Kejahatan Yang Tersembunyi

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

KEJAHATAN YANG TERSEMBUNYI
(Tafsir Surah al-Nâs Ayat 4)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan bisikan yang bersembunyi

Inti tema surah al-Nâs, sebagaimana telah penulis bahas pada pendahuluan tafsir surah al-Nâs ini, adalah meminta perlindungan kepada Allah. Disebut isti‘âdzah. Rangkaiannya ada empat. Pertama al-musta‘idz. Yaitu yang meminta perlindungan. Kedua al-musta‘adz bih. Yaitu yang dipinta perlindungannya. Ketiga al-musta‘adz minhu. Yaitu yang dipinta perlindungan darinya. Keempat ’adât al-isti‘âdzah. Yaitu derivasi kata pememintaan perlindungan. Al-Musta‘idz dalam surah ini adalah setiap individu manusia sebagaimana terlihat dari penggunaan kata ganti orang pertama tunggal (mutakallim wahdah) dalam kata ’a‘ûdzu (أَعُوْذُ) pada ayat pertama. Individu tersebut termasuk Rasulullah Saw. sebagaimana terlihat dari kata qul (قُلْ) pada pembuka surah ini. Al-Al-Musta‘âdz bih adalah Allah Swt yang ditampilkan dalam ayat pertama, kedua, dan ketiga sebagai rabbinnâs, malikinnâs, ilâhinnâs. Tidak ada yang dapat memberikan perlindungan atau garansi dari musibah selain-Nya. Al-Musta‘âdz bih, dalam setiap kalimat isti‘âdzah dicirikan dengan penambahan huruf (ب) pada permulaannya. Dalam surah ini, huruf (ب) menempel pada rabbinnâs (رَبِّ النَّاسِ) menjadi bi-rabbinnâs (بِرَبِّ النَّاسِ). ’Adât al-isti‘âdzah pada surah ini adalah kata ’a‘ûdzu (أَعُوذُ). Derivasinya langsung. Menohok. Mengena. Tanpa menyisipkan kata “meminta.” Terjemahannya “aku berlindung,” bukan “aku meminta perlindungan.” Menunjukan betapa butuhnya kepada Allah, kepada perlindungan-Nya, dengan cara merapat langsung kepada-Nya. “Dekat” adalah jarak. Lawannya jauh. Tapi ketika bersanding dengan Allah maka kedekatan itu tak lagi berarti jarak. Kemudian al-musta‘âdz minhu dalam surah al-Nâs ini adalah rangkaian kalimat mulai dari ayat 4 ini yang diawali dari katamin (مِنْ) sampai ayat terakhir surah ini. Dengan demikian surah al-Nâs dari ayat pertama sampai ayat terkhir adalah rangkaian redaksi isti‘âdzah (meminta perlindungan).

Rangkaian redaksi isti‘âdzah disebut shîghat al-isti‘âdzah. Dalam teori ilmu Waqaf dan Ibtidâ (ilmu tentang tata cara berhenti membaca dan memulai membaca), idealnya, surah al-Nâs harus dibaca dengan satu nafas dari ayat pertama sampai terakhir. Karena semua ayat-ayatnya merupakan satu rangkaian redaksi meminta perlindungan (’isti‘âdzah). Berhenti (waqaf) pada setiap penutup ayat menyebabkan rangkaiannya terputus. Atau, paling tidak, waqaf pada ayat keempat ini. Karena pada ayat 4 ini sudah terbentuk unit rangkaian redaksi isti‘âdzah terkecil. Yakni sudah memuat keempat rukunnya kendati al-musta‘adz minhu-nya baru terbaca sebagian. Tapi, penulis melihat, teori Waqaf dan Ibtida tidak mesti demikian pada prakteknya. Waqaf terbaik tetap berhenti pada setiap penutup ayat meskipun maknanya masih bersambung. Karena tidak semata-mata satu ayat ditutup kecuali di situ Rasulullah Saw pernah berhenti. Para sahabat dan tabi‘în mengetahui penutup ayat berpatokan pada waqaf-nya beliau. Justru sebaliknya, setiap ayat, dalam surah al-Nâs ini, akan terasa bobotnya apabila berhenti pada setiap penutup ayat. Rangkaian makna isti‘âdzah tidak akan terputus dengan putusnya bacaan karena ada i‘râb, kata sambung, dan jinâs yang mengubungkannya.

I‘rab adalah perubahan vocal pada huruf terkhir kata disebabkan ada faktor penghubung dalam rangkaian. Misalnya vocal “i” (disebut kasrah) pada huruf kâf (ك) kata maliki (مَلِكِ) dalam ayat maliki al-nâs (مَلِكِ النَّاسِ), dan kasrah pada huruf (ه) kata ilâhi (إِلَهِ) dalam ayat ilâhi al-nâs (إِلهِ النَّاسِ). Yakni, meski kedua ayat tersebut dibaca terpisah dari ayat sebelumnya, maknanya masih tersambung dengan ayat sebelumnya. Ketersambungan tersebut ditandai dengan bunyi vocal “i” (kasrah) pada huruf kâf (ك) dan (ه). Dalam ilmu Nahwu (Gramatika Arab Klasik) hubungan tersebut disebut ‘Athaf Bayân, atau Badal. Di samping ’I‘râb, hubungan antar ayat dalam surah al-Nâs ini ditandai dengan kata sambung. Yaitu kata min (مِنْ) pada ayat keempat ini. Kata min (مِنْ) ini  menghubungkan ayat 4 sampai 6 (ayat terakhir) ke ayat pertama. Yaitu sebagai rangkaian al-musta‘adz minhu. Kemudian kata al-ladzî (الَّذِي) pada ayat 5. Ia menghubung ayat lima dengan ayat 4. Artinya, dalam Bahasa Indonesia, adalah “yang.” Lalu kata min (مِنْ) pada ayat 6. Ia menghubungkan ayat 6 dengan ayat 4 yang terangkai dengan ayat 5. Ada satu lagi penghubung antar ayat dalam surah al-Nâs ini. Yaitu yang disebut dalam Ilmu Balaghah (Ilmu Semantik), atau lebih tepatnya Ilmu Badi‘ (ilmu tentang keindahan bahasa), dengan al-jinâs. Yaitu keserasian kata yang menjadi penutup kalimat (ayat). Setiap ayat dari surah al-Nâs ditutup dengan kata al-nâs. Artinya manusia dengan penekanan sifat-sifat manusia yang berbeda dalam masing-masing ayatnya. Bahkan ayat kempat ini, kata terakhirnya bukan kata yang berarti manusia, melainkan berarti setan, tapi derivasi yang digunakan adalah kata yang bagian belakangnya membentuk kata nâs (نَاس), yaitu al-khan[nâs] (الخَـنَّاسِ). Ini disebutJinâs Ghair Tâm (jinas yang tak utuh). Dengan jinâs ini, ayat-ayat dalam surah al-Nâs tetap berhubungan dengan kuat meski dibaca terpisah (waqaf). Bahkan maknanya semakin mendalam dan memanjang karena waqaf akan melahirkan bacaan panjang di kata terakhir. Disebut, dalam Ilmu Tajwid, dengan Mad ‘Âridh li al-Sukûn.

Yakni, hubungan ayat 4 surah al-Nâs dengan ayat-ayat sebelumnya adalah bahwa setelah al-mustaq‘idz, al-musta‘adz bih, dan ’âdât al-isti‘âdzah disebutkan dengan mendalam pada ayat pertama sampai ayat ketiga, lalu pada ayat ini Allah Swt menyebutkan al-musta‘adz minhu. Yaitu kejahatan al-waswâs al-khannâs. Saat bertemu dengan kata syarr (شَرّ), yaitu kejahatan, dalam ayat ini, penulis teringat salah satu penggalan bait Alfiyyah, yaitu iyyâka wa al-syarrâ. Secara harfiyah terjemahnya: “Padamu dan kejahatan.” Tapi maksudnya tidak demikian. Melainkan perintah berhati-hati terhadap kejahatan. Yakni terjemah yang benar adalah: “Berhati-hatilah kamu terhadap kejahatan.” Tapi yang menarik hati penulis bukan di situ. Melainkan kepiawaian para kiyai di pesantren salafiyyah ketika memberikan penjelasan yang mendalam tentang maknanya yang sesuai kedudukan gramatikalnya. Mereka mengatakan: “Waspadalah kamu terhadap dirimu dari mendekati kejahatan, dan waspadalah kamu terhadap kejahatan dari mendekatimu.” Kaitannya dengan ayat ini, penulis merasakan kekuatan perlindungan Allah Swt yang hebat dalam ayat ini untuk setiap manusia yang berlindung kepada-Nya. Dia melindungi manusia (al-musta‘îdz) dari kejahatan dengan cara menjauhkan kejahatan tersebut darinya dan menjauhkan dirinya dari kejahatan tersebut. Inilah kondisi manusia yang paling aman dan nyaman dalam hidup.

Dari sekian banyak kejahatan yang merusak manusia terdapat kejahatan yang paling jahat. Terhindar darinya menjadi kebaikan terbaik. Ia adalah al-waswâs al-khannâs. Para mufassir, berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih dari Rasulullah Saw, para shabat, dan tâbi‘în, menyatakan bahwa yang dimaksud al-waswâsadalah setan yang mengoda manusia dengan rayuan-rayuan mautnya yang merasuk secara halus kedalam jiwa dan hati manusia. Makna asal al-waswâs adalah bisikan maut dan mematikan dari setan, bukan setannya. Tapi ayat ini menyebut setan dengan al-waswâs. Seakan-akan al-waswâs adalah setan seutuhnya, dan seakan-akan setan adalah bisikan seutuhnya. Tipuan yang paling menipu adalah tipuan yang menjadikan yang ditipu tidak merasa tertipu. Bahkan merasa sedang diberikan kebaikan. Dialah al-waswâs. Dia akan menampilkan wajah keburukan tampak nyata sebagai kebaikan yang hakiki di mata dan hati manusia. Dalam surah al-Baqarah ayat 268 terdapat pernyataan bahwa setan menjanjikan kemiskinan dan memerintahkan pelit. Dalam Tafsir al-Futûhât al-’Ilâhiyyât ketika menafsirkan al-Baqarah ayat 268 ditemukan analisa psikologis tentang kalimat menjanjikan dan memerintahkan yang dilakukan setan terhadap manusia. Bahwa setan, sampai kapan pun, tidak akan mampu memerintahkan manusia untuk pelit, karena pelit merupakan sifat yang bertentangan dengan hati nurani (fitrah). Karenanya, dalam Al-Baqarah 268, pelit disebutkan dengan al-fahsyâ’, yaitu perbuatan keji yang sama kejinya dengan berzina. Manusia tidak akan mau menurutinya. Tapi setan mengerti bagaimana menyampaikan pesan bisikannya kepada manusia agar dituruti. Ia cukup mengatakan kepada manusia yang hendak sedekah: “Kamu mau miskin?” Pasti jawabannya tidak mau, karena kemiskinan merupakan hal yang tidak disukai secara naluri. Kemudian setan mengatakan: “Kalau tidak mau, tahan hartamu. Karena jika tidak ditahan maka akan habis dan kamu menjadi miskin.” Hal ini sama dengan teknik komunikasi atau memasukan sugesti dalam Hipnotis. Orang yang sedang dihipnotis tidak akan menuruti perintah penghipnotis meski dalam keadaan di alam bawah sadar selama perintah yang masuk bertentangan dengan hati nurani. Misalnya perintah membuka baju di muka umum. Maka tidak akan dituruti. Tapi ketika komunikasinya dibuat nyaman. Misalnya begini: “Untuk yang saya sentuh. Dengarkan kata-kata saya. Jika Anda mendengar maka anggukkan kepala.” Orang yang dihipnotis pasti mengangguk. Lalu penghipnotis berkata: “Bayangkan Anda sedang di kamar mandi. Pintu ditutup dan tak seorang pun yang melihat Anda. Sekarang lepaskan pakaian Anda sampai tak sehelai pun ada yang menutupi bagian tubuh Anda.” Nah, kalau perintahnya demikian, maka perintah tersebut akan dituruti. Setan sebagai al-waswâslebih hebat rayuannya dan lebih kuat sugestinya dibanding penghipnotis. Ia menjulurkan belalainya kepada manusia lalu merasukinya. Pengaruhnya menjalar ke seluruh tubuh melalui saluran pembuluh darah. Ia menggenggam hati manusia dan menguasai jiwanya. Musuh di dalam selimut. Karenanya sangat berbahaya.

Ibn Katsir (w. 774 H.) mengaitkan al-waswâs ini dengan setan qarîn (قَرِينٌ) yang terdapat dalam surah al-Zukhruf ayat 36. Bahwa orang yang hatinya lalai dari Allah Swt akan ditemani setan. Di sebut qarîn. Artinya teman yang selalu menemani dalam keadaan apapun, kemanapun, di manapun, dan kapanpun. Bahkan termasuk ketika orang tersebut sedang berbulan madu dengan istrinya maka qarîn ikut berbulan madu juga. Menafsirkan al-waswâs dengan qarîn adalah sesuai dengan sifat al-waswâs yang dilukiskan sebagai al-khannâs. Berasal dari kata khanasa (خَنَسَ). Artinya bersembunyi. Hal ini, berdasarkan penafsiran yang disandarkan oleh para mufassir kepada Rasulullah Saw dan para sahabat, karena setan bukanlah al-waswâs lagi jika hati manusia tak terputus ingatnya pada Allah. Setan dengan segala macam rayuan mautnya tidak berbahaya terhadap hati yang aktif berdzikir kepada-Nya. Aplagi hati tersebut menyerap ayat demi ayat surah al-Nâs ini. Setan yang kalah menembus hati yang berdzikir disebut al-khannâs. Ia bersembunyi. Karena jika tidak bersembunyi maka akan hancur sama sekali. Badannya mengecil seperti lalat yang tak berdaya. Tapi al-Khannâs ini, selain menunjukan bahwa al-waswâs selalu kalah menghadapi hati yang aktif berdzikir, menunjukan sebuah strategi untuk menyerang balik dari arah yang lengah. Al-Râzi (w. 606 H.), dalam Mafâtih al-Ghaib, menyatakan bahwa al-khannâs menunjukan profesi. Ibn Asyur (w. 1393 H.) mengemukakan, al-khannâs menunjukan seringnya setan melakukan perkejaan sembunyi tersebut sampai sudah menjadi rutinitasnya. Atau disebut “selalu” dan “setiap.” Pekerjaan sembunyi ini sama rutinnya dengan melakukan al-waswâs. Hal ini tak lain menunjukan setan tersebut profesional dan bekerja sangat fokus, karena satu manusia satu setan, bahkan lebih. Mereka tidak akan berhenti bekerja dan berusaha mendapatkan hati manusia untuk menjadi temannya. Walau harus dengan berbagai macam cara. Jatuh, bangkit lagi. Gagal, mengulang lagi. Imam al-Biqai‘ (w. 885 H.) mengatakan hal tesebut sebagaimana terlihat pada pengulangan huruf wâwu (و) dan sîn (س) yang menyusun kata al-waswâs (الوَسْوَاس). Meraka selalu datang dan pergi dari arah yang tidak diketahui manusia. Dan, sebagaimana dijelaskan dalam surah Yasin ayat 62, dalam sepanjang sejarah hidup manusia, cara mereka telah terbukti sukses.

Karakter al-khannâs sama dengan bintang yang disebut dalam surah al-Takwîr ayat 15 dengan akhunnas (الخُنَّاس). Dalam ilmu Astronomi Modern disebut Black Hold, Lubang Hitam. Ia timbul tenggelam dan terus bergerak tanpa ada yang mengetahui keberadaanya. Namun tidak ada benda yang tidak dapat ditelannya. Ia menyedot apapun yang dilaluinya. Demikian al-khunnâs, al-jawâri (الجَواَرِي), al-kunnâs (الكُنَّسِ). Al-Waswâs al-khannas lebih membahayakan dari al-khunnâs. Karena yang disedot oleh al-waswâs al-khannâs adalah iman manusia dan kebahagiannya. Di samping itu, karakter al-khannâs menunjukan bahwa al-waswâs tersebut sedemikian halusnya sampai tak terasa oleh manusia telah menjadi bagian dari dirinya. Hal ini sebagaimana terlihat dari potongan kedua huruf yang menyusun kata al-khannâs. Jika kata al-khannâs dipotong huruf khâ’-nya maka akan tersisa huruf yang menyusun kata nâs (نَاس), yaitu manusia. Yakni, saking dekat dan akrabnya, al-khannâs sudah menjadi bagian dari manusia. Dalam keadaan seperti ini manusia akan merasa keberatan dan sangat menderita saat melakukan pekerjaan yang tidak selaras dengan al-khannâs. Shalat, puasa, zakat, naik haji, dan sedekah, apalagi membaca Al-Qur’an, khususnya surah al-Nâs, terasa pahit. Karena berarti dengan mengerjakan ibadah-ibadah tersebut dia akan kehilangan separuh dirinya. Oleh karenanya, terdapat para mufassir yang menafsirkan al-waswâs dalam ayat ini tak mesti setan, tapi bisa juga berupa bisikan jiwanya sendiri yang mengarah kepada kejahatan. Karena separuh jiawanya adalah setan tapi tak merasa. Bahkan, dalam tahapan al-waswâs yang berikutnya, pengaruhnya lebih kuat lagi. Dia akan menjadi setan seutuhnya. Yang lebih parah lagi, nantinya, manusia yang terjangkiti al-waswâs al-khannâs ini bukan merupakan individu tapi masyarakat. Mereka akan menjadi syarrul bariyyah, sejahat-jahat makhluk dalam semesta, sebagaimana akan penulis bahas pada penafsiran ayat berikutnya. InSyaAllâh. Bacalah kembali surat al-Nâs sampai ayat 4 ini, min syarril waswâsil khannâs, sehingga kita yakin bahwa yang membaca tafsir ini adalah kita seutuhnya bukan separuh kita. Wallâhu A‘lam.

Bagikan