat dan tak terkatakan kecuali dengan melontarkan pertanyaan:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيلَةُ القَدْرِ
Dan apa yang menjadikan kamu tahu apa itu Lailatul Qadr.

Huruf wawu (و) yang terdapat di pembuka ayat adalah huruf Athaf (kata sambung) yang menunjukan ayat ini masih satu rangkaian dengan ayat sebelumnya sebagai penjelas tentang keagungan malam yang disebut Lalilatu Qadr. Penjelasan ini sangat penting mengingat kata Lailatul Qadr benar-benar asing karena belum pernah terdengar sebelumnya hingga menimbulkan rasa penasaran yang besar apa sebenarnya Lailatul Qadr itu.

Kalimat ma adraka (مَا أَدْرَاكَ) tak hanya pada ayat ini saja dilontarkan tapi juga pada surah al-Haqqah, al-Thariq, al-Qari’ah, dan al-Humazah. Dan maksudnya sama. Yaitu menampilkan keagungan hal yang ditanyakan yang tidak dapat dicapai oleh pengetahuan. Tak tercapainya adalah bukti keagungannya. Dan semakin pengetahuan manusia dikerahkan lalu semakin tak tercapai maka semakin agung. Dengan kata lain tak ada alat ukur yang dapat menilai kadar keagungannya. Juga tidak ada harga yang dapat menilai mahalnya.

Ada berlian termahal di dunia. Namanya berlian Koh-I-Noor yang berarti “Mountain of Light” (Gunung Cahaya). Berasal dari Persia dengan berat 105 carat (21,6 gram). Saking berharganya dikatakan bahwa siapapun yang memilikinya akan memiliki dunia ini. Ia selama ratusan tahun telah berganti-ganti kepemilikan dari satu raja ke raja yang lain. Itu-pun didapatkan dari hasil perperangan. Dan sekarang menjadi bagian dari Mahkota Inggris. Lalu ketika ditaksir dengan harga maka tidak ada harga yang dapat mengukurnya. Bayangkan bagaimana mahalnya Lailatul Qadr yang bahkan tidak ada pengengetahuan yang dapat menjangkau hakikatnya. Mahkota Kerajaan Inggris tidak ada apa-panya sama sekali. Bahkan kalah jauh berkilau dibanding mahkota hafizh di Surga. Oleh karenanya dengan penggambaran yang sempurna Allah katakan “wa ma adraka ma lailatul qadr.”

Ayat ini bukanlah sebuah pertanyaan yang dimaksudkan bertanya. Tapi gambaran Lailatul Qadr yang sebenarnya yang tidak dapat digambarkan kecuali dengan redaksi pertanyaan. Yakni kalimat tanya yang dipinjam untuk menggambarkan realitas Lailatul Qadr sebenarnya yang rahasia. Termasuk tanggalnya. Yakni kerahasiaan tak lain adalah hakikatnya. Kemegahan, keistimewaan, dan mahalnya terletak pada tidak diketahuinya.

Ibarat babak final sebuah pertandingan bola bergengsi. Misalnya pertandingan Liverpool versus Real Madrid. Bobotnya terletak pada kenyataan skornya yang belum diketahui. Kalau sudah diketahui skornya maka harga dan nilainya akan berkurang. Semakin tidak diketahui semakin seru. Demikian pula Lailatul Qadr harganya terletak pada kerahasiaannya. Belum diketahui malam keberapa-keberapanya. Jika sudah diketahui malam keberapa-keberapanya tak lagi istimewa. Inilah mengapa Allah katakan “wa ma adraka ma lailatul qadr.”

Keterangan-keterangan baik hadis maupun qaul ulama yang memprediksi malam keberapa terjadinya Lailatul Qadar hanyalah motivasi untuk bersungguh-sungguh mencarinya. Dalam riwayat al-Bukhari, Rasulullah Saw beriktikaf dari sepulu hari pertama. Para sahabat pun mengikuti beliau. Lalu, setelah berlalu sepuluh hari, malaikat Jibril datang mengabarkan Lailatul Qadr masih di depan. Beliau dan para sahabat pun bergegas i’tikaf di sepuluh hari pertengahan Ramadhan. Lalu malaikat Ibril datang lagi mengabarkan Lailatul Qadr masih di depan. Beliau dan para sahabat pun i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Akhirnya mereka i’tikaf terus menerus sampai Lailatul Qadr diraih.

Rasullah Saw memerintahkan agar mencari Lailatul Qadr di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan terlebih di malam-malam ganjil. Tampaknya beliau mihat di tanggal-tanggal itu ada kemalasan yang menyerang para sahabat untuk beribadah maka di malam-malam malas itulah beliau Rasulullah memberi semangat kepada para sahabat agar terus mencarinya. Artinya jangan malas sedikit pun. Karena bisa jadi ada itu turun saat saat malas itu. Ini tak lain karena di dorong ayat “wa ma adraka ma lailatul qadr.”

Masjid An-Nahl The Icon BSD City
26 Mei 2018 / 10 Ramadhan 1439

Bagikan