Kesucian Nasab Rasulullah Saw Sejak Zaman Nabi Adam

KESUCIAN NASAB RASULULLAH SAW SEJAK ZAMAN NABI ADAM
(Kajian Kitab al-Khashaish al-Kubra Karya Imam al-Suyuthi (w. 911 H.))
Bersama KH Deden Muhammad Makhyaruddin, Al-Hafizh

 

Ibn Sa‘ad dan Ibn Asakir mentakhrij hadits dari Ibn Abas, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

خَرَجْتُ مِنْ لَدُنْ أدَمَ مِنْ نِكَاحٍ غَيرِ سِفَاحٍ

Aku keluar semenjak zaman Nabi Adam dari nikah, bukan zina.

Al-Thabarani mentakhrij hadits dari Ibn Abbas, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

مَا وَلَدَنِي مِنْ سِفَاحِ الجَاهِلِيَّةِ شَيءٌ وَمَا وَلَدَني إِلاَّ نِكَاحٌ كَنِكَاحِ الإِسْلاَمِ

Aku tidak dilahirkan oleh sedikit pun zina Jahiliyah, dan aku hanya dilahirkan oleh pernikahan seperti pernikahan Islam.

Ibn Sa‘ad dan Ibn Asakir dari Aisyah, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ غَيرِ سِفَاحٍ

Aku keluar dari hasil pernikahan bukan hasil perzinahan.

bn Sa‘ad dan Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dari Muhammad bin Ali bin Husain, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّمَا خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ لَمْ يُصِبْنِي مِنْ سِفَاحِ أَهْلِ الجَاهِلِيَّةِ شَيءٌ وَلَم أَخْرُجْ إلاَّ مِنْ طُهْرَةٍ

Aku hanya keluar dari pernikahan dan aku tidaj keluar dari zina semenjak Nabi Adam. Aku belum pernah tertimpa oleh sedikit pun dari tradisi zina Ahli Jahiliyyah, dan aku tidak keluar kecuali dalam keadaan suci.

Imam al-Kalbi berkat: “Aku menulis untuk Nabi Saw sampai masa 500 tahun sebelumnya, maka aku tidak pernah menemukan zina padanya, dan tak satu pun dari tradisi Jhiliyyah.

Al-‘Dani dalam Musnad-nya, al-Thabarani dalam al-Auasth, Abu Nu‘am dan Ibn Asakir dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah Saw bersabda:

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى أَن وَلَدَنِي أَبِي وَأُمِّي وَلَمْ يُصِبْنِي مِنْ سِفَاحِ الْجَاهِلِيَّة شَيْءٌ

Aku keluar dari nikah dan aku tidak pernah keluar dari zina sejak Nabi Adam sampai aku dilahirkan oleh Ibu dn Bapakku. Aku belum pernah ditimpa sedikit pun dari tradisi zina Jahiliyyah.

Abu Nuaim‘, dari beberapa jalan, dari Ibn Abbas, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

لَمْ يَلْتَقِ اَبَوَايَ قَطُّ عَلَى سِفَاحٍ لَمْ يَزَلِ اللهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الأَصْلاَبِ الطَّيِّبَةِ إِلَى الْأَرْحَام الطَّاهِرَةِ مُصَفًّى مُهَذَّبًا لَا تَتَشَعَّبُ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيرَهِمَا

Kedua orangtuku belum pernah bertemu dalam zina. Allah terus-menerus memindahkanku dari sulbi yang baik kedalam rahim yang suci, dibersihkan dan disaring. Tidak semata-mata lahir dua kalibah di Madinah atau Quraish kecuali aku berada dalam yang teraikna.

Ibn Sa ‘ad dari jalur al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibn Abbas, bahwa Rasulullah Saw bersbda:

خَيْر الْعَرَبِ مُضَرُ وَخَيُر مُضَرَ بَنُو عَبْدِ منَافٍ وَخَيرُ بَنِي عَبْدِ منَافٍ بَنُو هَاشِمٍ وَخَيرُ بَنِي هَاشِمٌ بَنُو عَبْدِ الْمُطَّلِبِب وَاللهُ مَا افْتَرَقَ فِرْقَتَانِ مُنْذُ خَلَقَ اللهُ آدمَ إِلَّا كُنْت فِي خيرهما

Sebaik-baik Arab adalah Mudhar, sebaik-baik Mudhar adalah Bani Abdi Manaf, sebaik-baik Bani Aithabi adalah Babi Hasyim, dan sebaik-baik Bani Hasyim adalah Bani Abdul Muththalibi. Demi Allah, tidak semata-mata pecah dua golongan semenjak Allah menciptakan nabi Adam kecuali aku di terbaiknya, bukan ang terkuat.

Hadits-hadits di atas memang dhaif, tapi maknanya sesuai dengan firman Allah, yaitu surah al-Su‘ara. Allah Swt. berfirman:

وَتَقَلُّبَكَ في السَّاجِدِينَ

Dan Aku melihat bulak-balikmu dalam orang-orang yang bersujud (QS al-Syu‘ara: 225 H.)

Al-Bazzar, al-Thabari, dan Abu Nu‘am melalui jalur Ikrimah dan Ibn Abbas, bahwa Rasulullah Saw ditanya tentang ayat ini. Ia berkata: “Nabi tak berhenti bulak-balik dalam sulbi para nabi hingga dilahirkan oleh ibuku. Ini ayat lebih kuat dari pada hadits.

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip