Memanggil Hujan Dengan Muhammad SAW Kecil

MEMANGGIL HUJAN DENGAN MUHAMMAD SAW KECIL
Kajian Kitab al-Khashaish al-Kubra Karya Imam al-Suyuthi (w. 911 H.)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

 

بَابُ استسقاءِ أهلِ مَكَّةَ بجدِّه صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَهُوَ مَعَه وسُقياهم وَمَا ظهر فِيهِ من الْآيَات

أخْرجَ ابْنُ سعدٍ وَابْنُ أبي الدُّنْيَا وَالْبَيْهَقِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُو نُعيمٍ وَابْنُ عَسَاكِرَ من طُرقٍ عَن مَخرمَةَ بنِ نَوْفَلَ عَن أمهِ رُقيقَةَ بنتِ صَيْفِيٍّ وَكَانَت لِدَةَ عبد الْمطلب قَالَت تَتَابَعَتْ على قُرَيْشٍ سنُون جَدْبةٌ أقحلت الْجلدَ وأدقَّت الْعظمَ فَبينا أَنا نَائِمَةٌ أَو مُهَوِّمَةٌ إِذا هَاتِفٌ يصْرَخُ بِصَوْتٍ صَحِلٍ يَقُولُ يَا معشرَ قُرَيْشٍ إِنّ هَذَا النَّبِيَّ الْمَبْعُوثَ مِنْكُم قد أظلَّكم أيامُه وَهَذَا إبّانُ مخرجِه فحيَّ هَلاً بِالْحَيَاءِ وَالْخَصْبِ أَلا فانظروا رجلا مِنْكُم وَسِيطًا عُظاما جُسَامًا أَبيضَ بَضَّا أَوْطَفَ الْأَهْدَابِ سهْلَ الْخَدَّينِ أَشمَّ الْعِرْنِينَ لَهُ فَخرٌ يُكْظَم عَلَيْهِ وَسنَّة يُهدى اليه فَلْيخْلصْ هُوَ وَولدُه وَولدُ وَلَدِه وليهبِطْ إِلَيْهِ من كل بطنٍ رجلٌ فليشِنُّوا من المَاءِ وليمَسُّوا من الطّيبِ ثمَّ ليستلِمُوا الرُّكْنَ وليطوفوا بِالْبَيْتِ سبعا ثمَّ ليرتَقوا أَبَا قبيسٍ فليستَسٍقِ الرجلُ وليؤَمِّنْ الْقَوْمُ فغِثْتُمْ مَا شِئْتُم إِذا قَالَت فَأَصْبَحتُ مَذْعُورَةً قد اقشعرَّ جلدي وَوَلِهَ عَقْلِي واقتصصْتُ رُؤْيَايَ فَقُمْت فِي شِعابِ مَكَّة َفَمَا بَقِيَ بهَا أبطحِيٌّ إِلَّا قَالُوا هَذَا شيبَةُ الْحَمدِ وتتامَّتْ إِلَيْهِ رجالاتُ قُرَيْشٍ وَهَبَطَ إِلَيْهِ من كل بطنٍ رجلُ فَشَنُّوا من المَاءِ وَمَسُّوا من الطّيبِ واستلَموا وطافوا ثمَّ ارْتَقَوْا أَبَا قبيسٍ حَتَّى إِذا اسْتَوَوْا بِذرْوَةِ الْجَبَلِ قَامَ عبدُ الْمطلب وَمَعَهُ رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم غُلَامٌ قد أَيفَعَ أَو كَرَبَ فَقَالَ عبدُ الْمطلب اللَّهُمَّ سَادَّ الْخَلَّةِ وَكَاشفَ الْكُرْبَةِ أنت عَالمٌ غيرُ مُعلَّمٍ ومسؤولٌ غيرُ مُبَخَّلٍ وَهَذِه عُبَداؤُك وإماؤُك بِعَذِرَاتٍ حَرمِك يَعْنِي أفْنِيَةَ حَرمِك يَشكونَ إِلَيْك سَنَتَهُمْ أذهبَتْ الْخُفَ والظِّلفَ اللَّهُمَّ فأمطرَنّ غيثا مُغْدِقًا ومُريعًا فَمَا راموا حَتَّى انفجرَتْ السَّمَاءُ بِمَائِهَا وألَطَّ الْوَادي بثجيجِه فلَسمعتُ شِيْخَانَ قُرَيْشٍ يَقُولُونَ لعبدِ الْمطلبِ هَنِيئًا يَا ابا الْبَطْحَاءِ هَنِيئًا أَي عَاشَ بك أهلُ الْبَطْحَاء،ِ

وَفِي ذَلِك تَقولُ رُقيقَة:ُ

(بِشَيْبَةِ الْحَمدِ أسقى اللهُ بَلْدَتنَا لما فَقدْنَا الحيا واجلوَّذَ الْمَطَرُ)

(فجادَ بِالْمَاءِ جُوْنِىٌّ لَهُ سَبَلٌ سَحًّا فَعَاشَتْ بِهِ الْأَنْعَامُ وَالشَّجرُ)

(مَنًّا من اللهِ بالميمونِ طَائِرُه وَخيرِ مَن بُشِّرَتْ يَوْمًا بِهِ مُضرُ)

(مُباركِ الْأَمْرِ يُسْتَسْقى الْغَمَامُ بِهِ مَا فِي الآنامِ لَهُ عِدلٌ وَلَا خَطَرُ)

رقيقَة بِضَم الرَّاء ولدةُ الرجل تِرْبُه وأقحلت بقاف وحاء مُهْملَة أيبست وصحل بمهملتين وَلَام فِيهِ بَحَّةٌ وَإبَّان الشَّيْء بِالْكَسْرِ وَالتَّشْدِيد وقتُه وَفُلَان وسيط فِي قومه اذا كَانَ أوسطهم نسبا وأرفعهم محلا وعظاما بِضَم الْعين بِمَعْنى عَظِيم وجساما بِضَم الْجِيم بِمَعْنى جسيم وبضا بموحدة وضاد مُعْجمَة رَقِيق الْجلد ممتلئا والوطف كَثْرَة شعر الْعين والحاجبين وتتام الْقَوْم جَاءُوا كلهم وتموا والعذرة فنَاء الدَّار والمِلطاط حافة الْوَادي وساحل الْبَحْر والسبل بِالتَّحْرِيكِ الْمَطَر وَعدل بِكَسْر الْعين

 

Terjemah

Bab: Penduduk Mekah Meminta dan Diberi Hujan Melalui Abdul Muthalib Sementara Rasulullah Saw Bersamanya Serta Tanda-tanda yang Terjadi di dalamnya.

Ibn Sa‘ad (w. 230 H.), Ibn Abi al-Dunya (w. 281 H.), al-Baihaqi (w. 458 H.), al-Thabarani (w. 360 H.), dan Ibn Asakir (w. 571 H.) mengemukakan riwayat melalui beberapa jalan periwayatan dari Makhramah bin Naufal dari ibunya, yaitu Ruqaiqah bin Shaifiy yang seumur dengan Abdul Muthalib. Ia berkata: Tahun-tahun peceklik menimpa kaum Quraisy secara berturut-turut yang telah mengeringkan kulit dan merapuhkan tulang. Tiba-tiba dalam keadaan tidur atau setengah tidur terdengar teriakan suara yang keras seraya berkata: “Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya nabi yang diutus dari kalian hari-harinya telah menaungi kalian dan ini adalah waktu keluarnya. Maka mari kita menyambut hujan dan kesuburan. Ingatlah, lihat oleh kalian seorang laki-laki dari kalian yang baik nasabnya, agung kedudukannya, besar badannya, putih warnanya, tipis kulitnya, tebal alis dan bulu matanya, mudah (lembut) pipihnya, mancung batang hidungnya, mempunyai kemuliaan yang ditutupinya dan tradisi yang menjadi panduannya. Maka hendaknya dia keluar bersama anaknya dan bersama anak dari anaknya, dan hendaknya dari setiap suku ada satu orang perwakilan yang turun bersamanya. Lalu hendaknya mereka menyiram kepala dan badan mereka dengan air, mengoleskan wewangian, menyentuh Hajar Aswad, dan thawaf di Baitullah tiga putaran, kemudian naik ke atas gunung Abu Qubais, lalu yang satu orang dari masing-masing suku itu meminta hujan sementara kaumnya mengamini. Maka kalian akan diberi hujan sesuka kalian.” Ruqaiqah melanjutkan perkataanya: Pagi harinya aku dicekam rasa takut dan kaget, kulitku merinding, akalku seakan hilang. Aku mengingat mimpiku lalu aku berdiri di celah-celah bukit Mekah. Tiba-tiba tidak semata-mata ada penduduk Mekah kecuali mereka berkata: “Inilah Syaibatul Hamdi.” Orang-orang Quraisy berkumpul padanya dan satu orang dari setiap suku turun bersamanya. Lalu mereka menyiramkan air ke kepala dan tubuh mereka, mengoleskan wewangian, menyentuh Hajar Aswad, thawaf, kemudian naik ke atas gunung Abu Qubais. Hingga ketika mereka telah berkumpul di puncak gunung, Abdul Muthalib berdiri sementara bersamanya ada Rasulullah Saw yang masih berupa anak yang sedang tumbuh kembang. Abdul Muthalib berkata: “Wahai Pemenuh kebutuhan, Penyingkap kesusahan. Engkau mengetahui tanpa diberi tahu. Engkau dipinta tanpa dipelitkan. Inilah hamba-hamba-Mu, laki-laki dan perempuan, di pelataran haram-Mu mengadukan kepada-Mu tahun-tahun peceklik mereka yang telah menghilangkan kaki-kaki unta dan kambing. Ya Allah, turunkan hujan yang lebat dan menyuburkan.” Lalu tanpa menunggu lama kecuali langit pecah dengan airnya dan bibir lembah penuh dengan curahnya. Aku benar-benar mendengar para sesepuh Quraisy berkata kepada Abdul Muthalib: “Selamat wahai Bapak Bathha.” Penduduk Bathha (Mekah) hidup dengan bantuannya.

Ruqaiqah berkata:

            Melalui Syaibatul Hamdi Allah menyirami negeri kami
            Setelah kami kehilangan hujan dan kebisan air
            Lalu murah dengan air awan yang mengandung hujan
            Deras, lalu henwan dan pohon hidup karenanya
            Sebagai anugerah dari Allah berkat sosok yang diberkahi amalnya
            Dan sebaik-baik orang yang pada suatu hari Bani Mudhar diberikan kabar kembiran tentangnya
            Diberkahi urusan yang dengannya awan mengeluarkan hujan
            Tiada di antara manusia yang sebanding dan sederajat dengannya.

Ruqaiqah (رقيقة) dibaca dengan dhammah ra (رُ). Lidah (لِدَةٌ) artinya seumur dan sebaya. Aqhalat (أقحلت) dibaca dengan qaf (ق) dan ha (ح). Yakni mengeringkan. Katashahl (صحل) dengan shad (ص), ha (ح) dan lam (ل), artinya suara keras. Kata ibbân (إبّان), dengan kasrah hamzah (إِ) dan tasydid ba (بّ), artinya waktu. Kata wasîth(وسيط), artinya paling sedang nasabnya dan tinggi kedudukannya. Kata ‘uzhâman (عظاما), dengan dhammah ‘ain (عُ), artinya yang agung kedudukannya. Kata jusâm(جُسَام), dengan dhamman jim (جُ), artinya besar badannya. Kata badhdh (بضّ), dengan ba (ب) dan dhadh (ض), artinya yang tipis dan padat kulitnya. Kata al-wathaf(الوطف) artinya banyak bulu mata dan alisnya. Kata tatâmmu (تتامّ) artinya dating seluruhnya dan sempurna. Kata al-‘adzirah (العذرة) artinya pelataran rumah. Dan kata al-milthâth (الملطات) artinya pinggir lembah dan tepi pantai. Kata al-sabal (السبل), dengan tiga harakat fathah, artinya hujan. Dan kata al-‘idl (العدل) dibaca dengankasrah ‘ain (عِ), artinya pembanding.

Penjelasan

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibn Sa‘ad (w. 230 H.), Ibn Abi al-Dunya (w. 281 H.), al-Baihaqi (w. 458 H.), al-Thabarani (w, 360 H.), dan Ibn Asakir (w, 471 H.) melalung seorang sahabat yang bernama Makhramah bin Naufal bi Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Mempunyai kunyah Abu Miswar. Dan mempunyai nisbat al-Qurasyi al-Zuhri. Karena berasal dari Bani Zuhrah. Ayahnya, yakni Naufal adalah sepupu Siti Aminah, ibundanya Rasulullah Saw. Karenanya beliau memuliakannya di samping termasuk orang yang muallaf. Yakni baru masuk Islam yang masih perlu diteguhkan lagi hatinya. Pernah dipakaikan pakaian oleh Rasulullah Saw seharga 40 uqyah. Nilai 1 uqyah adalah 7,4 dinar emas, dan nilai 1 dinar sama dengan 4,5 gram. Yakni 33,3 gram kali 40 sama dengan 1332 gram. Wafat tahun 54 Hijrah pada usia 115 tahun.

Ibu dari Makhramah, atau suami dari Naufah bin Zuhrah, yang bernama Ruqaiqah binti Shaifi adalah seumur dengan kakek Rasulullah Saw, Abdul Muthalib. Ia termasuk saksi yang melihat langsung Rasulullah Saw dalam pengurusan Abdul Muthalib. Yaitu antara usia 6 tahun sampai 8 tahun. Di antara yang disaksikannya adalah peristiwa yang digambarkan dalam hadits ini. Yaitu ketika keberadaan Rasulullah Saw bersama Abdul Muthalib memberikan berkah kepada orang-orang Arab dengan turunnya hujan yang menyuburkan. Ada tanda yang besar yang ditangkap Ruqaiqah, yaitu mengetahui bahwa cucu Abdul Muthalib itu akan menjadi nabi yang diutus. Di antara bukti beliau bakal menjadi nabi adalah turunnya hujan untuk penduduk Mekah setelah sebelumnya hadir dalam mimpi Ruqaiqah.

Di badan hadits ada informasi tentang tingkatan nasab Arab. Yaitu bathn (بَطْنٌ) yang saya terjemahkan dengan suku. Di bangsa Arab dikenal 6 tingkat nasab (suku). Yaitu, dengan diurutkan dari yang paling besar sampai yang paling kecil,  syi‘b (شِعْبُ), qabîlah (قَبِيلَةٌ), ‘imârah (عِمَارَةٌ), bathn (بَطْنٌ), fakhdz (فَخْذٌ), dan fashîlah(فَصِيلَةٌ). Dalam silsilah nasab Rasulullah Saw, contoh syi‘b adalah Bani Mudhar, contoh qabîlah adalah Bani Kinanah, contoh ‘imârah adalah Quraisy, contoh bathnadalah Bani Qushay bin Kilab, contoh fakhdz adalah Bani Hasyim, dan contoh fashîlah adalah Bani al-‘Abbas bin Abdul Muthalib. Tampak krisis suatu bangsa langsung terobati dengan doa yang di dalamnya Rasulullah Saw dihadirkan.

Juga, terakhir, riwayat ini memnuktikan di mana pun Rasulullah Saw berada maka tempat tersbut akan menjadi berkah. Dalam surah al-Anfal ayat 33 dinyatakan bahwa Allah Swt tidak akan memberikan adzab kepada suatu kaum selama Rasulullah Saw berada di sana. Halimah al-Sa‘diyah, ibu susu Rasulullah Saw, sebelum menyusui beliau, dalam keadaan peceklik. Badannya kurus dan air susunya tidak melimpah. Tapi setelah menyusui beliau tiba-tiba menjadi subur. Rumput-rumput di Bani Sa‘ad bin Bakr mengijau. Dan ternak-ternak Halimah al-Sa‘diyah menjadi gemuk dan sehat. Demikian pula dalam kisah Hijrah. Rasulullah Saw singgah di Quba di tenda Ummu Ma‘bad. Kambing-kambing Ummu Ma‘bad yang sebelumnya kurus dan tidak mengeluarkan susu tiba-tiba menjadi gemuk dan melimpah sususnya. In-syâ’allâh, dengan membahas kitab al-Khashâ’ish al-Kubra ini, Rasulullah Saw hadir di tengah-tengah kita. Semua yang terkait dengan kitab ini akan penuh berkah dan subur. Peceklik dan krisis monter, juga krisis-krisis lainnya, akan berubah menjadi subur dengan beliau. Âmîn…

Wallâhu ’a‘lam

Bagikan