Ganjaran Untuk Umat Yang Bersatu

GANJARAN UNTUK UMAT YANG BERSATU
(Tafsir Surah Ali Imran Ayat 107)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Ayat sebelumnya menyebutkan adzab untuk umat yang pecah dan waktu kejadiannya, sedang ayat ini menyebutkan pahala untuk umat yang bersatu dan waktu kejadiannya yang bersamaan dengan waktu kejadian adzab untuk yang pecah. Orang yang sedang kehausan, rasa hausnya akan semakin menyiksa apabila pada saat yang bersamaan melihat orang lain menghambur-hamburkan air seenaknya. Demikian pula umat yang pecah, adzabnya akan semakin menyiksa karena pada saat yang bersamaan melihat umat yang bersatu bergelimang kenikmatan dan kebahagiaan. Umat yang bersatu pun akan lebih merasakan besarnya nikmat ketika melihat adzab dan penderitaan menimpa umat yang pecah. Bukankah makan seadanya pun akan menjadi terasa nikmat apabila tahu ada orang lain yang tidak bisa mendapatkan makan sama sekali.

Umat yang bersatu, sebagaimana pula telah disebutkan secara sepintas pada ayat sebelumnya, disebutkan secara jelas pada ayat ini dengan umat yang wajahnya putih berseri. Kebahagiaan dalam hatinya sampai terlihat di wajahnya. Yaitu hati penuh cinta yang dahulu menjadi perekat persatuan. Allah Swt. berfirman:

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan adapun orang-orang yang putih berseri wajahnya maka berada dalam rahmat Allah. Mereka kekal di dalamnya. (QS Ali Imran: 107)

Kata rahmat pada ayat ini ditafsirkan oleh para ulama dengan surga. Yakni, pahala umat yang bersatu adalah surga yang mereka kekal di dalamnya. Tapi peminjaman kata rahmat untuk makna surga, selain tak lazim ditemukan dalam Al-Quran, juga untuk melukiskan betapa rahmat Allah lebih penting dari surga-Nya. Dia lebih luas dari sekadar kenikmatan jasmani. Bahkan mencakup seluruh semesta. Juga bukan hanya di akhirat, tapi juga di dunia. Rahmat Allah yang dipinta dan butuhkan oleh semua makhluk ternyata diberikan oleh Allah kepada umat yang bersatu. Tidak kepada yang lain. Meminta rahmat tapi tidak bersatu maka sebenarnya telah menolak rahmat. Rahmat adalah kata sempurna untuk kasih sayang. Dan tiada yang paling merekatkan persatuan dan persaudaraan melebih kasih sayang yang sempurna ini. Bahkan perbedaan pendapat pun adalah rahmat jika tidak menyebabkan perpecahan.

Persatuan umat yang menyebabkan suatu negeri bergelimang rahmat. Benar, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, berkat rahmat Allah inilah yang menyebabkan Indonesia merdeka. Yakni, untuk merusaknya kembali, cukup dengan melepas persatuannya. Rahmat pun dicabut. Indonesia rusak. Dan untuk memakmurkannya, cukup dengan mepertahankan dan mempererat persatuan. Maka rahmat Allah turun lebih deras lagi. Bahkan rahmat ini terbawa ke akhirat. Makmur dan bahagianya bukan hanya di dunia saja, tapi sampai ke akhirat. Yaitu surga yang menjadi tempatnya segala rahmat. Mereka kekal di dalamnya sekekal persatuan yang mereka pertahankan selama di dunia. Shalat pun berjamaah, makmur berjamaah, dan masuk surga pun berjamaah.

Ketika Allah Swt menyebutkan umat yang bersatu mendapatkan pahala berupa rahmat pada ayat ini maka Allah menggunakan kata (في). Artinya di dalam. Tidak disebutkan peroses dan kapan masuknya. Tiba-tiba sudah berada di dalam. Saking cepatnya. Dan tanpa menunggu waktu. Kata (في) mempunyai pengertian tidak ada celah sedikit pun untuk keluar dari rahmat bagi yang berada di dalamnya. Karena tentu rahmat Allah sangatlah luas. Yakni, segala sisinya adalah rahmat. Ibarat air, umat yang bersatu seperti ikan yang ada di dalamnya. Atau ibarat udara bagi segala makhluk yang di darat. Yakni, dengan kata lain, rahmat menjadi habibat umat yang bersatu. Mereka bernafas dengan dan di dalam rahmat. Di dunia dan akhirat. Indonesia adalah gelas persatuan yang berisi rahmat di mana rakyat hidup makmur di dalamnya. Untuk menghilangkan rahmat dari gelas tidak usah menumpahkannya, tapi cukup lubangi gelas persatuannya walau sedikit, maka rahmatnya akan habis. Dan seluruh isinya akan kesusahan. Bahkan akhirnya tak bisa hidup. Apalagi gelas persatuannya pecah. Dan, selama tidak pecah, maka rahmat itu kekal.

Tampaknya, selain yang telah penulis jelaskan di atas, peminjaman kata rahmat untuk makna surga adalah untuk melukiskan betapa rahmat Allah tercurah untuk umat yang bersatu melebihi amalnya. Bisa jadi dalam tubuh umat yang bersatu ada orang yang amal ibadahnya sangat kurang, atau banyak dosa, tidak dapat membeli surga dengannya, maka Allah tetap anugerahkan surga untuknya sebagai rahmat dari-Nya, bukan karena cukup amalnya. Karena persatuan yang dipertahankannya menyebabkan amal kecil menjadi besar dan cukup. Inilah untungnya berjamaah, saling memberikan syafaat, dan saling menutupi kekurangan. Hal ini menunjukan bahwa persatuan adalah ibadah yang mampu membeli segalanya. Bagaimana tidak, rahmat Allah termahal saja bisa diraih dengannya. Bukankah uang 1000 rupiah sangat kecil, tapi bagaimana kalau 7 juta orang patungan masing-masing 1000 rupiah setiap hari. Itulah surga untuk umat yang bersatu. Tiada akhir. Wallâhu A‘lam..

Bagikan