Hukum Mencuci Mata Dalam Wudhu

HUKUM MENCUCI MATA DALAM WUDHU
(Kajian Kitab al-Muhadzdzab Karya Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476 H.))
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin 

 

فصل ولا يغسل العين ومن أصحابنا من قال: يستحب غسلها لأن ابن عمر كان يغسل عينه حتى عمي والأول أصح لأنه لم ينقل ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قولاً ولا فعلاً فدل على أنه ليس بمسنون ولأن غسلها يؤدي إلى الضرر.

Terjemah

Pasal: Dan mata tidak dibasuh. Di antara ashhâb kami (para ulama madzhab Syafii) ada yang mengatakan sunnah membasuh mata karena Ibn Umar (W. 73 h.) suka membasuh matanya sampai buta. Pendapat yang pertama adalah yang lebih shahîh (benar). Karena tidak ada riwayatnya dari Rasulullah Saw baik perkataan maupun perbuatan yang menunjukannya. Sehingga tidak disunnahkan. Dan karena membasuh mata menyebabkan kerusakan pada mata.

Penjelasan

Kita sering mendengar istilah cuci mata. Ternyata, dalam kitab al-Muhadzdzab ada pembahasannya. Yaitu mencuci mata. Hanya saja yang dimaksud memcuci mata di sini adalah membasuh bola mata dalam wudhu. Sedang yang dimaksud “cuci mata” dalam istilah orang-orang zaman sekarang di kita adalah melihat-melihat. Misalnya melihat-melihat pemandangan. Bahkan sebagian orang menyebut cuci mata dengan melihat-lihat yang tidak halal. Ini tidak benar.

Mushannif, atau pengarang kitab al-Muhadzdzab, yakni Imam Abu Ishqa al-Syirazi (w. 476 H.) memulai pembahasannya dengan menyatakan “mata tidak dibasuh.” Tidak dijelaskan apakah yang dimaksud dengan tidak dibasuh itu makruh atau haram. Tampaknya, memang tidak ada hukum. Dilakukan atau tidak dilakukan sama saja. Yakni, tidak memakruhkan, tidak mengharamkan, dan tidak mensunnahkan. Juga tidak memubahkan. Hukum akan muncul apabila sudah ada efek. Misalnya membahayakan. Maka, paling tidak, hukumnya makruh.

Kemudian Mushannif menjelaskan alasan mengapa pasal ini ditulis. Karena ada ulama madzhab Syafii yang mensunnahkannya. Kitab al-Majû‘ karya Imam Nawawi (w. 676 H.) dan al-Bayân karya Imam al-‘Imrani (w. 558 H.) yang merupakan dua kitab yang mensyarah kitab al-Muhadzdab menepatkan pasal ini setelah pasal membasuh muka. Karena membasuh mata merupakan bagian dari membasuh wajah. Mungkin ada juga cetakan al-Muhadzdzab yang mendahulukan pasal membasuh wajah dari membasuh mata. Karena pensyarah tidak semata-mata mengurutkan suatu bab kecuali sesuai dengan bab-bab kitab yang disyarahinya.

Mushannif tidak menyebutkan siapa ulama yang mensunnahkan membasuh mata. Sehingga tidak diketahui. Tapi Imam al-Nawawi (w. 676 H.) mengemukakan dalam kitab al-Majmû‘ jilid 1 halaman 368-370, bahwa para ulama madzhab Syafii yang mensunnahkannya adalah al-Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini (w. 406 H.), Imam al-Bandaniji (w. 495 H.), Imam al-Muhamili (w. 415 H.) dalam al-Majmû‘ dan al-Tajrîd, Imam al-Baghawi (w. 516 H.), dan pengarang kitab al-‘Iddah, Syaikh Bahauddin Abdurrahman al-Maqdisi (w. 624 H.). Bahkan Imam al-Baghawi (w. 516 H.) mengutip kesunnahannya dari pernyataan tekstual (nash) Imam al-Syafii (w. 204 H.) dalam kitab al-Umm. Yaitu:

إِنَّمَا أَكَّدْتُ المَضْمَضَةَ والإِسْتِنْشَاقَ دُونَ غَسْلِ العَينَينِ لِلسُّنَّةِ، وَلِأَنَّ الفَمَ وَالأَنْفَ يَتَغَيَّرَانِ وَأَنَّ المَاءَ يَقْطَعُ مِنْ تَغَيُّرِهِمَا، وَلَيسَ كَذَلِكَ العَينُ

Aku hanya menekankan penting kumur-kumur dan menghisap air ke hidung bukan membasuh dua mata, karena sunnah (perbuatan Nabi Saw), dan karena mulut dan hidung suka berubah sedang air memutus perubahan keduanya, dan itu tidak terjadi pada mata.

 

Tampaknya Imam al-Baghawi (w. 516 H.) melihat makna penekanan dalam perkataan Imam al-Syafii (w. 204 H.) sebagai Sunnah Mu’akkadah. Yakni kumur-kumur dan menghirup air ke hidung hukumnya Sunnah Mu’akkadah, sedang mencucuci dua mata Sunnah, tapi tidak Mu’akkadah. Tapi terbantah oleh pernyataan Imam al-Qadhi Abu al-Thayyib (w. 405 H.) bahwa tidak ada teks dalam kitab al-Umm yang mensunnahkannya. Yakni teks Imam al-Syafii (w. 204 H.) yang disebut oleh Imam al-Baghawi (w. 516 H.) sebagai teks yang mensunnahkan memcuci mata adalah teks yang tidak mensunnahkan. Karena teks tersebut hanya menekankan pentingnya kumur-kumur dan menghisap air ke hidung, bukan sedang mensunnahkan membasuh dua mata.

Mushannif, atau Imam Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476 H.) menyandarkan argumen para ulama madzhab Syafii yang mensunnahkan mencuci dua mata kepada riwayat (atsar) dari Ibn Umar (w. 73 H.). Bahwa beliau membasuh matanya sampai buta. Atsar ini shahih yang diriwayatkan oleh Imam Malik (w. 179 H.) dalam kitab al-Muwaththa halaman 404 dari Imam Nafi‘ (w. 117 H.) bahwa Ibn ‘Umar:

كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ يَتَوَضَّأُ فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَيَنْضَحُ فِي عَينَيهِ

Ketika mandi dari janabat (mandi besar) berwudhu lalu membasuh wajah dan meneteskan air dalam kedalam dua matanya.

Demikian pula redaksi dalam riwayat Imam al-Baihaqi (w. 458 H.). Tidak ada riwayat yang menyebutkan “sampai buta (حَتَّى عَمِيَ).”  Dalam kedua riwayat tersebutkan diriwayatkan “dua mata.” Sedang dalam kitab al-Muhadzdzab, mata, bukan dua mata. Yakni mufrad. Oleh karenanya redaksi yang dipilih oleh Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476 H.) tentang butanya mata Ibn Umar (w. 73 H.), yaitu hattâ’ ‘amiya, mempunyai dua kemungkinan pengertian. Pertama, Ibnu Umar (w. 73 H.) buta diakibatkan oleh seringnya memabasuh mata dengan air. Lalu setelah buta, Ibn Umar (w. 73 H.) menghentikannya. Hal ini sebagaimana difahami secara spontan dari redaksinya. Kedua, Ibnu Umar (w. 73 H.) buta disebabkan oleh faktor lain. Yakni bukan disebabkan seringnya membasuh mata dengan air. Dalam kitab Tahdzîb al-Lughah jilid 1 halaman 141 karya Imam al-Azahari (w. 370 H.) terdapatqaul (pendapat) pakar bahasa Ibn al-’A‘rabi (w. 231 H.) tentang pengertian kata al-qada‘ (القَدَعُ). Ia menyampaikan riwayat:

كَانَ أبْنُ عُمَرَ قَدَعَا

Ibn Umar itu qada‘.

Al-Qada‘ (القَدَعُ) artinya keringnya mata karena banyak menangis. Tampaknya ini yang menyebabkan Ibn Umar (w. 73 H.) buta. Dan, bisa jadi, Ibnu Umar (w. 73 H.) membasuh matanya dengan air untuk mengobatinya. Demikian alasan para ulama yang mensunnahkan membasuh mata dalam wudhu.

Tapi, Mushannif, atau Imam Abu Ishaq al-Syirazi (w. 476 H.), tidak sepakat dengan ulama yang mensunnahkan. Ia sepakat bahwa membasuh mata tidak disunnahkan. Alasannya dua. Pertama, tidak pernah ditemukan riwayat dari Rasulullah Saw malakukannya. Baik perkataan maupun perbuatan. Kedua, membahayakan mata. Inilah pendapat mayoritas ulama. Di antaranya Imam al-Mawardi (w. 450 H.), al-Qadhi Abu al-Thayyib (w. 405 H.), Imam al-Mutawalli (w. 478 H.), Imam al-Qaffal al-Syasyi (w. 407 H.), Imam al-Rafi‘iy (w. 623 H.),  dan lain-lain. Imam al-Mawardi (w. 450 H.) menukil ketidaksunnahan membasuh mata dari ashhâb (ulama madzhab) Syafii generasi senior, Abu Hamid al-Isfirâyini (w. 406 H.).

Sedang, dalam madzhab selain al-Syafii, hukum membasuh mata sama dengan jumhur. Yaitu tidak sunnah. Bahkan dijelaskan, dalam madzhab imam Ahmad (w. 241 H.), dijelaskan lebih tegas hukumnya. Yaitu Makruh. Tapi ada riwayat dari Imam Ahmad (w. 241 H.) bahwa membasuh mata itu sunnah dalam mandi wajib, bukan dalam wudhu.

Hal ini, yakni yang diperbedakan pendapatnya di kalangan para ulama, adalah membasuh bagian dalam mata, atau bola mata. Adapun membasuh bagian luarnya, maka para ulama sepakat hukumnya sunnah. Bahkan bisa jadi wajib. Misalnya membasuh kedua sudut mata yang tertutup oleh kotoran yang tidak memungkinkan air wudhu masuk kedalamnya tanpa dicucui secara khusus. Jika memungkinkan air masuk kedalamnya maka sunnah mengusapnya. Demikian sebagaimana diperinci oleh Imam al-Mawardi (w. 450 H.). Imam al-Ruyani (w. 502 H.) meriwayatkan dari ulama madzhab Syafii bahwa sunnah dibasuk secara muthlaq mata bagian luar. Imam Abu Dawud (w. 275 H.) meriwayatkan dari Abu Umamah (w. 86 H.) bahwa Rasulullah Saw mengusap sudut-sudut mata beliau dalam wudhu. Abu Dawud (w. 275 H.) tidak mendhaifkannya.

Wallâhu A‘lam.  

Bagikan