Jalan Kakinya Rasulullah Saw

JALAN KAKINYA RASULULLAH SAW
(Kajian Kitab al-Khashaiah al-Kubra Karya Imam Jalaluddin Al-Suyuthi (w. 911 H.))
Bersama KH Deden Muhammad Makhyaruddin, Al-Hafizh

 

Rasulullah Saw adalah manusia. Dan yang namanya manusia pasti mempunyai keperluan yang mengharuskan beliau berjalan kaki. Ditambahkan lagi dengan tugas kerasulan yang menuntut beliau bergerak lebih banyak dari manusia pada umumnya. Dalam bab ini akan dibahas seperti apa jalannya Rasulullah Saw saat berjalan kaki. Apakah sama dengan manusia biasa atau berbeda. Di dalam bab ini, Imam al-Suyuthi (w. 911 H.) mengemukakan dua hadits yang oleh Ibn Sa’ad melalui dua sahabat. Yaitu Abu Hurairah dan Yazid bin Martsad.

Abu Hurairah menceritakan kesan tersendiri tentang jalannya Rasulullah Saw. Menerut kesaksiannya, pernah suatu ketika Abu Hurairah berjalan kaki bersama Rasulullah Saw mengantarkan jenazah. Setiap kali Abu Hurairah melangkah maka beliau (Rasulullah Saw) selalu mendahuluinya. Sampai Abu Hurairah berkata kepada seseorang di sampingnya bahwa bumi dilipatkan unuk Rasulullah Saw dan untuk Nabi Ibrahim.

Sedang Yazid bin Martsad mengatakan bahwa Rasulullah Saw itu ketika berjalan kaki maka cepat langkahnya sampai seseorang di belakangkang beliau berjalan setengah berlari tapi tidak dapat mengejarnya.

Abu Hurairah menyebut jalannya Rasulullah Saw yang cepat dengan Tayy al-Ardhi (Lipat Bumi). Hal ini karena langkah beliau sama dengan langkah yang lain tapi kecepatannya berbeda. Tak mungkin terjadi kecuali buminya yang melipat memptong jarak. Bumi bagi beliau ibarat eskalator. Orang yang berjalan di atas eskalator yang jalan kecepatannya akan melebihi orang yang berjalan dengan kecepatan yang sama tanpa eskalator. Bahkan eskalator bumi yang membawa langkah Rasululla Saw menyesuaikan kecepatan dengan orang yang di belakang beliau. Ketika orang yang di belakang beliau mempercepat langkahnya maka tetap beliau tidak dapat terkcejar. Mungkin jika kemampuan ini dimiliki pemain sepak bola maka akan menang karena tidak dapat dikejar.

Thayy al-Ardh dapat terjadi kepada selain Rasulullah Saw. Tapi tidak tetap. Tergantung Allah menganugerahkan atau tidak. Dalam hadits riwayat imam Muslim, Rasulullah Saw mengajarkan doa yang redaksinya:

واطو عنا بعده

…dan lipatlah dari kami jauhnya.

Yang dimaksud jauhnya adalah jauhnya perjalanan. Dalam riwayat al-Tirmidzi, yang dimaksud jauhnya adalah jauhnya bumi. Perjalanan dengan melipat bumi adalah jika bumi ibarat selembar kertas maka untuk sampai dari ujung timur ke ujung barat maka tidak perlu menampuh perjalanan dalam jarak timur dan barat itu kareja ujung timur dan ujung barat itu menjadi dekat bahkan mungkin dapat sampai hanya dengan satu langkah, yaitu dengan melipatkan kertas tersebut dan mempertemukan kedua ujungnya. Orang yang naik pesawat termasuk bagian yang melakukan perjalanan dengan Thayy al-Ardh. Tapi tentu bukan Thayy al-Ardhi yang dimaksud dalam hadit ini. Karena Thayy al-Ardhi dalam hadit ini terjadi tanpa alat. Kalau pengalaman saya, perjalanan saya hari ini dari Sadeng ke BSD yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam padahal biasanya tidak dampai dalam 2 jam adalah bagian dari Thayy al-Ardhi. Tiba-tiba di jalan sangat lancar. Tidak ada mobil truk yang memperlambat laju. Dan seterusnya.

Kita kembali kepada jalannya Rasulullah Saw. Saya menangkap kesimpulan dari jalannya Rasulullah Saw yang cepat bahwa beliau, selain memang ada Thayy al-Ardhi, bahwa beliau tidak pernah berjalan kaki dengan lambat. Selalu cepat. Hal ini menunjukan:

1. Rasulullah Saw tidak berjalan kecuali untuk tujuan yang sangat penting dan banyak manfaat untuk beliau dan umatnya. Kerena beliau berjalan cepat.

2. Rasulullah Saw tidak suka menunda perintah Allah atau mengerjakannya dengan tanpa semangat. Beliau selalu semangat, cepat dan tidak menunda. Karena beliau berjalan cepat.

3. Rasulullah Saw berjalan dengan khusyuk. Pakai hati. Tidak lalai. Konsentrasi. Fokus. Dengan kata lain, seandainya beliau hidup pada masa sekarang, lalu beliau mengendarai mobil, maka beliau tidak berkendara sambil maih Handphon dan lain sebagainnya

4. Rasulullah Saw selalu menjaga kesehatan. Tidak mungkin berjalan cepat kalau tidak sehat. Meski usianya sudah tidak muda. Beliau memimpin perang Badar pada usia 55 tahun. Hal ini karena perang Badar terjadi pasa tahu kedua Hijrah sementara Rasulullah Saw di Makkah 13 tahun. Saat beliau menerima wahyu usia beliau 40 tahun. Maka, usia beliau saat perang badar adalah 55 tahun. Yaitu 40 ditambah 13 dan 2 tahun.

Demikian. Jalannya Rasulullah Saw
Wallahu A’lam

Deden Muhammad Makhyaruddin
An-Nahl The Icon BSD City 9 Juli 2017

Bagikan