Di Balik Dada Manusia

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

DI BALIK DADA MANUSIA
Tafsir Surah al-Nâs Ayat 5
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Yang berbisik kedalam dada manusia

Surah al-Nâs ayat 5 ini menjelaskan aktivitas al-waswâs al-khannâs yang tak pernah mati. Yaitu yuwawisu (يُوَسْوِسُ), berbisik. Yang dimaksud berbisik adalah menghembuskan tipuan halus dan tampak indah sehingga yang ditipu tidak merasa tertipu. Bisikan itu langsung masuk ke dalam dada manusia. Tak terindra. Telinga tak mampu mendengarnya. Kata yuwaswisu (يُوَسْوِسُ) disebut, dalam Ilmu Nahwu, dengan Fi‘il Mudhâri‘ dari waswasa (وَسْوَسَ). Yaitu kata kerja yang menunjukan waktu sekarang dan akan datang, sehingga megandung pengertian terus menerus dan tak pernah berhenti. Dalam hal ini, sang al-waswâs al-khnnâstersebut tak pernah berhenti dari berbisik. Tak pernah lengah dari tugasnya selama 24 jam untuk merayu manusia. Keadaan ini menuntut agar hati manusia tak lengah dari Allah Swt sedikit pun. Yakni, kalau setan saja tak pernah berhenti berbisik sepanjang waktu maka hati manusia tak boleh berhenti berdzikir sepanjang itu pula.

Memasuki abad keenam Hijrah, atau disebut era muta’akhkhirîn, ajaran Islam menjadi banyak macamnya. Umat tak lagi bersatu dalam ajaran yang jelas berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah. Islam tak lagi kuat menghadapi serangan-serangan dari luar. Puncaknya, Baghdaad, sebagai pusat peradaban Islam, jatuh ke tangan Mongol tahun 656 H. Para ulama kemudian merumuskan tiga pilar pokok dalam berislam. Yaitu ‘Aqîdah (Keyakinan), Syari‘ah (Hukum), dan Tharîqah (Akhlaq). Mengukur kebenaran ketiganya mudah karena Al-Qur’an tetap terjaga dan Sunnah makin bersih. Hanya saja 700 tahun dari masa Rasulullah Saw bukanlah waktu yang sekejap. Jarak tersebut mempengaruhi sistem pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Dari sekian banyak sistem pemahaman dan produk pemahaman para ulama salaf terhadap Al-Qur’an dan Sunnah tentang tiga pilar pokok tersebut diberlakukan seleksi ketat dan objektif mana darinya yang masih utuh (mudawwan), mempunyai jalur periwayatan yang shahih, dan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Maka, dari sekian banyak Madzhab ‘Aqîdah, ditetapkan hanya dua madzhab saja yang memenuhi kriteria. Yaitu madzhab Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H.) dan madzhab Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H.), yang kemudian, kedua madzhab tersebut dikenal dengan nama Ahlussunah wa al-Jama‘ah. Dari sekian banyak madzhab Fiqih hanya empat yang terseleksi. Yaitu madzhab Imam Abu Hanifah (w. 150 H.), madzhab Imam Malik bin Anas (w. 179 H.), madzhab Imam al-Syafii (w. 204 H.), dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.). Lalu dari sekian banya madzhab Tharîqah hanya satu thariqah yang terpilih. Yaitu madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.).

Terpilihnya tujuh madzhab di atas, yakni dua dalam bidang ‘Aqîdah, empat dalam bidang Fiqih, dan satu dalam bidang Tharîqah, tak menyebabkan madzhab-madzhab lain pupus. Hanya saja tak ada jaminan akan otentisitasnya. Khususnya madzhab ‘Aqîdah dan Fiqih. Misalnya madzhab Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H.). Produk ijtihad dan sistem pemahamannya tak terkodivikasi. Yang sampai kepada generasi setelahnya hanya bagian perbagian. Parsial, tercecer, dan tidak utuh. Sementara para pengikut madzhabnya sudah punah. Tak ada pelanjutnya. Tapi tidak menutup kemungkinan madzhab-madzab yang punah pun bisa hidup kembali setelah dilakukan penelitian khsusus dan serius. Ibn Taimiyyah (w. 728 H.), pada abad kedelapan Hijrah, berusaha menghidupkan kembali madzhab‘Aqîdah ulama Salaf. Hanya saja Ibn Taimiyah (w. 728 H.) tidak sampai menemukan sistem pemahaman yang digunakan ulama Salaf. Dalam risetnya, Ibn Taimiyah (w. 728 H.) malah menggunakan madzhab Zhahiri (tekstual) yang banyak dianut oleh para pengikut Madzhab Fiqih Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.) dan Ibn Hazm al-Andalusi (w. 456 H.). Ibn Taimiyyah (w. 728 H.) membangun argumen yang kuat baik rasio maupun teks guna menetapkan madzhab Zhahiri sebagai metodologi yang sah untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan metode Zhahiri ini, ‘Aqîdah, Syarî‘ah, dan Tharîqah dapat diserap langsung dari Al-Qur’an dan al-Hadits. Menurut Ibn Taimiyyah, para ulama Salaf mempunyai pemahaman tentang ‘Aqîdah yang sama dengan yang dirumuskannya melalui metodeZhahiri. Produk riset Ibn Tamiyyah ini melahirkan madzhab baru dalam Aqîdah Islam yang dikenal dengan nama Salafiyyah. Tapi madzhab Ibnu Taimiyyah ini memisahkan diri dengan madzhab-madzhab yang lain. Tidak dapat bergandengan tangan. Yaitu, dalam hal ini, adalah madzhab Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H.) dan madzhab Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H.). Padahal, mestinya, dapat bersatu dan saling menguatkan bangunan Islam.

Berbeda dengan madzhab ‘Aqîdah dan Fiqih yang terkena efek kemunculan madzhab Salafiyyah, madzhab Tharîqah lebih dinamis. Ia menjadi solusi yang hebat untuk kebangkitan Islam pasca jatuhnya Baghdad. Madzhab-madzhab tharîqah bermunculan. Muncul di antaranya madzhab Imam al-Ghazali (w. 505 H.), madzhab Syaikh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H.), madzhab Muhyiddin Ibn Arabi (w. 638 H.), dan madzhab Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 658 H.). Para ulamaTharîqah membangun madzhabnya di atas bangunan ‘aqîdah madzhab Abu al-Hasan al-Asy‘ari (w. 324 H.) dan Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H.) dan bangunan fiqih salah satu dari empat madzhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Serangan Ibn Taimiyah tak mempengaruhi mereka. Karena metodologiTharîqah mereka, setelah berdiri di atas pijakan ‘Aqîdah dan Fiqih yang jelas, bersandar kepada metodologi madzhab Imam al-Junaidi  al-Baghdadi (w. 297 H.). Madzhab Tharîqah, meski berbeda-beda, tetap saling bergendengan tangan antara satu sama lain. Karena mengacu kepada metodologi induk yang sama. Yaitu madzhab Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.). Metodologinya sederhana. Yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Imam al-Junaid al-Baghdadi mengatakan: “Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur’an dan tidak menulis hadits maka tidak dapat diukuti. Karena ilmu kami dikendalikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.” Dengan metodologi Imam al-Jaunaid (w. 297 H.), sanad Tharîqah dapat dilacak dan saling berhubungan dengan madzhab-madzhab para ulama Salaf. Termsuk sampai kepada para shahabat dan Rasulullah Saw.

Di antara ulama Salaf yang pendapatnya tentang akhlak (tharîqah) banyak dijadikan rujukan para ulama adalah Imam Sahal al-Tustari (w. 285 H.). Termasuk yang paling lengkap dari beliau adalah pemahamannya terhadap tafsir dari surah al-Nâs ini, yaitu tentang al-waswâs yang terdapat pada ayat 4 dan ayat 5. Ini yang penulis kehendaki dengan uraian panjang di atas. Yakni agar penulis dan pembaca mendapatkan penafsiran tentang aktivitas al-waswâs al-khannâs pada dada manusia langsung dari pakarnya. Yaitu Imam Sahal al-Tustari. Bukan hanya teori tapi juga pengalaman. Menurutnya bisikan adalah segala sesuatu selain Allah. Karena hati ketika bersama Allah maka akan berkata dari Allah dan jika bersama selain-Nya maka akan berkata dari selain-Nya. Orang yang menghendaki dunia tidak akan bebas dari bisikan. Bisikan tersebut berasal dari bisikan di luar manusia. Yakni ada pihak lain yang menghembuskannya. Tempatnya sama dengan tempat Nafsu Amarah. Dengan demikian, yang berbisik kedalam manusia ada dua. Yakni pertama, pembisik dari luar diri manusia. Inilah bisikan al-waswâ al-khannâs. Ia menghembuskan bisikan kedalam dada. Kedua, pembisik dari dalam diri manusia, yaitu Nafsu Amarah. Ia menghembuskan bisikan langsung kedalam hati, bukan kedalam dada. Dalam surah Qâf ayat 16, Allah Swt berfirman: “Dan Kami mengetahui apa yang dibisikan oleh nafsunya dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadinya.” Mengenal bisikan dari dalam lebih lembut daripada mengenal bisikan dari luar. Mengenal bisikan dari luar lebih jelas dari pada mengenal dunia. Hal ini akan penulis bahas pada bagain berikutnya. Sekarang fokus pada pembisik dari luar.

Cara mengenal bisikan dari luar adalah dengan menahannya. Jika Anda telah menahannya berarti Anda telah mengenalnya. Jika Anda tidak mengenalinya maka Anda akan menjadi tahanannya. Kamu, pembisik (setan), dan dunia ibarat binatang buruan, pemburu, dan umpan. Tidak semata-mata jantung berdetak kecuali sang pembisik mencari-cari kesempatan. Jika Anda ahli puasa lalu Anda hendak berbuka maka dia akan berbisik pada Anda: “Apa yang orang-orang katakan tentang-mu. Kamu dikenal sebagai ahli puasa. Mengapa kamu berbuka.” Jika Anda menjawab: “Aku tidak punya urusan dengan manusia,” maka dia akan berbisik: “Kamu benar. Berbukalah. Karena orang-orang tetap mengenalmu ikhlas dan beramal karena Allah Swt dalam buka-mu.” Anda akan ragu di situ mana bisikan dia dan mana kata hati Anda. Jika Anda ahli ‘uzlah (mengasingkan diri untuk ibadah) lalu Anda hendak keluar dari pengasingan maka dia akan berbisik kepada Anda: “Kamu dikenal sebagai ahli ‘uzlah. Apa kata orang jika kamu keluar dari pengasingan.” Jika Anda menjawab: “Aku tidak punya urusan dengan manusia,” maka dia akan berbisik: “Engkau benar. Keluarlah dari pengasingan. Karena orang-orang tetap mengenalmu sebagai yang ikhlas dan beramal karena Allah.” Demikian pula dengan segala keadaan Anda. Dalam segala diam dan gerak Anda. Juga dalam bangun dan tidur Anda. Dia akan selalu menghubungkannya dengan manusia. Sampai dia akan memerintahkan Anda tawadhu dan melarang Anda merasa ikhlas agar Anda dikenal sebagai ahli ibadah yang tawadhu. Demikian pengertianyuwaswisu fî shudûrinnâs.

Jika kita adalah aktivis muslim yang menentang memilih pemimpin non muslim maka al-waswâs al-khannâs datang berbisik kepada kita. Dia berkata: “Kamu sudah benar. Pilihlah paslon muslim itu. Jika sampai menang maka generasi setelah kamu akan mengenang kemenangan itu dan kamu adalah salah satu pahlawannya.” Jika kita menjawab: “Saya memilih paslon muslim bukan untuk disebut pahlawan, tapi karena semata menjalankan perintah Allah,” maka dia berkata: “Kamu benar. Karena kamu akan dikenal sebagai yang ikhlas dan rendah hati.” Dia tidak mampu mengubah pilihan kita kepada paslon muslim. Tapi dia akan menjadikan pilihan kita kepada muslim tersebut tak bernilai pahala. Niat kita akan dirusak dengan racun yang manis. Pikiran kita dibutakan seakan paslon muslim pilihan kita tak bisa salah. Padahal dia juga manusia seperti kita yang dalam hatinya selalu dibisikan al-waswâs al-khannâs. Kita menjadi terpancing marah sampai mengeluarkan kata-kata yang kotor kepada yang tidak sependapat dengan kita. Ucapan semisal “dasar kafir,” “dasar setan,” meluncur tanpa kendali. Bahkan mungkin ada yang diniatkan.

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan seorang sahabat pengiring perjalanan Rasulullah Saw tiba-tiba keledainya berontak. Dengan spontan dia berkata: “Ta‘isasysyaithân (تَعِسَ الشَّيطَانُ).” Mungkin terjemahan bebasnya mirip dengan kalimat “dasar setan.” Lalu Rasulullah Saw menegurnya bahwa dengan kalimat tersebut justru setan malah senang. Badannya menjadi gemuk. Karena dirinya disebut. Melainkan yang harus diucapkan oleh seorang muslim apabila mengalami kejadian yang tidak mengenakan, jadi kesal, misalnya, adalah menyebut nama Allah. Maka setan akan menjadi kecil. Bukannya malah emosi dan sumpah serapah. Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam al-Ghazali (w. 505 H.) mengatakan: “Jika kamu tidak pernah mengutuk Iblis seumur hidupmu maka kamu tidak akan ditanya oleh Allah soal itu di Akhirat. Tapi jika kamu mengutuknya walau sekali saja maka kamu akan dipinta pertanggungjawabannya. Apakah kutukan itu karena Allah atau karena nafsu (kesal) kepada setan.” Dialah al-waswâs al-khannâs. Kita harus lebih cerdas darinya. Dan tiada manusia yang cerdas kecuali yang selalu berdzikir.

Alkisah, ada seorang laki-laki sholeh yang dikenal tidak pernah marah. Bisikan datang kepadanya seraya berkata: “Jika kamu marah lalu kamu sabar maka pahalamu lebih besar.” Laki-laki tersebut langsung mengetahui bahwa itu bisikan. Tapi pura-pura tidak tahu. Ia bekata: “Bagaimana caranya agar aku marah.” Dia menjawab: “Aku akan membawakan sesuatu padamu. Nanti aku akan mengatakan punya siapa ini maka kamu harus jawab itu punyamu dan aku akan mengatakan itu punyaku.” Lalu dia membawa sesuatu yang dijanjikan tersebut. Laki-laki sholeh berkata: “Itu punyaku.” Dia berkata: “Ini punyaku.” Laki-laki sholeh berkata: Ya, sudah. Ambil saja jika itu punyamu.” Laki-laki sholeh itu tidak marah malah pembisik itu yang marah. Dia bermaksud menipu tapi dia yang tertipu. Demikian kecerdasan hati yang selalu berdzikir.

Di antara lahan empuk yang dipergunakan al-waswâs al-khannâs untuk merayu manusia adalah menilai orang lain lalu membuat perbandingan. Misalnya, dalam konteks Pilkada DKI tahun 2017, kita menilai muslim yang memilih paslon non muslim dengan sebutan munafiq yang pada mulanya hanya untuk sebuah strategi politik. Apa untungnya bagi kita menilai orang lain kendati benar misalnya dia munafiq. Sifat munafiq yang paling berbahaya adalah apabila menimpa hati kita sendiri, bukan orang lain. Keadaannya akan semakin parah apabila kemudian penilaian tersebut dikuatkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits dan tafsir. Ini perangkap al-waswâs al-khannâs. Kemudian dikunci pemikirannya. Sampai ketika ada orang memberikan nasehat bahwa dirinya tengah masuk perangkap al-waswâs al-khannâs maka dia tidak akan merasa. Justru, bisa jadi,  menuduh balik lagi kepada pemberi nasehat itu. Sebaliknya, muslim pemilih paslon non muslim harus ekstra hati-hati. Ia harus memilih karena melihat dengan yakin ada maslahat yang besar pada paslon non muslim tersebut dan melihat ada bahaya yang besar pada paslon muslim. Paling tidak menurut pengamatannya. Tidak boleh karena nafsu atau selera, tapi harus karena ilmu dan ijtihad. Lahannya sangat empuk untuk Al-Waswâs al-khannâs berbisik. Sangat rawan dan rentan karena memang pada dasarnya terlarang. Ibarat makan daging babi dalam keadaan darurat. Niatnya tidak boleh untuk kenyang dan tidak boleh untuk menikmati tapi hanya untuk bertahan hidup. Tidak bisa kemudian melahirkan penilain atau perbandingan bahwa islamnya pemilih paslon muslim hanya formalitas, tidak substansi. Ikut-ikutan dan kurang ilmu. Apa gunanya memberikan penilaian demikian meski misalnya benar dia begitu. Arenanya lebih bahaya. Tapi, bisa jadi, justru biasanya jadi selamat karena jadi hati-hati. Benar kata orang, jalan bagus di kota lebih banyak menelan korban dari pada jalan jelek di kampung. Tapi tetap waspada. Tak boleh hati kosong dari mengingat Allah. Hindari kalimat perbandingan dengan formula: “Buat apa ini kalau tidak ini. Yang penting ini.”

Imam Sahal al-Tustari (w. 283 H.) memberikan nasihat agar terhindar dari bisikan al-waswâs al-khannâs yang dinyatakan dalam surat ini: “Ikhlaslah selalu, maka kamu akan selamat dari bisikan-bisikan yang halus. Berhati-hatilah mencampuri pekerjaan Allah karena penyakit nafsu. Ikutilah selalu Sunnah karena pondasi amal. Berhati-hatilah dengan ‘ujub (merasa telah baik atau paling baik) karena pintu terendah darinya (sangat halus) tidak akan kamu rasakan sampai kamu masuk neraka.  Merasa cukuplah selalu dan rela karena kehidupan dunia sebenarnya  ada di situ. Berhati-hatilah berlebihan bekerja untuk makhluk karena akan menjadi lupa pada dirimu. Diamlah selalu karena kamu akan mengenal keadaan-keadaan spiritual di dalamnya. Tinggalkanlah selalu syahwat karena dengan meninggalkannya kamu dapat melintasi dunia. Bangun malamlah selalu maka nafsumu akan mati dari kecenderungan watakmu dan hatimu akan hidup. Apabila kamu shalat jadikanlah seakan itu shalat terkhirmu. Takutlah pada Allah, maka Dia akan memberimu rasa aman. Berharaplah pada-Nya, maka Dia akan menyampaikanmu pada-Nya. Dan menyendirilah selalu maka malapetaka akan menjauh darimu. Ibn Abbas berkata: “Jika aku tidak khawatir al-waswâs maka aku akan pergi ke berbagai belahan negeri yang aku tidak merasa senang di sana. Tiada yang merusak manusia kecuali manusia.”

Bagikan