APA ALASAN KEBAHAGIAANMU?

APA ALASAN KEBAHAGIAANMU?
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Dalam surah Yunus ayat 57 Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَالنَّاسُ قَدْ جَائَتْكُمْ مَوعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Wahai manusia, telah datang kepadamu nasihat dari Tuhan-mu, penawar bagi segala penyakit dalam hati, petunjuk, dan kasih sayang untuk orang-orang mukmin

Dalam ayat ini Allah memanggil seluruh manusia. Bahwa yang selama ini mereka tunggu dan mereka idamkan telah datang. Yaitu Al-Qur’an. Tapi Allah tak menyebutnya dengan nama Al-Qur’an, karena tentu mereka belum akrab dengan nama itu. Sehingga jika yang disebutkan adalah nama Al-Quran maka mereka tidak akan menyangka bahwa yang datang kepada mereka adalah apa yang mereka tunggu-tunggu. Tetapi Allah menyebutnya dengan empat nama yang mencerminkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Yaitu:

1. Nasihat (mau’izhah)
2. Penawar (syifa)
3. Petunjuk (hudan)
4. Kasih sayang (rahmat)

Nasihat pada ayat ini disebut mau’izhah. Berarti ada komunikasi dari hati ke hati antara yang diberi nasihat dan yang memberi nasihat. Jiwa manusia memerlukan motivasi dalam menjalani hidup. Bahkan kebutuhan ini sangat mendesak dalam titik hidup tertentu. Ia butuh kata-kata yang membangkitkan semangat dengan sentuhan cinta sehingga dapat mengambil pelajaran tanpa merasa digurui. Itulah Al-Quran. Nasihat dari rabbikum. Yang mengerti kebutuhan jiwa dan raga manusia. Karena Dia yang menciptakan dan memeliharanya.

Kadang ada perasaan benci dalam hati. Mungkin disebabkan luka atau lain hal. Tiada dari kita kecuali pernah merasakannya. Tapi tahukan kita bahwa hati yang menyimpan kebencian adalah hati yang sakit. Sebut saja dosa. Karena di sekitar luka itu ada kedengkian, kemarahan, dendam, merasa hebat, takabbur, riya dan sum’ah. Ada ketidaktulusan dalam bekerja karena tersisa harap pada manusia. Penyakit-penyakit fisik pun berdatangan. Al-Quran adalah penawarnya. Tiada penawar selainnya. Mungkin, sebagaimana obat, pada mulanya akan terasa pahit. Membaca, menghafal, dan murojaah menjadi sangat berasa. Bukan karena Al-Quran pahit tapi karena hatinya sedang sakit. Bertahanlah. Pada akhirnya akan sampai pada manisnya.

Untuk mengoprasikan produk manusia, misalnya gadget, diperlukan buku panduan. Apalagi lagi manusia dalam mengoprasikan diirinya. Dia perlu buku panduan dari yang menciptakannya. Harus bagaimana dan kemana agar terarah sesuai dengan tujuan penciptaanya. Itulah Al-Quran. Tidak ada buku panduan hidup bagi manusia selainnya. Dia pun rahmat. Kasih sayang. Namun tidak akan merasakannya kecuali yang benar-benar percaya padanya. Ada rizqi, kesejahteraan, kekayaan, jodoh, masa depan, dan hal-hal yang dibutuhkan manusia lainnya. Baik dunianya maupun akhiratnya.

Lalu, dalam ayat berikutnya, yakni surah Yunus ayat 58, Allah Swt berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ، فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah dengan karunia Allah dan dengan rahmat-Nya. Maka hanya dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Dia lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.

Yang dimaksud dengan karunia dan rahmat Allah tak lain adalah Al-Quran. Ada yang menafsirkan “karunia Allah” dengan Al-Quran dan “rahmat Allah” dengan sunnah Rasulullah Saw. Yakni, jika manusia berbahagia, bergembira maka hendaknya Al-Quran menjadi satu-satunya alasan kebahagiaannya. Orang yang dalam hatinya ada Al-Quran sebenarnya telah memiliki segalanya. Dan yang hafal Al-Quran berarti sudah ada pada dirnya seluruh alasan kebahagiaannya. Yang sedang menghafal Al-Quran berarti sedang merangkai kebahagiaannya. Sedang sebaliknya, yang dalam hatinya tidak ada Al-Quran, kendati punya dunia dan isinya, sebenarnya telah kehilangan segalanya.

Dalam kitab Ihya Ulumiddin pada bab syukur, ada riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah Saw yang lebih kurang terjemahannya begini: “Al-Quran adalah kekayaan yang tidak ada kekayaan lagi setelahnya.” Ini sesuai dengan yang terdapat pada penutup ayat 58 dari surah Yunus ini. Yaitu Allah menyatakan:” Dia,” yakni Al-Quran, “lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Ini soal apa yang lebih dicintainya. Jika yang lebih dicintainya adalah harta maka seluruh hidupnya akan disibukkan dengan mengumpulkan harta. Ketika mobilnya atau motornya tergores saat berkendara di jalan maka yang terluka adalah hatinya. Dia sangat takut kehilangannya. Siang dan malam menjaganya. Dan jika yang lebih dicintainya adalah Al-Quran maka seluruh waktunya akan disibukan dengan mengumpulkan Al-Quran dalam hatinya. Dia menjaganya siang dan malam. Sangat takut kehilangan ya. Ketika hafalannya tergores lupa walau satu ayat saat murojaah maka yang tergores adalah hatinya. Karena berarti satu dari 6236 alasan kebahagiannya telah hilang.

Siapa yang tak girang, senang, atau gembira diberi uang yang mencukupkan segala kebutuhannya. Tapi bagi yang iman kepada Al-Quran, diberikan hafalan Al-Quran, kendati hanya satu ayat, lebih girang, lebih senang, dan lebih menggembirakan dari apapun. Apa alasan kebahagiaanmu, wahai manusia? Sungguh dia telah datang kepadamu. Silahkan kumpulkan harta sebanyak-banyaknya atau apapun, tapi pergunakanlah untuk Al-Quran, jangan ragu. Karena Allah berikan keluasan rizqi kepada sebagian manusia agar kecintaannya kepada Al-Quran diimplementasikan dengan cara itu. Maka kebahagiaan, keberkahan, kesejahteraan, kemewahan, dan kecukupan hidup tercurah dari Allah tanpa ada habisnya. Di dunia dan akhirat.

Sabtu, 2 Desember, 2017
Pondok Pesantren Al-Imam Ashim, Makassar

Bagikan