MENSILATURRAHIMKAN HAFALAN AL-QURAN

MENSILATURRAHIMKAN HAFALAN AL-QURAN

Oleh: @deden_mm

 

Sering kali hafalan Al-Quran para santri banyak menanggung beban hidup yang berat setelah tak lagi berada di pesantren. Setelah jauh dari kiyai dan setelah berpisah dengan sahabat-sahabat murojaahnya. Bayangkan santri yang dari kecil tumbuh di zona aman tahfizh dan habitat Al-Quran lalu kini setelah menjadi alumni harus bertarung di dunia luar yang kejam. Tak jarang kemudian ada yang hafalan Qurannya sakit keras, kritis, koma, sekarat, terus melemah, berukurang, dan tak berumur panjang.

 

Jika Idul Fitri adalah momentum silaturrahim maka hafalan Al-Quran lebih perlu disilaturrahimkan dengan guru (kiyai) yang dahulu mengambil darinya. Perlu dihalalbihalalkan dengan teman-teman murojaahnya. Agar hafalan tersebut panjang umur dan menjadi alasan diluaskan rizqi. Alumni sebuah pesantren tahfizh yang hafalannya sudah rusak kadang malu dan takut bertemu gurunya. Takut ditanya tentang hafalannya. Takut dites dan takut disuruh tasmi. Intinya takut ketahuan kalau Qurannya sudah rusak lalu sang guru pun bersedih.

 

Tidaklah demikian keadaan yang sebenarnya. Setiap hafalan Al-Quran harus disilaturrahimkan. Apalagi yang keadaannya sudah tak terjaga lagi. Semakin tak terjaga semakin membutuhkan silaturrahim. Misalnya hilang entah kemana dan harus dari mana lagi memulai. Melihat wajahu guru itu memutqinkan hafalan. Memompa semangat untuk bermurojaah dan menghafalkan lagi. Apalagi doanya. Pasti sangat dahsyat. Juga silaturahimkan hafalan dengan para ulama hafizh Al-Quran yang sudah terbukti istiqamah mengamalkan hafalannya.

 

Rasulullah Saw pernah kehilangan kontak dengan “gurunya” beberapa hari. Yaitu guru beliau yang khusus ditugaskan oleh Allah sebagai muhaffizh yang hanya menyampaikan ayat-ayat-Nya. Tidak ada yang ditambahkan dan tidak ada yang dikurangi. Dialah malaikat Jibril. Hati beliau gelisah karena silaturrahim dengan guru yang entah karena sebab apa terputus beberapa hari. Biasanya tidak semata-mata ada masalah kecuali langsung turun membawa ayat untuk menjawabnya. Tapi kali ini tidak. Masalah pun semakin rumit. Lalu ketika beliau sudah merasa Allah Swt meninggalkannya, malaikat Jibril pun turun membawa surah al-Dhuha yang mencerahkan.

 

“Demi waktu dhuha. Demi malam ketika sunyi. Tidaklah Tuhanmu meninggalkanmu dan tidak pula membencimu…”

 

Demikian pula dengan para sahabat Rasulullah Saw. Tak melihat wajah beliau dalam sehari adalah keresahan. Shalawat menjadi penghubung hati yang rindu kepada beliau yang merobek jarak dan waktu. Ali bin Abu Thalib, dalam hadits riwayat al-Thabrani, bersilaturrahim kepada gurunya, yaitu Rasulullah Saw, seraya mengadukan hafalan Qurannya yang mudah lepas. Lalu muncul perintah yang dalam tradisi menghafal Al-Quran di pesantren dikenal dengan “Shalat Li Hifzhil Quran.” Yaitu shalat malam untuk menguatkan dan menjaga hafalan Al-Quran.

 

Imam al-Syafii (w. 204 H.) dalam syair yang populer di kalangan para kiyai dan santri tentang amalan agar hafalan bagus mengisahkan bagaimana pertemuan dirinya dan konsultasi dengan sang guru, yaitu imam Waki’, membuka solusi untuk hafalannya. Pada penggalan pertama imam al-Syafii mengatakan: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang hafalanku yang buruk…” Yakni hafalan yang buruk adalah hafalan yang tengah perlu-perlunya bertemu guru. Bersilaturrahim dengannya. Segera datangi. Bahkan tak perlu menunggu Idul Fitri kalau bisa.

 

Wallahu A’lam

 

Sadeng, 18 Juni 2018, 4 Syawal 1439

Halal Bihalal Akbar Alumni PPTQ Al-Mustaqimiyyah

Bagikan