Adzab Untuk Umat Yang Pecah

ADZAB UNTUK UMAT YANG PECAH
(Tafsir Surah Ali Imron Ayat 105 dan 106)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Dalam Al-Quran disebutkan ada adzab yang besar. Disebut ‘adzabun ‘azhim (عَذَابٌ عَظِيمٌ). Terulang sebanyak empat belas kali. Dan semuanya, jika diamati dengan melihat munasabahnya, diperuntukan bagi umat yang pecah. Dan hari ini, disadari atau tidak, umat Islam di Indonesia, atau bahkan seluruh Dunia, dalam keadaan pecah. Tidak satu suara. Hanya karena berbeda madzhab atau pandangan politiknya. Mungkin kita mengira keadaan pecahnya umat ini biasa-biasa saja. Tapi nyatanya tidak demikian. Jika melihat adzab-nya, dosa umat yang pecah amatlah besar. Adzabnya pun sangat besar.

Umat yang pecah sebelum umat adalah Yahudi dan Nashrani. Dalam sebuah hadits, Yahudi pecah 71 golongan dan Nashrani pencah 72 golongan. Allah Swt melarang keras Umat Islam pecah dan mewajibkan mereka bersatu melalui surah Ali Imron ayat 100 sampai 108. Larangan paling keras terdapat pada ayat 105. Yaitu firman Allah Swt yang terjemahannya sebagai berikut:

وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ البَيِّنَاتُ وَأُولٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang pecah dan berselisih setelah datang kepada mereka ayat-ayat yang nyata, dan bagi mereka itulah adzab yang besar.

Pecah diungkapkan dengan kata tafarraqu. Yakni pecah berfirqah-firqah. Atau menjadi berkelompok-kelompok disebabkan perbedaan. Dan berselisih diungkapkan dengan ikhtalafu. Yakni perbedaan pendapat yang dipicu oleh perpecahan. Tampaknya perbedaan pendapat bukanlah perselisihan yang dilarang selama tidak memicu perpecahan atau dipicu oleh perpecahan.

Dengan kata lain, dalam ayat ini ada dua kriteria perbedaan yang dilarang:

       1. Perbedaan pendapat yang dipicu perpecahan

       2. Perbedaan pendapat yang memicu perpecahan.

Pecah membuktikan perbedaan yang terjadi muncul dari hawa nafsu. Meski terus berdalih dan berkilah bahwa itu bukan dari hawa nafsu. Bahkan kilah ini bagian dari propaganda nafsu. Parahnya, kalau sudah begini, ayat-ayat Allah yang nyata tak lagi menjadi kebenaran yang mempersatukan tapi dijadikan pembenaran yang memecah belah. Sekaligus memutus harapan untuk bisa bersatu kembali karena pecahnya menjadi beralasan. Masing-masing merasa memihak kebenaran.

Di penutup ayat ini Allah nyatakan bahwa bagi mereka, yakni umat yang pecah, ada adzab yang besar. Lalu pada ayat berikutnya, yakni ayat 106 dari surah Ali Imran, Allah Swt menjelaskan waktu terjadinya adzab yang besar itu berikut kondisi mengerikan yang dialami para penerimanya. Yaitu:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ

Pada hari wajah-wajah memutih dan wajah-wajah yang lain menghitam…

Yang dimaksud memutih adalah berseri-seri. Bercahaya. Yaitu wajahnya orang-orang mukmin yang bergelimang kenikmatan. Dalam konteks ayat ini, adalah orang-orang yang keimanannya membuat mereka bertahan tanpa pecah. Dengan kata lain, umat yang bersatu. Wajah yang berseri-seri melukiskan hati yang penuh dengan kebahagiaan yang begitu dalam sampai terlihat di wajahnya.

Di saat yang bersamaan, wajah-wajah umat yang tidak bersatu menghitam. Yakni pucat pasi. Gelap. Melukiskan penderitaan di hati yang begitu mendalam. Inilah permulaan adzab yang sesuai dengan dosa umat yang pecah akibat hatinya dahulu menyimpan kebencian, kedengkian, ketidaksukaan, dendam, dan permusuhan. Sesuatu yang diyakininya benar ternyata tak menyelamatkannya sedikit pun, karena dibangun atas dasar perpecahan.

Yang dimaksud dengan wajah sebenarnya bukan hanya wajahnya, tapi seluruh tubuhnya. Hanya saja, dari semua anggota tubuh, hanya wajah yang dapat membedakan antara satu orang dengan yang lain. Bahkan sejak zaman Manusia Pertama sampai Manusia Terkahir tidak ada wajah yang sama. Mungkin ada yang mirip seperti kembar. Tapi tetap bisa dibedakan setelah lama dan berulang kali melihatnya. Karenanya wajah jadi mewakili.

Yakni, tampaknya, kosakata wajah ini hendak menyampaikan pesan bahwa perbedaan tak semestinya memicu perpecahan. Wajah boleh beda, dan pasti beda. Demikian pula sudut pandang, pendapat, pemikiran, warna kulit, etnis, kebiasaan, dan lain sebagainya. Tapi bukan alat untuk menjadi pecah. Melainkan justru alat untuk bersatu. Agar dapat berseri-seri di dunia dan akhirat.

Adzab bagi umat yang pecah ini sangat mengerikan lagi di penutup ayat 106. Yaitu:

فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانِكُمْ فَذُوقُوْا العَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ

… maka adapun orang-orang yang wajahnya menghitam maka (dikatakan kepada mereka), apakah kamu kufur setelah iman. Maka rasakanlah adzab itu disebakan kekufuranmu.

Yakni, umat yang pecah itu, pada mulanya, adalah umat yang beriman. Tapi keimanannya menjadi landasan perpecahannya. Mereka, tak lain, pada zaman sebelum Al-Quran turun, adalah Yahudi dan Nashrani. Ayat-ayat Allah sangat jelas. Mengajak mereka menyembah hanya kepada satu Tuhan. Mengajak bersatu. Tapi kemudian justru ayat-ayat pemersatu itu menjadi alasan bagi mereka untuk pecah. Sungguh iman yang aneh. Juga Pemahaman yang aneh.

Dengan, kata lain, bahayanya adalah, tidak semata-mata suatu umat pecah dikarenakan keimana dan pemahaman yang aneh terhadap ayat-ayat Allah, maka tidaklah pecah kecuali sebenarnya dengan pecahnya tersebut, mereka sudah tak beriman lagi. Atau bahasa ekstrimnya kufur. Pecahnya Yahudi dan Nashari menunjukan kekufurannya meski, mungkin sampai hari ini, mereka mengaku beriman kepada ayat-ayat Allah dalam kitab Taurat dan Injil.

Demikian pula umat Islam yang pecah. Ini mengkhawatirkan. Bisa saja secara zhohir, rajin sholatnya. Juga ibadah-ibadah yang lain. Dan orang-orang menganggap sholeh. Dan memang harus dianggap beriman karena kita tidak dibebani harus mengetahui dalam hatinya. Tapi hanya Allah SWT yang tahu apakah kesalehannya itu dapat mempertahankan imannya sampai akhir hayat, atau disebut husnul khotimah.

Ayat ini seram, karena tampaknya perpecahan atas nama ayat-ayat Allah menyebabkan su’ul khotimah sebagaimana menimpa Yahudi dan Nashrani zaman dahulu. Orang mukmin yang berniat mendirikan partai rasanya tidak akan sanggup melakukannya kalau sedikit saja melihat ada gejala partainya akan memecahbelah umat. Pemilik partai-partai yang sudah ada pun siap menutup partainya jika melihat gejala perpecahan. Demikian pula para paslon. Mereka akan urung mencalonkan kalau menyebabkan umat pecah. Biar partai itu satu. Paslon pun satu. Tapi, maaf, ini hanya perasaan saya saja. Dan, sekali lagi, kalau melihat gejala memecah belah umat, dan jika ada iman.

Demikian, semoga ayat ini menjadi benteng kita untuk tetap bersatu. Khususnya menjelang tahun politik ini. Silahkan baca ayatnya. Taitu surah Ali Imran ayat 105 dan 106. Bahkan abaikan saja tulisan saya ini yang mungkin ada salah. Tapi dengan merujuk langsung kepada ayatnya, pesan persatuan akan terasa lebih dalam. Karena seakan Allah langsung yang menasehatinya.

InSyaAllah, berikutnya, akan saya jelaskan bagaimana memahami hadits Rasulullah Saw yang meramalkan umat ini akan pecah menjadi 73 golongan.

Wallaahu A’lam.

Bagikan