DALIL-DALIL TARTIB DALAM WUDHU

DALIL-DALIL TARTIB DALAM WUDHU

فصلٌ: ويجبُ أن يرتِّبَ الوضوءَ فيغسلَ وجهَه ثم يدَيهِ ثمّ يمسحَ برأسِه ثمّ يغسلَ رِجلَيه،ِ وحَكى أبو العباسِ بنُ القاصِ قولاً آخرَ أنّه إنْ نسِيَ الترتيبَ جازَ، والمشهورُ هو الأولُ، والدليلُ عليه قولُه عزّ وجلّ {فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ} [المائدة:6] الآيةَ، فأدخلَ المسحَ بينَ الغسلَينِ وقطعَ النظرَ عن النظيرِ فدلَّ على أنّه قصدَ إيجابَ الترتيبِ، ولأنهّا عبادةٌ تشتملُ على أفعالٍ متغايرةٍ يرتبطُ بعضُها ببعضٍ فوجبَ فيها الترتيبُ كالصلاةِ والحجِّ فإنْ غسلَ أربعةُ أنفُسٍ أعضاءَه الأربعةَ دفعةً واحدةً لَمْ يُجْزِهِ إلاّ غسلَ الوجهِ، لأنّه لم يرتَّبْ، وإن اغتسلَ وهو محدثٌ من غيرِ ترتيبٍ ونوىَ الوضوءَ ففيه وجهانِ: أحدُهما أنّه يُجزئُه لأنّه إذا جازَ ذلك عن الحدثِ الأعلى فَلَأَنْ يجوزَ عن الحدثِ الأدنى أولَى، والثاني لا يجزئُه وهو الأصحُّ لأنّه أسقطَ ترتيباً واجباً بفعلِ ما ليسَ بواجبٍ،

Fasal:

Wajib mengurutkan wudhu. Atau disebut Tartîb. Dimulai dari membasuh wajah, membasuh tangan, mengusap kepala, dan membasuk kaki. Abu al-Abbas bin al-Qash  (w. 335 H.) menghikayatkan satu pendapat lain dari Imam al-Syafii (w. 204 H.). Yaitu jika lupa mengurutkan (Tartîb) maka boleh. Yakni tidak merusak wudhunya. Tapi pendapat yang masyhur dari Imam al-Syafii adalah yang pertama. Yaitu wajib Tartîb. Atau, dengan kata lain, meninggalkan Tartîb, baik sengaja maupun lupa, akan merusak wudhu.

Dalil yang menunjukan wajibnya Tartîb adalah redaksi ayat Al-Quran surah al-Maidah ayat 6. Yaitu firman Allah Swt.: “… maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke sikutnya, dan usaplah kepalamu, dan (basuhlah) kakimu sampai ke mata kakinya.”

Yakni, ada tiga anggota wuhdu yang wajib dibasuh. Yaitu wajah, tangan, dan kaki. Tapi antara membasuh tangan dengan membasuh kaki terhalang perintah mengusap kepala. Hal ini menunjukan wajibnya mengurutkan. Bahwa, karena wajibnya mengurutkan, sampai-sampai, antara membasuh tangan membasuh kaki harus diselang mengusap kepala, karena perintah mengusap hadir setelah membasuh tangan dan sebelum membasuh kaki.

Dalil berikutnya adalah karena wudhu adalah ibadah yang terdiri dari rangkaian kegiatan yang antara satu sama salain berbeda. Yaitu, kegiatan membasuh wajah, membasuh tangan, mengusap kepala, dan membasuh. Kegiatan membasuh wajah adalah berbeda dengan kegiatan membasuh tangan. Tapi masing-masing saling berkaitan. Yakni tidak bisa dipisahkan. Maka wajib diurutkan sama halnya dengan shalat dan rangkain ibadah haji.

Jika ada empat orang membasuh empat anggota wudhu seseorang yang niat wudhu secara bersamaan. Yang satu membasuh wajah, yang satu membasuh tangan, yang satu mengusap kepala, dan yang satu lagi membasuh kaki, maka basuhan-basuhan itu tidak sah kecuali membasuh wajah. Karena membasuh wajah berada pada urutan pertama.

Jika ada orang mandi besar dan tidak punya wudhu. Lalu dalam mandinya niat wudhu sementara bilasannya tidak mengurut mengikuti basuhan wuhdu maka terdapat dua sudut pandang pengambilan dalil dalam Madzhab Syafii. Yaitu, pertama, wuhdunya sah. Karena, kalua kegiatan mandi tersebut bisa menghilangkan hadats besar maka apalagi hadas kecil. Kedua, wudhunya tidak sah. Karena mengabaikan tartib yang wajib disebabkan mengerjakan yang tidak wajib. Dan inilah pendapat yang lebih benar pengambilan dalilnya.

Bagikan