“GHIBAH-GHIBAH” YANG DIHALALKAN MENURUT SYAIKH NAWAWI AL-BANTENI

“GHIBAH-GHIBAH” YANG DIHALALKAN MENURUT SYAIKH NAWAWI AL-BANTENI (w. 1314 H.) Oleh: @deden_mm 1. Mengemukakan kekurangan orang untuk tujuan meluruskan. Misalnya mengatakan: “Yang Anda katakan tentang ini dan itu tidaklah benar. Yang benar adalah ini.” 2. “Ghibah” dalam rangka menasihati rekan musyawarah yang hendak menikahi seseorang atau menitipkan amanah kepada seseorang atau lainnya. Maka, yang dipinta … Continue reading ““GHIBAH-GHIBAH” YANG DIHALALKAN MENURUT SYAIKH NAWAWI AL-BANTENI”

JIKA POLITIK DITULIS DENGAN HURUF ARAB

JIKA POLITIK DITULIS DENGAN HURUF ARAB Oleh: @deden_mm Di pesantren Tradisional khas Nusantara kegiatan menulis, baik bahasa Indonesia, Sunda, maupun Jawa, dilakukan dengan menggunakan huruf Arab. Termasuk kosakata politik. Kata politik jika ditulis dengan huruf Arab di pesantren maka akan terlihat terusun dari rangkaian huruf fa (ف), wawu (و), lam (ل), ya (ي), ta (ت), … Continue reading “JIKA POLITIK DITULIS DENGAN HURUF ARAB”

KALAH KARENA TIDAK IKHLAS

KALAH KARENA TIDAK IKHLAS Oleh: @deden_mm Sebuah pohon besar telah memalingkan penduduk desa dari tauhid karena ada penunggunya. Yaitu, jin yang selalu mengganggu mereka, kecuali jika mereka memberi persembahan dan sesajen. Mereka pun jadi meminta pertolongan kepadanya. Dua orang sholeh bergegas datang ke desa dengan niat hendak menebang pohon syirik tersebut sekaligus membuktikan kepada penduduk … Continue reading “KALAH KARENA TIDAK IKHLAS”

BEDANYA PERCAYA DENGAN YAKIN

BEDANYA PERCAYA DENGAN YAKIN Oleh: @deden_mm Seorang kiyai menguji santri-santrinya tentang perbedaan percaya dan yakin. “Apa kalian tahu bedanya percaya dengan yakin?, kata kiyai kepada santrinya memecah hening di halaman pesantren yang luas pagi itu. Tidak ada santri yang menjawab pertanda tidak ada yang tahu dan bingung harus menjawab apa karena sepintas tidak ada bedanya … Continue reading “BEDANYA PERCAYA DENGAN YAKIN”

DEBAT

DEBAT 1. Ibnu Abbas (w. 68 H.) Janganlah berdebat dengan saudaramu karena debat tidak dapat difahami hikmahnya dan tidak dapat dihindari bahayanya. 2. Abu Dzar (w. 32 H.) Di antara bukti memiliki hakikat iman adalah meninggalkan perdebatan walau benar. 3. Abu Darda (w. 32 H.) Cukuplah dosa itu kamu terus menerus berdebat. 4. Ibn Umar … Continue reading “DEBAT”