TAK SEKADAR SERIBU BULAN (Tafsir Surah al-Qadr Ayat 3 Bagian 1)

TAK SEKADAR SERIBU BULAN
(Tafsir Surah al-Qadr Ayat 3 Bagian 1)
Oleh: @deden_mm

لَيلَةُ القَدْرِ خَيرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.

Ayat ini menjelaskan bagian terpenting dari sifat Lailatul Qadr yang tidak terjangkau pengetahuan dalam kalimat wa adraka (مَا أَدْرَاكَ). Yaitu kenyataan Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. Tidak akan ada yang tahu kebaikan Lailatul Qadr yang melebihi kebaikan seribu bulan tanpa penjelasan Allah dalam ayat ini.

Kosakata dalam ayat ini yang diterjemahkan dengan kata “lebih baik” adalah kata “khair (خَيرٌ).” Sebelum bermakna “lebih baik,” khair bermakna “kebaikan.” Lawan dari kata syarr (شَرٌّ). Artinya kejahatan. Ibnu Qayim al-Jauziyah (w. 751 H.) membuat definisi yang menjelaskan makna kata syarr yang kmofrehensif. Ia mengatakan: “Syarr adalah rasa sakit dan penyebab-penyebabnya.” Adzab Allah Swt adalah rasa sakit maka disebut syarr (kejahatan). Dan segala perbuatan yang menyebabkan datangnya adzab juga kejahatan (syarr). Lalu khair, dengan mengacu kepada definisi Ibnu Qayyim, adalah rasa senang (bahagia) dan penyebab-penyebabnya.”

Dengan kata lain khair (خَيرٌ) menunjuk kepada segala proses dan hasilnya. Segala yang mempunyai harga disebut khair. Karena ada rasa senang dan kemewahan di dalamnya. Baik dalam proses maupun dalam hasilnya. Membandingkan Lailatul Qadr dengan seribu bulan adalah perbandingan kebaikan. Yakni yang dimaksud dengan seribu bulan bukanlah bulan bisa, tetapi seribu bulan yang padat dengan segala kebaikan. Karenanya disebut alfi syahr (seribu bulan) bukan 83 tahun empat bulan.

Kata alfi (أَلْفِ), selain menunjuk kepada angka dengan nilai seribu, menyimpan makna kemakmuran, kesenangan, dan cinta. Bahkan banyak ahli tafsir yang memaknai alfun (ألْفٌ) tak lagi dengan nilai seribu, tetapi nilai tinggi yang tak pernah ada ukuran standarnya kecuali meminjam kata seribu. Sedang kata syahr (شَهْرٌ) berasal dari kata syuhrah (شُهْرَةٌ). Artinya kemasyhuran, kemajuan pesat, peningkatan yang dinamis yang tak pernah surut. Yakni alfu syahr (أَلْفِ شَهْرٍ) adalah rentang waktu yang panjang nan aktif dan produktif memproses dan menghasilkan al-khair. Ini tak bisa diganti dengan 83 tahun 4 bulan meski setara karena di dalam tahun selalu ada pasang surut dan tak selalu khair. Oleh karenanya kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan yang sulit dalam sebuah jangka waktu disandingkan dengan tahun. Tidak dengan bulan. Misalnya tahun peceklik. Tidak ada bulan peceklik.

Dalam pendahuluan tafsir surah al-Qadr ini penulis sempat mengutip cerita seorang lelaki dari Bani Israil yang aktif dan produktif beribadah kepada Allah selama seribu bulan. Seluruh malamnya dihabiskan untuk shalat malam dan seluruh siangnya dihabiskan untuk berjihad. Sungguh pencapaian yang sangat menakjubkan. Bulan-bulan sang lelaki inilah yang masuk kategori alfu syahr (أَلْفُ شَهْرٍ). Benar-benar sesuatu yang sulit dilakukan orang biasa. Bahkan seandainya ada dari umat ini yang diberikan usian 83 tahun 4 bulan maka rasanya tidak akan mampu mengisi seluruh waktunya dengan aktivitas ibadah seutuhnya seperti laki-laki itu.

Riwayat lain tentang alfu syahr (أَلْفُ شَهْرٍ) dalam kitab-kitab tafsir menyebutkan ada empat orang di masa lalu yang beribadah kepada Allah selama 80 tahun dan belum pernah maksiat satu kali pun. Yaitu Nabi Ayyub, Nabi Zakariya, Nabi Hizqil, dan Nabi Yusya. Yakni 80 tahun yang termasuk kategri alfu syahr adalah 80 tahun yang tak pernah tersentuh maksiat satu kali pun dan sedikit apa pun.

Selain pencapain gemilang dalam bidang amaliah ibadah akhirat, produktivitas “alfu syahr (ألْفُ شَهْرٍ)” pun meliputi pencapaian gemilang dalam ibadah keduniaan. Pada masa lalu, sebelum turun Al-Quran dan sebelum lahir Rasullah Saw, ada dua kerajaan besar yang paling makmur. Tidak ada lagi kerajaan yang makmur sebelum dan setelahnya. Kekuasaannya terbentang dari ujung Timur ke ujung Barat. Seluruh belahan dunia dikuasainya. Yaitu kerajaan Nabi Sulaiman dan Kerjaan Dzul Qarnain. Jarak tempuh perjalanan 1 bulan dapat ditempuh oleh Nabi Sualaiman hanya dalam satu pagi atau setngah hari. Dan Dzul Qarnain telah sampai ke bagian bumi tempat terbenam matahari dan tempat terbit matahari. Keadilan ditegakkan di setiap tempat yang dipijaknya. Adil dan makmur seluruh rakyat yang dipimpinnya. Bahkan seekor semut pun tidak ada yang terzalimi.

Usia Kerajaan Nabi Sulaiaman dan Raja Dzul Qarnain yang hebat masing-masing 500 bulan. Sehingga digabungkan menjadi 1000 bulan. Pencapaian gemilan dua kerjaan besar inilah yang termasuk alfu syahr dalam hal ibadah amaliah dunia. Tidak ada kerajaan lain yang mengalahkannya. Kerajaan Babilonia, Persia, Romawi, Mesir, dan Cina tidak masuk nominasi. Karena, kendati mereka lebih lama berkuasa, tapi kekuasaan mereka tak identik dengan keadilan dan kesejahtraan. Melainkan lebih banyak zalimnya. Hal ini terlihat dari peninggalan-peninggalan kezaliman mereka yang berdiri kokoh di kota-kota yang mereka duduki.

Dengan demikian yang diperbandingkan dengan alfu syahr (ألْفُ شَهْرٍ) sebenarnya bukanlah Lailatul Qadr-nya semata tetapi lebih kepada amaliah dunia dan akhirat yang dilakukan di dalamnya. Demikian kira-kita kesimpulan dari tafsir-tafsir para ulama tentang maksud Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan. Yakni ada amal satu malam yang lebih baik dari pencapaian gemilang seribu bulan orang-orang hebat terdahulu. Silahkan bayangkan betapa besarnya nilai malam itu.

Pantas kalau kemudian Rasulullah Saw tak pernah kendur bersemangat dan bersungguh-sungguh mengisi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan i’tikaf, sedekah (ibadah dunia), dan membaca Al-Quran (ibadah akhirat) guna menggapai aktivitas dan produktivitas proses dan pencapaian gemilang dunia dan akhirat yang lebih baik dari alfu syahri ibadah akhirat Nabi Ayyub, Nabi Zakaria, Nabi Hizqil dan Nabi Yusya yang tak pernah maksiat, juga lebih baik dari alfu syahri ibadah dunyawiyah Kerajaan Nabi Sulaiman dan Kerajaan Dzul Qarnain.

Penulis tidak membayangkan kalau ada umat Nabi Muhammad yang tidak bersungguh-sungguh mengisinya. Karena tentu kerugiannya pun setara kerugian yang diterita orang selama seribu bulan. InSyaAllah pada bagian berikutnya dari tafsir surah al-Qadr ayat 3 ini akan penulis uraikan amalan-amalan Lailatul Qadr dan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk menggapai “khairun min alfi syahrin.”

Masjid An-Nahl The Icon BSD City
Sabtu 2 Juni 2018 / 17 Ramadhan 1439

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip