ADA APA DENGAN SYA’BAN

ADA APA DENGAN SYA’BAN
(Renungan Isyarat Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Sya’ban)
@deden_mm

Bulan Sya’ban tahun ini sudah memasuki paroh kedua. Amaliah Sya’ban pun viral di medsos, baik yang disunnahkan maupun yang dibid’ahkan menurut sebagian kelompok, khususnya terkait malam Nishfu Sya’ban yang, pada dasarnya, semuanya mengarah pada varian ekspresi umat atau sebagian umat dalam mengagungkan dan mengungkapkan kegembiraan menyambut bulan Sya’ban tentang bagaimana mengisi durasi waktu-waktunya yang berkah.

Menurut sejumlah referensi terpercaya, bulan kedelapan dalam kalender Hijrah ini dinamakan Sya’ban karena pada masa Jahiliyah, kabilah-kabilah Arab kembali pecah atas nama golongan dan bersiap untuk kembali berperang setelah sebelumnya pada bulan Rajab diharamkan, atau disebut tasya’ub (تَشَعُّب). Postingan-postingan yang mengesankan saling curiga, saling tuduh-menuduh dan membid’bahkan terkait amaliah Sya’ban sudah tampak seperti tasya’ubnya orang-orang Arab Jahiliyah di bulan Sya’ban.

Di malam yang agung, malam Nishfu Sya’ban, yang lebih terlihat dan muncul ke permukaan bukannya harmoni yang mempererat persatuan, tapi malah perang dalil yang melonggarkan perpecahan. Atau apalah itu namanya. Yang jelas terjadi tasya’ub di antara kita pada malam itu. Padahal mestinya nama Sya’ban bagi Umat Terbaik bukan untuk tasya’ub, tapi tanda harmonis. Tak tepat apabila membaca ayat 13 dari surah Al-Hujurat waqaf atau berhenti pada kata syu’uban (شُعُوبًا) atau kata qaba’ila (قَبَائِلَ), karena akan mengarah pada pesan tasya’ub, melainkan harus waqaf pada kata lita’arafu (لِتَعَارَفُوا), hingga kemudian pesan harmonisnya terasa.

Kalau memang amaliah Sya’ban itu benar-benar tak ada dalil yang membenarkannya, baik dari Al-Qur’an, Hadits, maupun hasil ijtihad para ulama, maka, mohon maaf, mengatakan bid’ah padanya bukanlah tasya’ub. Namun tetap harus pelan-pelan. “Ulah getas harupateun. Bisi urang nusalah.” Demikian kata orang Sunda. Yakni tidak dengan memfonis melainkan tetap dengan menjaga harmoni yang tulus dan menyejukkan. Atau, dengan kata lain, tidak lantas merasa benar sendiri sedang yang lain salah.

Kitab Durratun Nashihin karya Syeikh Utsman bin Husain Al-Khaubawi yang dinilai sebagian kalangan banyak mengandung hadits dhaif dan palsu yang merupakan kitab yang paling bertanggung jawab menyebarkan keutamaan bulan Sya’ban kepada Muslim Nusantara, memberikan kritik tajam dengan pemilihan kata yang pedas dan panjang lebar tapi ilmiah terhadap praktek Shalat Nishfu Sya’ban. “Bid’ah,” kata beliau. Penulis melihat, pengarang kitab Durratun Nashihin benar-benar mengatahui mana kritik yang tasya’ub dan mana yang sifatnya membangun keharmonisan. Bagaimana tidak, syeikh Al-Khaubawi dikenal sangat toleran dan tidak gampang mendhaifkan dan membid’ahkan, tapi ternyata tidak dalam masalah shalat Nishfu Sya’ban.

Mari melihat Sya’ban lebih jauh lagi dari sela-sela ayat Al-Qur’an. Ada peristiwa besar dalam sejarah risalah dan sebab turunnya Al-Qur’an yang terjadi pada bulan Sya’ban yang kemudian menjadi tonggak perubahan dahsyat bagi dakwah Islam. Yaitu pengalihan Kiblat dari Masjidil Aqsha ke Ka’bah. Protes dan cemooh dari orang-orang Yahudi terdengar santer memekikkan telinga. Yang pura-pura setia kepada Rasulullah saw terbongkar kemunafikannya.

Terjadi tasya’ub pada Yahudi sementara persatuan di tengah kaum Muslim semakin kuat. Tampak berkah Sya’ban terlihat pada kaum muslim. Maka pada bulan Sya’ban ini saatnya berani tampil beda dengan Yahudi. Tak peduli dengan celaannya para pencela. Misalnya, sekarang ada masalah Rohingnya, masalah Suriah, masalah Palestina dan lainnya. Belum lagi di dalam negeri tasya’ub terjadi terkait pilpres 2019. Semuanya selaras dengan fenomena Sya’ban pada masa Wahyu. Yaitu tasya’ub musuh dan persatuan umat.

Mata fokus pada Ramadhan mengabaikan Sya’ban, padahal kerinduan pada Ramadhan dirajut dari Sya’ban. Mengabaikan Sya’ban sama dengan mengabaikan Ramadhan. Kalau Ramadhan mempunyai Lailatul Qadar, maka lailatul qadarnya Sya’ban adalah malam Nishfu Sya’ban. Sebut saja misalnya dengan Lailatul Qadar Kecil. Pada surah Ad-Dukhan aya 3 ada kata “malam yang berkah.” Yakni, Al-Qur’an turun pada malam yang berkah. Para mufassir mengatakan, maksudnya adalah Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan. Tapi ada segelintir mufassir yang memaknai malam yang berkah itu dengan malam Nishfu Sya’ban. Memang sangat lemah dalilnya, tapi tak mengurangi kehebatan tafsir itu.

Saya melihat ada sedikit kesamaan antara Lailatul Qadar dan Malam Nishfu Sya’ban. Yaitu berkah, janji pengampunan, dan penetapan segala urusan. Bahkan pada Nishfu Sya’ban ada peristiwa yang sangat penting, yaitu buku catatan amal selama setahun disetorkan ke Allah. Kalau seseorang bisa menghidupkan malam Nishfu Sya’ban atau istilah saya Lailatul Qadar Kecil, maka Lailatul Qadar Besar sudah di depan mata. Para penghafal Al-Qur’an bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat malamnya di bulan Sya’ban demi menggapai Ramadhan.

Bukankah Rasulullah saw sering berdoa meminta berkah di bulan Rajab dan Sya’ban. Kebahagiaan memang ada di Ramadhan tapi pangkal berkahnya ada di Sya’ban. Ramadhan ibarat berbuka puasa, dan Sya’ban ibarat sahur. Kebahagiaan bagi yang berpuasa ada saat berbuka, tapi berkahnya ada di sahur. Bagaimana tidak, sedang sahur adalah makan setelah para penghafal Al-Qur’an murajaah hafalan kepada Allah.

Ada nabi yang namanya seakar dengan kata Sya’ban, yaitu Syu’aib. Para ulama sepakat bahwa Syu’aib adalah nama Arab, beda dengan kebanyakan nama para nabi. Ia berarti “cabang pohon kecil.” Nama ini sesuai dengan risalah nabi Syu’aib yang bercabang ke Madyan dan ke Ashhabul Aikah. Dari kedua kaum itu, satu di antaranya, yaitu Madyan mempunyai garis keturunan yang sama dengan Nabi Syu’aib. Karenanya selalu disebut dalam Al-Qur’an dengan akhahum (أخَاهُمْ).

Kaum nabi Syu’aib, baik Madyan maupun Ashhabul Aikah, melakukan kejahatan dan pelanggaran yang sama, yaitu korupsi dan mempraktekkan sistem ekonomi kapitalisme yang curang. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin dan tertindas. Ia, yakni Syu’aib, seakan-akan simbol perlawanan kaum kecil yang tertindas terhadap para penguasa yang zalim. Tampaknya karakter Nabi Syu’aib dan pola dakwahnya harus dimiliki ketua KPK sekarang. Baca, misalnya, surah Hud.

Menjelang Ramadhan biasanya kebutuhan pokok masyarakat meningkat dan harganya naik. Nuansa Sya’ban nuansa Syu’aib. Jelang Ramadhan mestinya harga-harga lebih stabil dan kebutuhan pokok masyarakat terkendali. Bukan malah pengeluarannya semakin meningkat. Peningkatan hanya pada sedekahnya saja. Bukankah ayat yang mewajibkan puasa Ramadhan turun pada bulan Sya’ban? Nuansa Sya’ban, nuansa keadilan, persatuan, berkah, pengampunan dan peningkatan kualitas ibadah jelang Ramadhan.

Akhir kata, wallahu’a’lam, mohon maaf atas segala kekhilafan saya. Doakan saya, istri, dan anak-anak saya. Baarakallaahu fiikum.

Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan