Hukum Khitan

HUKUM KHITAN
(Kajian Kitab Kuning al-Muhadzdzab Jilid 2 Halaman 13)

Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

 

Fasal ini adalah tentang khitan. Dimasukkan kedalam bab membersihkan najis karena khitan meripakan salah satu sebab bersihnha bagian di balik kulit kemaluan laki-laki yang dipotong. Di sini, yakni al-Muhadzdab jilid 1 halaman 13 dinyatakan hukum berkhitan. Yaitu wajib. Kepastian hukum ini menepis semua anggapan bahwa khitan adalah tradisi orang Arab.

Dalam Shahih al-Bukhari diceritakan Heraklius mendapatkan ramalan bahwa raja zamannya sudah datang. Salam Perjanjian lama banyak sekali ramalan. Di antaran ramalan tentang raja tersebut adalah etnisnya yang berasal dari bangsa yang dikhitan. Heraklius hanya tahu bahwa bangsa yang dikhitan adalah Yahudi dan Nasharano. Ketika informasi kedatangan raja yang diramalkam tersebut dari bangsa Arab maka Heraklius bertanya kepada perwakilan bangsa Arab yang diundang ke istananya di Eliya (Yerussalem), yaitu Abu Sufyan dan rombongan. Heraklius berkata apakan bangsa Arab dikhitan? Abu Sufyan menjawab: Ya.

Yakni, berdasarkan hadits tersebut, khitan adalam tradisi yang tak pernah ditinggalkan oleh bangsa Arab sebagaimana bangsa Yahudi dan orang Nashrani zaman itu, atau mungkin zaman sekarang. Tak jauh kemungkinan banyak orang Arab yang menganggap khitan hanya tradisi Arab. Dengan penyataan wajib khitan dalam kitab ini terbukti khitan adalah syariat Allah, bukan tradisi suatu bangsa. Orang Indonesia pun harus dikhitan meski bukan bangsa yang punya tradisi khitan. Karena khitan adalah syariat. 

Syariat khitan pertama kali diwajibkan Allah kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam surah Al-Nahl ayat 123 Allah Swt memerintahkan kepada Rasulullah Saw agar mengikuti millah Nabi Ibrahim. Dan di antara millah Ibrahim adalah khitan. Perintah menunjukan wajib. Maka, khitan adalah wajib. Terlihat dari kata millah setya tradisi khitan di tengah bangsa Arab dan Yahudi juga orang Nashrani, bahwa pengertiaj millah adalah syariat (aturan Allah / Agama) yang sudah mengakar di antara pemeluk Agama Nabi Ibrahim sampai menjadi tradisi. Yakni seakan bukan syariat lagi. Ayat ini mengangkat kembali kesyariatan khitan. Biasanya, dalam suatu masyarakat, tradisi (budaya) lebih bertahan dari pada syariat. Bisa jadi orang malu karena tidak dikhitan karena tradisi bukan karena khitan adalah syariat Islam. Jika karena syariat maka mestinya orang yang tak melakukan shalat merasa lebih malu lagi.

Kadang orang malu tidak bisa pulang kampung saat lebaran karena tradisi bukan karena syariat. Kalau malunya karena syariat maka lebih malu lagi tak diampuni dosa oleh Allah setelah Idul Fitri. An-Nahl ini, dengan kata millah, mestinya, suatu syariat meski sudah menjadi tradisi, tetap tak dikeluarkan dari nilai syariatnya. Dalam syariat khitan berarti ada persamaan antara Islam, Yahudi, dan Nasharani.

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim mengkhitan dirinya sendiri dengan menggunakan qadum. Qadum adalah kapak besar untuk memotong, membelah dan mengupas kayu. Qadum ini tentunya masih sangat sederhana. Dalam bahasa Arab, peralatan manusia purba yang berupa kapak dari batu disebut qadum. Saya tak dapat membayanhkan bagaimana sakitnya dikhitan dengan qadum sementara saat itu Nabi Ibrahim sudah tua. Saya pernah mendengar kiyai di pesantren, saat itu usia Nabi Ibrahim 80 tahun. Wallahu A’lam apakah benar atau tidak. Yang jelas benar saat itu Nabi Ibrahim sudah dewasa atau tua.

Saya melihat, tampaknya, riwayat tentang khitannya Nabi Ibrahim yang menggunakan qadum tak berarti menunjukan saat itu belum ada pisau yang tajam. Bukankah ketika Nabi Ibrahim menyembelih anaknya menggunakan pisau yang tajam. Riwayat ini menunjukan betapa cepatnya Nabi Ibrahim mengerjakan perintah Allah. Yakni, sampai beliau tidak mencari alat khitan yang enak, yang meringankan rasa sakit. Di situ adanya qadum, maka itulah yang dipakai untuk khitan. Demikianlah para nabi kalau diperintah Allah. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Saat perintah datang, mereka tak banyak bertanya. Meraka langsung saja mengerjakan. Salah atau tidak dalam pelaksanaannya maka nanti akan diluruskan oleh Rasulullah Saw. Seperti tentang kewajiban puasa. Mereka langsung mengerjakan tanpa bertanya teknisnya meski pada akhirnya puasa mereka jadi tidak seragam, lalu turun ayat 185 dan 187 meluruskannya.

Dalil kedua yang dikemukakan dalam kitab ini tentang wajibnya khitan adalah qiyas. Yaitu, khitan tidak dapat dilakukan kecuali dengan membuka aurat. Paling tidak menjadi malu karena yang dipotong adalah bagian dari kemaluan. Sedang membuka aurat adalah haram. Datangnya idzin membuka aurat dalam proses khitan menunjukan khitan wajib. Seandainya tidak wajib maka tidak mungkin diidzinkan membuka aurat. Misalnya, seandainya khitan itu sunnah, maka tidak dapat dilakukan dengan membuka aurat, karena membuka aurat adalah haram. Tidak bisa melanggar yang haram hanya untuk membela yang sunnah. Dengan demikian khitan adalah wajib.

Analogi dari Abu Ishaq al-Syirazi ini menunjukan bahwa ketika terjadi bentrok antara dua hal yang bertentangan maka pilih yang wajib atau lebih wajib. Menghadap kiblat dalam shalat adalah wajib dan tidak banyak bergerak pun wajib. Yakin jika tidak kerjakan tidak sah shalatnya. Kedua bentrok ketika terjadi salah qiblat saat shalat. Seperti terjadi zaman Rasulullah Saw bahwa para sahabat di masjid Qiblatain sedang dalam keadaan shalat berjamaah wsaat perintah pindah qiblat ke Ka’bah turun. Otomatis meraka tidak dapat mengubah qiblat mereka jika tidak memutar 180 derajat. Pasti akan banyak gerak. Menghadap qiblat lebih wajib dari pada menahan gerak. Oleh karenanya gerakan-gerakan yang banyak dalam proses menghadap ke qiblat tidak membatalkan shalat. Justri shalat akan batal dan tidak sah apabila bertahan tidak mengubah qiblat.

Demikian tentang hukum wajibnya khitan baik dari Al-Quran maupun qiyas (analogi). Dalam al-Futuhat al-Ilahiyat, ketika mansfirkan surah al-Baqarah ayat 124, saya membaca bahwa di antara hikmah disyariatkan khitan adalah mengatur keseimbangan kelezatan jimak. Yakni, dengan khitan, syahwat jimak tidak menjadi berlebihan. Yakni mempunyai batas. Dan itulah Islam. Oleh karenanya, khitan pun, menurut jumhur ulama, disyariatkan pula untuk perempuan. Antara yang mewajibkan dan tidak mewajibkan. Tentu dengan pertimbangan medis yang berlaku. Makan dan minum adalah boleh selama halal dan tidak berlebihan. Tampak bagaimana keseimbangan menjadi benang merah syariat-syariat Allah yang mengatur dunia dan akhirat manusia. Tapi, wallahu a’lam…

Deden Muhammad Makhyaruddin
An-Nahl, The Icon BSD City, 9 Juli 2017

Bagikan