Murojaah: Doanya Para Penghafal Al-Quran

MUROJAAH: DOANYA PARA PENGHAFAL AL-QURAN
(Menjawab Pertanyaan Mengapa Harus Pakai Istilah Murojaah Bukan Takrir dan Yang Lain)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Sejak tanggal 17 Agustus kemarin, kosakata murojaah mulai femiliar di tengah-tengah masyarakat. Namun masih banyak yang belum faham makna sebenarnya atau falsafah dari term murojaah. Yang mereka tahu murojaah adalah kegiatan khataman Al-Quran berjamaah yang dilakukan secara hafalan. Oleh karenanya penulis merasa perlu menjelaskannya.

Kata murojaah berasal dari kata raja’a (رَجَعَ). Artinya kembali atau pulang. Mengulang hafalan disebut murojaah karena tidak dapat dilakukan kecuali setelah kembali dulu ke kelakang lalu maju lagi. Mengikuti wazan mufaa’alah (مُفَاعَلَةٌ) dari faa’ala yufaa’ilu (فَاعَلَ يُفَاعِلُ) yang mempunyai pengertian asal saling. Karena murojaah pada mulanya tidak dilakukan sendirian. Melainkan saling simak dengan teman murojaahnya.

Saling menjawab pertanyaan dalam sebuah diskusi atau obrolan, dalam kamus bahasa Arab, disebut juga dengan murojaah. Diceritakan Imam Ilkiya al-Harasi (w. 504 H.) setiap kali hafal ilmu berupa beberapa hadits maka segera membacakan ulang dengan disimak istrinya di rumahnya padahal istrinya belum hafal. Yang dilakukan Ilkiya al-Harasi (w. 504 H.) diungkapkan dengan kalimat murojaah. Ini mirip dengan tradisi setoran.

Suatu ketika Rasulullah Saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang dihisab berarti diadzab.” Lalu Siti Aisyah bertanya: “Bukankah ada hisab yang ringan bagi orang yang diberikan buku catatan amalnya dari tangan kanan?” Maka Rasulullah Saw bersabda: “Hisab yang ringan bukanlah hisab dengan menghitung satu persatu amalnya untuk dipertanggungjawabkan melainkan hanya memperlihatkan buku amalnya saja.” Yang dilakukan Siti Aisyah dalam redaksi hadits imam al-Bukhari (w. 259 H.)  disebut murojaah. Bahwa tidak semata-mata Siti Aisyah mendengar suatu ilmu dari Nabi Saw yang tidak difahaminya kecuali memurojaahkannya kepada beliau. Yakni menanyakannya kembali kepada beliau. Dalam hal ini murojaah dilakukan bukan hanya untuk menguatkan hafalan tapi menguatkan pemahaman. Imam al-Bukhari (w. 504 H.) menjadikan murojaah Siti Aisyah ini satu bab khusus dalam Kitab Ilmu dari Shahih-nya.

Apabila seorang peneliti merujuk kepada referensi induk dalam membuktikan hasil penelitiannya maka disebut pula dengan murojaah. Kata merujuk berasal dari bahasa Arab ruju’ (رُجُوْعٌ). Yaitu kata dasar dari murojaah. Dalam tradisi baca Al-Quran binnazhar (sambil dilihat) di Nusantara apabila waqaf pada kalimat yang belum sempurna maka untuk memulai kembali bacaan harus mundur lagi ke pangkal kalimat. Ini disebut pula dengan murojaah.

Suatu ketika Umar bin Khaththab lewat di hadapan sekelompok orang yang sedang membaca Al-Quran berjamaah. Lalu Umar berkata: “Apakah kalian saling silang membaca Al-Quran?” Mereka menjawab: “Kami sedang membacakan Al-Quran sebagian kami kepada sebagian yang lain.” Kosa kata yang dikemukakan Umar bin Khaththab saat bertanya kepada mereka adalah murojaah.

Dengan demikian, murojaah berbeda dengan takrir atau tikrar. Keduanya memang berarti mengulang-ulang. Tapi takrir atau tikrar lebih kepada mengulang yang belum hafal sampai menjadi hafal. Dikenal di antara teknik menghafal para ulama Salaf adalah katsratut tikrar. Yakni banyak mengulang-ulang sampai menjadi hafal. Sedang murojaah adalah mengulang yang sudah hafal sebelum masa ingatnya berakhir sebanyak-banyaknya guna menjaga dan meningkatkan kualitasnya, baik dalam kemutqinan, kefasihan, pemahaman, pengamalan, kekhusyukan, dzikir, maupun keikhlasannya. Baik sendiri maupun berjamaah. Atau setoran kepada muhaffizh. Sehingga bacaanya menjadi doa yang mustajab yang diperlukan semua orang.

Rasulullah Saw bersabda menghikayatkan firman Allah, atau disebut Hadits Qudsi, bahwa Allah Swt berfirman: “Barangsiapa yang disibukkan oleh Al-Quran sehingga tidak sempat meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih baik dari yang diberikan kepada para peminta.” Yakni, dengan kata lain, murojaah pun adalah cara meminta para penghafal Al-Quran kepada Allah yang terbaik dan paling mustajab. Ini tampaknya mengapa pada masa para sahabat dan tabiin diberikan banyak anugerah oleh Allah padahal dzikir dan doa mereka hanya bacaan Al-Quran.

Demikian. Wallahu A’lam.

Indonesia Murojaah Foundation

Bagikan