MENGINTIP DATANGNYA LAILATUL QADR (Tafsir Surah al-Qadr Ayat 2 Bagian 2)

MENGINTIP DATANGNYA LAILATUL QADR
(Tafsir Surah al-Qadr Ayat 2 Bagian 2)
Oleh: @deden_mm

Memahami lebih jauh kata “adra (أَدْرٰى)” dalam ayat “wa ma adraka ma lailatul qadr (وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيلَةُ القَدْرِ).” Berasal dari kata dara (دَرٰى). Artinya ‘alima (عَلِمَ). Yaitu mengetahui (ilmu). Kata “dara (دَرٰى)” juga berarti faham. Termasuk memahmi ilmu yang diketahuinya. Orang yang mendapatkan jawaban tentang ilmu setelah sebelumnya buntu dibahasakan dengan “dara (دَرٰى).” “Dara (دَرٰى) pun menyimpan arti menyeluruh dan menguasai. Pengetahuan dan pemahaman tidak diungkapkan dengan derivasi dari kata “dara (دَرَى)” kalau belum menyeluruh dan belum menguasai.

Dalam tradisi para ulama level mujtahid ada kalimat “la adri (لَا أَدْرِي),” artinya “saya tidak tahu,” saat dihadapkan kepada pertanyaan yang belum mereka kuasai dan belum mereka dalami jawabannya. Bukan karena mereka tidak tahu sama sekali tapi masih perlu waktu untuk mematangkannya. Dengan demikian yang tidak diketahui dari Lailatul Qadr adalah pengetahuan tentangnya yang menyeluruh. Adapun bagian-perbagiannya, tentang waktu datangnya, misalnya, meski memang sangat samar, maka dapat diketahui. Meski tetap tidak sampai kepada level pasti.

Para mufassir membedakan kata “adraka (أدْرَاكَ)” dan kata “yudrika (يُدْرِيكَ).” Kata adraka (أدْرَاكَ) memang menunjukan ketidakmampuan menguasai pengetahuannya tapi kemudian Allah memberitahukan setelahnya. Termasuk dalam hal Lailatul Qadr, setelah ditanyakan dengan kalimat “ma adraka (مَا أدْرَاكَ),” pada ayat berikutnya Allah lalu memjelaskan bagian terpenting dari Lailatul Qadr. Yaitu malam (hari) yang lebih baik dari seribu bulan. Yang ditanyakan dengan kata ma (مَا) adalah substansi. Sementara yang diberitahukan Allah adalah sifat-nya. Yakni masih banyak sisi Lailatul Qadr yang belum diberitahukan menuju substansinya. Termasuk kepastian tanggalnya setiap tahun. Hanya saja karena redaksinya “adraka (أدْرَاكَ)” maka bagian-bagian dari Lailatul Qadr yang belum dijelaskan itu tetap terbuka untuk dapat diketahui. Berbeda dengan “yudrik (يُدْرِيكَ)” yang tak Allah beritahukan pengetahuannya secuil pun dalam Al-Quran kepada Rasulullah Saw dan atau kepada siapapun, termasuk para malaikat. Hanya Dia yang tahu. Yaitu tentang kapan terjadinya Kiamat.

Mensifati yang tersembunyi dalam konteks pengagungan tak lain kecuali hendak menunjukan kebenaran adanya. Yakni Lailatul Qadr dengan segala keagungan dan kemuliaannya tetap ada sampai hari Kiamat dan adanya pada bulan Ramadhan. Karena Al-Quran turun pertama kali pada bulan Ramadhan. Yang mengatakan Lailatul Qadr tak ada lagi, atau sebaliknya, malah mengatakan Lailatul Qadr ada di selain Ramadhan, perlu diteliti lagi. Apakah betul maksudnya begitu atau hanya pernyataan hiperbola betapa tak mudahnya meraih Lailatul Qadr seakan-akan sudah tak ada lagi, atau sebaliknya betapa mudahnya Lailatul Qadr bagi yang istiqamah murojaah Al-Quran dalam shalat malam sampai-sampai Lailatul Qadr baginya seakan tak hanya di bulan Ramadhan tapi juga di selain Ramadhan.

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam menentukan malam keberapa Lailatul Qadr. Ada yang mengatakan Lailatul Qadr terjadi setiap tanggal 29 Ramadhan. Ada yang mengatakan setiap tanggal 17 Ramadhan. Ada yang mengatakan setiap malam pertengahan Ramadhan. Ada yang mengatakan setiap malam bulan Ramadhan. Yakni, menurut pendapat ini, setiap malam-malam Ramadhan seluruhnya adalah Lailatul Qadr.

Para ulama Madzhab Syafii, dalam menentukan Lailatul Qadr, merujuk kepada hadits-hadits shahih. Rasulullah Saw bersabda: “Carilah Lailatul Qadr di sepuluh terakhir (Ramadhan).” Yakni, dalam perspektif ulama Syafiiyyah, tidak ada Lailatul Qadr di luar sepuluh hari terakhir. Dalam kitab Fathul Mu’in dibahasakan dengan kalimat “munhashiratun fiihi (مُنْحَصِرَةٌ فِيهِ).” Bisa di malam ganjil dan bisa di malam genap. Tapi yang paling diharapkan adalah malam-malam ganjil. Hadis-hadisnya sangat banyak. Dan dari malam-malam ganjil itu ada dua malam yang paling diharapkan. Yaitu malam tanggal 21 dan malam tanggal 23 Ramadhan. Demikian dalam Madzhab Syafii.

Dalam kitab I’anah al-Thalibin diperinci lagi bahwa Lailatul Qadr, menurut Madzhab Syafii, tidak pindah-pindah tanggalnya setiap tahun. Dari sepuluh hari terakhir Ramadhan mesti ada satu malam tertentu yang ditetapkan sebagai Lailatul Qadr dan terus menjadi ketetapan setiap tahunnya. Kata Imam al-Bujairami (w. 1221 H.): “Jadi, misalnya, jika telah ditetapkan Lailatul Qadr itu jatuh pada malam tanggal 21 maka setiap tahunnya tanggal itu menjadi Lailatul Qadr-nya. Tapi imam Nawawi (w. 676 H.) dan ulama lainnya tidak sepakat. Menurut imam Nawawi, Lailatul Qadr sebenarnya berpindah-pindah setiap tahunnya. Tapi perpindahan itu masih di sekitar sepuluh hari terakhir. Tidak pindah ke luar sepuluh hari terakhir. Adakalanya malam ganjil dan ada kalanya malam genap. Kata imam al-Kurdi (w. 1194 H.), pendapat imam al-Syafii (w. 204 H.) yang mengkompilasikan hadits-hadits tentang Lailatul Qadr mengarah kapada kesimpulan imam Nawawi ini.

Imam al-Ghazali (w. 505 H.) dan beberapa ulama lainnya, sebagaimana dikutip dalam kitab I’anah al-Thalibin jilid 2 halaman 257, mengatakan Lailatul Qadr dapat diketahui dari hari tanggal 1 Ramadhan. Jika tanggal 1 jatuh pada hari Ahad atau hari Rabu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 29 Ramadhan. Jika tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 21 Ramadhan. Jika tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Selasa atau Jumat maka Lailatul Qadr jatuh pada malam 27 Ramadhan. Jika tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 25 Ramadhan. Dan jika tanggal 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 23 Ramadhan. Kata Syaikh Abu al-Hasan (guru dari pengarang kitab I’anah), “Semenjak usiaku dewasa aku belum pernah terlewatkan Lailatul Qadr dengan berpatokan pada kaidah (yang digagas imam Ghazali dan lainnya) ini.”

Tapi, selain imam Al-Ghazali dan kawan-kawan, ada ulama lain yang mempunyai kaidah yang berbeda dalam menentukan Lailatul Qadr. Yaitu jika awal Ramadhan jatuh pada hari Jumat maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 29 Ramadhan. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 21 Ramadhan. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 27 Ramadhan. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 29 Ramadhan. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 25 Ramadhan. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Rabu maka Lailatul Qadr jatuh pada malam tanggal 27 Ramadhan. Dan jika awal Ramadhan jatuh hari Kamis maka Lailatul Qadr jatuh pada malam 21 Ramadhan.

Perbedaan para ulama dalam menentukan jatuhnya Lailatul Qadr, baik dari segi metode dan hasilnya menunjukan kesungguhan atau ijtihad mereka dalam mencari Lailatul Qadr. Bukankah Rasulullah Saw pun dilukiskan dalam hadits; “yajtahidu (يَجْتَهِدُ),” berijtihad. Yakni mujahada (bersungguh-sungguh) tersistem di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Tentu kita mesti lebih bersungguh-sungguh lagi. Karena yang sesungguhnya terjadi, Lailatul Qadr tetaplah “wa ma adraka ma lailatul qadr.” Tetap rahasia selamanya. Karena keistimewaannya pada kerahasiaannya itu.

Yang penting dari riset-riset ulama sebagai realisasi dari perintah Rasulullah Saw mencari Lailatul Qadr adalah berusaha keras, sungguh-sungguh, dan ijtihad. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 973 H.) mengatakan, hikmah kerahasiaan Lailatul Qadr adalah menghidupkan seluruh malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Karena yang dikehendaki dari Lailatul Qadr sendiri bukanlah Lailatul Qadr-nya, tapi Allah-nya.

Nabi Zakaria sampai usianya sudah sangat tua tak pernah bosan berdoa meminta keturunan kepada Allah. Dan dilukiskan dalam surah Maryam ayat 4, meski selama berpuluh-puluh tahun doanya tak dikabulkan, Nabi Zakaria tidak pernah kecewa berdoa kepada-Nya. Ini karena yang terpenting dari doa bagi hamba bukan dikabulkannya tapi Allah ridho padanya.

Dan kita kendati telah berulang kali i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan tidak pernah kecewa meski tak kunjung dipertemukan dengan Lailatul Qadr. Semoga itu pertanda i’tikaf kita ikhlas.

Masjid An-Nahl The Icon BSD City
Ahad 27 Mei 2018 / 11 Ramadhan 1439

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip