Keadilan Di Negeri Jurumiah

KEADILAN DI NEGERI JURUMIAH
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Seorang santri dipolisikan karena melakukan pemukulan tanpa sebab. Peristiwa ini terjadi di kampung Jurumiyah (الآجُرُّوْمِيَّةُ) setiap kali Kiyai membahas Fa’il dan Maf’ul. Diketahui santri yang melakukan pemukulan bernama Zaid (زَيْدٌ), dan yang menjadi korban pemukulannya adalah santri yang bernama ‘Amr (عَمْرٌو). Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Zaid (زَيْدٌ) bukan tanpa alasan melakukan pemukulan terhadap Amr (عَمْرٌو), melainkan karena ‘Amr (عَمْرٌو) telah mencuri huruf wawu (و) dari temannya (زَيْدٌ) yang bernama Daud (دَاوُدُ).

Hal ini karena mestinya ‘Amr hanya punya tiga huruf, yaitu ‘ain (ع), mim (م), dan ra (ر). Yakni عَمْرٌ, bukan عَمْرٌو. Berarti haruf wawu (و) yang terlihat setelah huruf ra (ر) adalah hasil curian dari Daud (دَاوُدُ). Karena seharusnya Daud (دَاوُدُ) punya dua wawu (و), yaitu دَاوُوْدُ. Atas dasar pencurian yang dilakukan oleh ‘Amr terhadap wawu Daud maka Zaid memukulnya. Karenanya, ketika ‘Amr dipukul oleh Zaid maka wawu-nya hilang dan menjadi عَمْرًا, tanpa wawu.

Namun masalah yang baru terjadi. Karena setelah Amr dipukul oleh Zaid, wawu-nya tidak dikembalikan ke Daud. Pertanyaannya kemana wawu itu pergi? Ternyata barang bukti yang berupa wawu diamankan oleh kiyai dengan disimpan di Baitul Mal pesantren setelah sebalumnya wawu disita KPK karena diduga hasil korupsi. Kiyai melakukan pendalaman kasus dengan memanggil Amr dan Daud.

Amr menjelaskan bahwa dirinya sangat membutuhkan wawu agar tidak tertukar dengan Umar (عُمَرُ) yang juga mempunyai tiga huruf yang sama. Karena dalam kondisi gundul tanpa harakat antar ‘Amr dan Umar tidak dapat dibedakan. Jelas akan fatal bahayanya kalau tertukar karena Amr munshorif dan Umar ghair munsharif. Yakni persoal hak tidak boleh tertukar. Bahkan ketidakadilan kemudian akan merajalela hanya karena disebabkan tertukarnya hak Amr dan Umar. Di sisi lain Daud punya dua wawu. Tetapi dia tidak mau memberikannya juga tidak berkenan meminjamkannya. Maka Amr mencurinya.

Daud pun tidak mau disalahkan karena jika salah satu wawu-nya diambil dia akan stabil karena wawu tersebut merupakan bagian dari dirinya. Dia menjadi Dawid (دَاوِدٌ) yang kemudian menyebabkan wawu yang tersisa pun berpotensi berubah menjadi hamzah. Yakni menajdi Daid (دَائِدٌ). Kiyai tahu bahwa yang dibutuhkan Amr dengan wawu adalah untuk identitasnya agar tidak tertukar haknya dengan Umar. Dengan kata lain yang penting memakai wawu meski tidak memilikinya. Sementara yang dibutuhkan Dawud dengan wawunya adalah substansinya. Yakni yang penting memilikinya meski pun tidak memakainya.

Kiyai memutuskan agar Dawud bersedia meminjamkan wawu-nya kepada Amr dengan syarat Amr hanya hak pakai bukan hak milik. Karena memang wawu tersebut tidak akan pernah rusak atau habis, juga tidak akan pernah dimakan atau dijual oleh Amr. Untuk menjamin bahwa Amr tidak akan inkar janji, kiyai memerintahkan Zaid terus mengawasi Amr dan tak segan-segan memukulnya jika menyelewengkan wawu Daud. Lalu sebagai kompensasi, Kiyai memberikan pengganti berupa wawu kecil (terbalik) kepada Daud di atas atau di depan wawu yang satunya. Ia akan terlihat saat pemberian harakat. Lalu Zaid yang memang sudah selesai dengan dirinya menikmati ikhlas dengan menjalankan segala tugas dari kiyai demi terciptanya keadilan, keamanan, kedamaian, dan kemakmuran di kampung Jurumiah.

Selamat hari santri

Indonesia Murojaah Foundation

Bagikan