MUDIK DALAM AL-QUR’AN (Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 85)

MUDIK DALAM AL-QUR’AN
(Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 85)
Oleh: @deden_mm

Banyak hal terjadi Syawal ini. Kalaulah terjadi pada masa Nabi tentu sudah banyak ayat yang turun menjawabnya. Murajaah saya kali ini “tersangkut” di surah Al-Qashash ayat 85. Seakan-akan baru turun menjawab masalah mudik lebaran. Padahal turun di Juhfah, sebuah daerah antara Mekah dan Madinah, dalam perjalanan hijrah Rasulullah saw. Beliau, saat itu, sangat sedih karena harus pergi meninggalkan tanah kelahiran beliau, Makkah. Beliau sangat menginginkan bisa pulang suatu hari nanti. Ayat ini pun turun berisi janji, bahwa nanti, Allah swt benar-benar akan memulangkan beliau ke kampung halaman yang dirindukan itu.

Para mufassir mempunyai pandangan yang beragam tentang pengertian “kampung halaman” atau yang dalam ayat ini disebut “ma’ad” (ٌمَعَاد). Mayoritas mengatakan Makkah. Menurut imam Ar-Razi (w. 606 H.) penafsiran ini sangat pas dengan konteks nuzul (turun). Dan Ma’ad sebagai Makkah bisa berarti tanah kelahiran. Karena semua orang tentu mempunyai tanah kelahiran juga tanah rantau, sedang tanah kelahiran Rasulullah saw adalah Makkah. Dapat pula diartikan bahwa Makkah adalah kampung halaman semua manusia. Nusantara, misalnya, hanya tanah rantau orang Indonesia saja. Saat mereka ziarah ke Makkah, saat itulah mereka mudik. Oleh karenanya jangan heran kalau banyak orang mukmin yang merindukan Makkah melebihi tanah kelahirannya. Lalu, melalui ayat ini, Allah berjanji akan memulangkan mereka.

Selain Makkah, Kampung Halaman yang dimaksud dengan ma’ad (مَعَادٌ) adalah juga:

1. Baitul Maqdis (al-Aqsha) sebagaimana tafsir Nu’aim al-Qari (w. 169 H.)
2. Kematian sebagaimana tafsir Ibnu Abbas (w. 68 H.) dan Ikrimah (w. 105 H.)
3. Hari Kiamat sebagaimana tafsir Hasan Al-Bashri (w. 110 H.)
4. Surga sebagaimana tafsir Abu Sa’id Al-Khudri (w. 74 H.)

Inilah mengapa orang-orang mukmin sangat merindukan Baitul Maqdis, merindukan Kematian, merindukan Hari Kiamat, dan merindukan surga seperti merindukan Makkah seakan-akan semuanya satu wujud dengan mereka. Dalam bentang sejarah tak pernah ada orang mukmin yang rela Makkahnya dijajah Amerika, Baitul Maqdisnya dirampas Yahudi, syahidnya dihalangi syahwat dunia, kiamatnya terhalang tabu’at (dosa dengan sesama manusia), atau surganya terabaikan. Karena semuanya adalah kampung halaman manusia. Jika ada orang yang rindu ke kampung halamannya, maka kerinduan seorang mukmin kepada Makkah, Baitul Maqdis, Kematian, Hari Kiamat, dan Surga melebihi kerinduannya kepada tanah kelahirannya. Tentu segala persiapan pun diperjuanhkan.

Allah swt memang berjanji akan memudikkan Rasulullah saw, juga manusia seluruhnya, kepada ma’ad (مَعَادٌ). Tapi, rupanya, dengan kata ma’ad ini, mudik yang akan berikan Allah tidak sederhana. Bukan sembarang mudik dan bukan sembarang pulang kampung. Mari perhatikan redaksi ayatnya juga rangkaian cerita dalam suratnya. Ayat mudik berada di bagian akhir surah Al-Qashash. Sedang di pembuka surat, Allah mengemukakan janji kepada Ibu Nabi Musa dan perintah menghanyutkan Nabi Musa ke sungai Nil. Bahwa Allah akan mengembalikan Musa ke pangkuannya. Kemudian Allah mengisahkan perjalanan bagaimana janji-Nya itu terealisasi dengan cara Allah, bukan dengan cara yang diinginkan Ibu Nabi Musa. Karena Allah menghendaki agar kembalinya Musa menjadi alasan runtuhnya rezim Firaun, jatuhnya Qarun, selamatnya Bani Israel, dan muqaddimah peradaban baru yang maju.

Perjalanan Nabi Musa dalam membuktikan janji Allah, dari awal hingga akhir surah Al-Qashsash, adalah bagian dari ayat-ayat Allah yang dbacakan kepada Rasulullah saw sebagaimana pesan tersirat dari Tha-Sin-Mim (طٓسٓمٓ). Seakan-akan Allah swt berkata, “…maka, hai Muhammad, sebagaimana telah Kurealisasikan janji-Ku kepada Musa dan Ibu-nya, akan Kurealisasikan pula janji-Ku padamu. Bahwa kamu akan kembali kepada ma’ad (مَعَادٌ) sebagaimana kembalinya Nabi Musa yang menjadi tanda lahirnya peradaban baru.”

Dalam ayat mudik, sebagai bentuk penguatan realisasi janji, Allah menyebut diri-Nya dengan “Yang menurunkan Al-Qur’an padamu.” Yakni, ada hubungan yang erat antara mudik Rasulullah Saw dengan Al-Qur’an. Karena tak lain Al-Quran adalah bukti yang nyata akan kebenaran janji itu. Yang menarik, ada kata pada ayat mudik ini yang tak lazim untuk makna menurunkan, yaitu kata “faradha (َفَرَض).” Karena, secara harfiyah, artinya memfardhukan (mewajibkan), bukan menurunkan. Hal ini menunjukan bahwa terealisasinya janji Allah meniscayakan adanya interaksi manusia dengan Al-Qur’an. Dengan kata lain, tidak semata-mata ada ayat yang turun, kecuali ayat itu mendekatkan janji tersebut, semakin banyak ayat, semakin dekat pula janji-Nya. Itulah, sebagaimana dikemukakan imam Al-Mawardi (w. 450 H.), rahasia di balik penggunaan kata faradha (فَرَضَ) yang mempunyai makna asli mengukur dan menentukan kadar waktu yang dibutuhkan sesuai dengan kejadian.

Pola interaksi apa yang harus dilakukan manusia dalam menjemput janji Allah tentang ma’ad (مَعَادٌ)? Ya, tentu pola interaksi “faradha (فَرَضَ).” Para mufassir mempunyai beragam penafsiran dalam memaknai “faradha” pada ayat mudik. Yaitu:

1. Menurunkan sebagaimana tafsir Yahya bin Salam (w. 200 H.) dan Al-Farra (w. 207 H.)
2. Memberikan sebagaimana tafsir Mujahid (w. 104 H.)
3. Mewajibkan mengamalkan Al-Qur’an sebagaimana tafsir al-Naqqash (w. 351 H.)
4. Memikirkan tangung jawab menyampaikan dan mentablighkannya sebagaimana tafsir Ibnu Syajarah (w. 350 H.)
5. Menjelaskannya melalui lisan Rasulullah saw tafsir Ibnu Bahr (w. 322 H.)

Tapi, saya melihat, sebagaimana kesimpulan al-Mawardi (w. 450 H.) di atas, Al-Qur’an turun secara “faradha,” bertahap dalam waktu yang ditentukan sesuai kejadian pada periode turun. Karenanya, pola interaksi yang mendatangkan janji Allah, bahwa Rasulullah saw akan pulang ke Makkah, fathu Makkah, dan bangkitnya peradaban yang maju adalah pola interaksi dengan Al-Qur’an seumur hidup. Yaitu dibaca dan dihafalkan bersamaan dengan mengamalkan seayat-seayat. Itulah makna “faradha.”

Akan banyak yang tidak percaya pada janji Allah di atas. Bagaiamana bisa hanya bermodalkan Al-Quran menjadi bukti akan bangkitnya peradaban besar. Tapi, sekali lagi, ini hanyalah masalah faradha, atau waktu. Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw, pada penggalan kedua ayat mudik ini, bahwa yang akan sampai ke tujuan hanyalah yang mengambil jalan sesuai petunjuk yang benar, bukan yang tersesat, dan Allah mengetahui siapa yang datang membawa petunjuk dan siapa yang tersesat.

Tradisi mudik lebaran mestinya mengingatkan pada “mudik peradaban,” bukan “peradaban mudik.” Juga mengingatkan pada pola interaksi dengan Al-Qur’an seumur hidup. Mudik tak bisa mengabaikan murajaah Al-Qur’an. Dalam mudik lebaran ada silaturrahim dan maaf yang tulus. Keduanya adalah kekuatan besar. Alangkah aneh kalau tidak membentuk pola interaksi dengan Al-Qur’an yang hebat. Insyaallah.

Demikian, selamat mudik.
Wallahu A’lam

Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip