Jin Dan Manusia

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

JIN DAN MANUSIA
(Tafsir Suran al-Nâs Ayat 6)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Dari jin dan manusia.

Ayat ini adalah penutup surah al-Nâs, juga merupakan penutup seluruh Al-Qur’an, sehingga sebenarnya menjadi dekat pula dengan ayat pertama dalam Al-Qur’an, yaitu basmalah dalam surah al-Fâtihah. Ketika surah al-Nâs dibaca dengan dilanjutkan langsung kepada surah al-Fatihah maka surah al-Nâs ini, seutuhnya, akan menjadi seperti ta‘awwudz (kalimat meminta perlindungan kepada Allah) untuk al-Fâtihah. Dua makhluk yang disebut dalam penutup Al-Qur’an inilah sebenarnya yang menjadi sasaran utama turunnya Al-Qur’an dari sekalian alam. Yakni, sekan-akan, bagi manusia, memahami Al-Qur’an seluruhnya tak lain adalah memahami dirinya seutuhnya. Lalu, ketika manusia sudah memahami dirinya maka berarti telah memahami Allah sepenuhnya.

Jin, dalam ayat ini, disebut dengan al-jinnah (الجِنَّة). Yaitu bentuk jamak, atau lebih tepatnya Isim Jamak dari kata jinniy (جِنِّيٌّ). Sama dengan kosakata al-Nâs (النَّاس) yang merupakan jamak dari al-ins (الإِنْس). Dalam pengertian, sebagaimana telah penulis jelaskan pada pembukaan tafsir surah al-Nâs ini, manusia tidak disebut nâs(نَاس) kecuali dalam keadaan sudah menjelma sebagai makhluk sosial dan masyarakat. Pada ayat ini, sama halnya jin tidak disebut jinnah (جِنَّة) kecuali sudah menjelma sebagai masyarakat dan makhluk sosial. Yakni makhluk sosial tidak hanya manusia, tapi juga jin. Hanya saja tak kasat mata. Atau, dengan kata lain, jin adalah makhluk sosial yang tak kasat mata. Mereka makan, minum, tidur, beristri, beranak, berinteraksi punya struktur masyarakat, punya peradaban, ada rajanya, ada yang baik, dan ada yang jahat, ada kematian, dan seterusnya. Bahkan alam tak kasat mata mereka membutuhkan hujan. Kehidupan mereka, termasuk pandangan agama mereka, dijelaskan dalam surat khusus dalam Al-Qur’an yang diberi nama langsung dengan al-Jinn.

Tidak ada kontak fisik antara manusia dengan jin karena memang jin makhluk non fisik dinisbatkan kepada manusia (QS al-A‘raf, 27). Manusia tidak dapat berinteraksi dengan jin. Demikian pula jin tidak dapat berinteraksi dengan manusia. Tapi manusia tak hanya fisik, tapi juga tediri dari jiwa yang non fisik. Di wilayah jiwa inilah manusia dan jin dapat saling berinteraksi. Mestinya manusia dan jin bersaudara tapi karena kedengkian satu orang dari bangsa jin, yaitu Iblis (QS al-Kahfi, 50) yang berujung pada dendam, pola interaksi manusia dengan jin dikuasai oleh waswasah. Yaitu bisikan negatif yang halus yang merusak jiwa dan mencelakakan, baik pada pembisiknya maupun yang dibisikannya. Pengaruh interaksi jiwa ini kemudian menjadi terlihat dengan jelas dalam kehidupan nyata. Jin yang berafiliasi dengan Iblis disebut setan. Di antaranya yang sangat profesional dalam merayu manusia disebut al-Waswâs al-Khannâs.

Ketika sifat dengki yang pernah mencelakakan Iblis dan telah memutus hubungan persaudaraan jin dengan manusia itu berada pada manusia atau jin yang lain akibat membuka jalan bagi masuknya waswasah kedalam jiwa maka persaudaraan yang putus bukan hanya antara manusia dengan jin, tapi juga persaudaraan antara manusia dengan manusia dan persaudaraan antara jin dengan jin. Pola interaksi yang sering terjadi kemudian berupa tipu daya, saling mengalahkan dan mencelakakan, dan prasangka. Hanya orang yang berlindung kepada rabb manusia, raja manusia, dan tuhan manusia yang selamat dari bisikan itu. Karena hatinya terus berinteraksi dengan Allah tanpa putus sehingga tak ada celah sedikit pun untuk masuknya waswasah. Benar kata Utsman bin Affan: “Jika hati kita bersih maka tidak kenyang dari Kalam Allah.” Tidak akan pernah bosan murojaah Al-Qur’an. Benar pula Al-Qur’an seluruhnya adalah petunjuk untuk dua makhluk yang disebut dengan dua kata yang menjadi penutup Al-Qur’an. Yaitu al-jinnati wa al-nâs.

Kata min (مِنْ) dalam ayat ini mempunyai pengertian li al-bayân (لِلْبَيَانِ). Yang dijelaskan oleh kata min (مِنْ) ini ada dua, yaitu:

Pertama, kata al-ladzî (الَّذِي) pada ayat al-ladzî yuwaswisu fî shudûr al-nâs (الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ). Yakni menjelaskan bahwa pembisik yang berbisik kedalam dada manusia adalah dari golongan jin dan golongan. Atau setan jin dan setan manusia. Imam Hasan al-Bashri mengatakan (w. 110 H.):

هُمَا شَيْطَانَانِ، أَمَّا شَيْطَانُ الْجِنِّ فَيُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، وَأَمَّا شَيْطَانُ الْإِنْسِ فَيَأْتِي عَلَانِيَةً

Mereka adalah dua setan. Adapun setan jin membisikan kedalam dada manusia (dengan halus dan tanpa terasa). Dan adapun setan manusia datang (menggoda) dengan terang-terangan.

Imam Qadah (w. 118 H.) berkata:

إِنَّ مِنَ الْجِنِّ شَيَاطِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِنْسِ شَيَاطِينَ، فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِن

Sesunggunya dari jin itu ada setannya dan dari manusia pun ada setannya. Berlindunglah kepada Allah dari setan-setan manusia dan jin.

Abu Dzar al-Ghifari (w. 32 H.) pernah berkata kepada seseorang: “Apakah kamu sudah meminta perlindungan kepada Allah dari setan-setan manusia?” Dia menjawab: “Apakah ada setan dari manusia?” Abu Dzar (w 32 H.) berkata: “Benar.” Karena Allah berfirman:

وََكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

Dan demikianlah Kami jadikan untuk setiap nabi setan-setan jin dan (setan-setan) menusia… (QS al-An‘âm, 112)

Ada sekelompok mufassir yang menafsikan kata al-nâs (النَّاس) pada ayat ini bukan manusia. Tetapi jin juga. Karena, menurut mereka, manusia tidak terbayang bagaimana bisa menyampaikan berbisika secara halus dan tak terlihat kedalam dada manusia. Yakni, jin pada ayat ini disebut nâs sebagaimana jin pada surah al-Jin ayat 6 disebut rijâl (رِجَال) yang secara harfiyah berarti menusia-manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Juga dalam surah al-Ahqaf ayat 29 disebut nafaran (نَفَرًا) dan qauman (قَومَا) yang secara harfiyah berarti “beberapa orang” dan “suatu kaum (manusia).” Dalam Tafsir al-Qurthibi (w. 671 H.) disebutkan ada sebagian orang Arab bercerita: Sautu kaum dari bangsa jin datang lalu berhenti. Mereka ditanya: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Kami adalah manusia dari bangsa jin.” Ini adalah maksud dari perkataan Imam al-Farra (w. 215 H.). Dengan demikian kata al-nâs (النَّاس) pada ayat ini diathafkan (disambungkan) melalui kata sambungwawu (و) yang secara harfiyyah berarti “dan” kepada kata al-jinnah (الجِنَّةِ). Yakni untuk melukiskan bahwa jin yang memnggoda manusia dengan rayuan-rayuan mautnya yang halus, saking hebat dan professional menggoda, seakan-akan manusia yang digoda merasa bahwa tidak ada jin pada dirinya dan masyarkatnya. Yang ada hanya manusia. Yakni, bisa dikatakan pula, bahwa jin tersebut sudah bermasyarakat dengan manusia.

Kedua, yan dijelaskan oleh kata min (مِنْ) adalah kata al-nâs (النَّاس) yang menjadi penutup ayat sebelumnya, yaitu dalam kalimat fî shudûr al-nâs (فِي صُدُورِ النَّاسِ). Yakni manusia yang dirayu oleh al-waswâs al-khannâs dengan tipuan yang halus adalah dari kalangan jin dan manusia. Atau dengan kata lain bisikan al-waswâs al-khannâs berkerja pula pada jin. Bukan hanya pada manusia. Tampaknya kata al-nâs (النَّاس) dalam kalimat fî shudûr al-nâs (فِي صُدُورِ النَّاسِ) tidak berarti manusia karena mencakup jin juga. Tapi merupakan Isim Fail dari kata nasiya (نَسِيَ). Artinya lupa. Yaitu kata al-nâsi (النَّاسِي). Artinya yang lupa. Lalu dihilangkan huruf ya-nya (ي) sehingga menjadi al-nâs (النَّاسِ). Artinya yang lupa. Yakni, bisikan al-waswâs al-khannâs sampai kedalam dada yang lupa dari kalangan jin dan manusia.

Dua pengertian min (مِنْ) di atas adalah apabila kata al-nâs (النَّاس) dalam ayat 6 ini diathafkan (disambungkan) kepada kata al-jinnah (الجِنَّةِ). Karena bisa juga kata al-nâs (النَّاس) diathafkan (disambungkan) kepada kata al-waswâs al-khannâs (الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ). Jika di‘athafkan (disambungkan) kepada kata al-waswâs al-khannâs(الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ) maka yang dijelaskan oleh kata min (مِنْ) hanya kata al-ladzi (الَّذِي) dalam poin pertama. Tetapi meng‘athafkan (menyambungkan) kata al-nâs (النَّاس) kepada kata al-waswâs al-khannâs (الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ) membuahkan penafsiran baru yang utuh dari surah al-Nâs ini. Yakni, ada dua kejahatan dalam surah ini yang diperintahkan meminta perlindungan kepada Allah, Rabb manusia, Raja manusia, dan Tuhan manusia. Yaitu pertama, kejahatan al-waswâs al-khannâs yang berbisik kedalam dada manusia. Dan kedua, kejahatan manusia. Yakni, pengertian utuh dari surah ini adalah: “Katakan, aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Tuhan manusia, dari kejahatan al-waswâs al-khannâs yang berbisik kedalam dada manusia dari kalangan jin. Dan aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Tuhan manusia dari kejahatan manusia.” Tentu maksudnya manusia yang lupa dari mengingat Allah yang berarti lupa pula pada kemanusiannya. Termasuk manusia adalah dirinya sendiri. Bagaimana tak bahagia dan tak terlindungi manusia yanh bacaannya adalah surah al-Nâs ini.

(Visited 3 times, 1 visits today)
Bagikan