Membelah Fajar Peradaban

Deden Muhammad Makhyaruddin

MEMBELAH FAJAR PERADABAN
(Tafsir Surah al-Falaq Ayat 1)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَق

Katakan, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.

Dalam mushhaf Al-Qur’an yang bersanad ke ulama Kufah, setiap surat diawali dengan basmalah kecuali surah al-Taubah. Tentunya termasuk surah al-Falaq ini. Imam Ibrahim al-Biqâ‘i (w. 885 H.), dalam tafsir Nazhm al-Durar, sebelum berlanjut menafsirkan suatu surat, terlebih dahulu menafsirkan basmalah-nya. Dan untuk setiap basmalah di pembuka setiap surat penafsirannya tidak sama. Yakni, dari 113 basmalah dalam pembukaan surat-surat Al-Qur’an mempunyai penafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan kandungan surat yang diawalinya. Yang dielaborasi Al-Biaq’i (w. 885 H.) adalah tiga nama Allah Swt di dalamnya. Yaitu kata Allâh (الله), al-rahmân (الرَّحمن), dan al-rahîm (الرَّحيم). Misalnya, ketika menafsirkan basmalah dalam surah al-Falaq, Imam al-Biq‘i (w. 885 H.) mengatakan: Dengan nama Allah, yakni yang hanya milik-Nya segala daya dan upaya, Maha Pengasih, yakni mengumpulkan segala kesempurnaan nikmat, Maha Penyayang, yakni yang menyempurnakan kepada para penerima cinta-Nya seluruh kasih berupa keselamatan melalui ucapan yang berkedudukan tinggi. Yakni, qul ’a‘ûdzu bi rabbil falaq.

Basmalah yang ditulis di pembuka setiap surat menunjukan surat tersebut adalah ayat-ayat kasih. Ayat-ayat cinta. Oleh karenanya kasih, sayang, dan cinta harus selalu hadir setiap kali menafsirkan, memahami, dan menjalankannya. Termasuk ketika menafsirkan surah al-Falaq ini. Yakni, Allah Swt menurunkan surah al-Falaq ini untuk keselamatan manusia. Dalam hal ini, kasih Allah datang dalam bentuk menjauhkan dari segala kejahatan. Termasuk kejatahan Yahudi pada zaman Nabi Saw yang pada penafsiran sebelumnya menginginkan Rasulullah Saw mati dengan sihir. Mereka senang melihat beliau dan para sahabat celaka, pecah, dan tak bersatu. Sebaliknya mereka tersiksa melihat Rasulullah Saw dan para sahabat menang, makin solid, dan bersatu. Disebut dengki. Padahal, melalui ayat ini, racun yang sebenarnya adalah dengki yang mereka reguk pahitnya setiap hari. Dan pecah belah hanya terjadi pada umat yang dengki, bukan umat yang didengki.

Sebelum manafsirkan ayat 1 dari surah al-Falaq lebih lanjut, penulis akan mengorek kosa kata dalam ayat ini yang menjadi nama suratnya, yaitu kosakata al-falaq (الفَلَقُ). Imam al-Mawardi (w. 450 H.) dalam Tafsir al-Nukat wa al-‘Uyûn mengemukakan tujuh penafsiran terkait makna al-falaq, yang enam disandarkan kepada riwayat dan yang satu disandarkan kepada tafsir dengan pendekatan tasawuf. Menurut Ibn Abbas (w. 68 H.), al-falaq adalah sebuah penjara di dalam neraka Jahannam. Menurut Abu Abdirrahman al-Sulami (w. 74 H.), guru tafsir dan qirâ’at dari Imam ‘Ashim bin Abu al-Najud (w. 127 H.), al-falaq adalah nama lain dari nama Jahannam. Imam al-Dhahhak (w. 101 H.) mengatakan, al-falaq adalah seluruh makhluk. Menurut Jabir bin Abdillah (w. 73 H.), al-falaq adalah waktu subuh. Ada yang mengatakan, al-falaq adalah gunung-gunung dan batu-batu yang terbelah dengan air. Ada juga yang mengatakan, al-falaq adalah segala sesuatu yang terbelah dari binatang, waktu subuh, biji, dan biji kurma. Yakni, segala sesuatu baik tumbuhan maupun selainnya. Penafsiran ini dikemukakan oleh Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H.). Para ahli tasawuf mengartikan al-falaq dengan terbelahnya hati untuk memahami hingga sampai kepada dan dalam pemahaman-pemahaman tersebut.

Pengertian asal al-falaq adalah al-syaqq al-wâsi‘ (الشَّقُ الوَاسِعُ). Artinya belah yang besar. Waktu subuh disebut al-falaq karena cahanya membelah atau merobek kegelapan. Surah al-Falaq terletak setelah surah al-Ikhlâsh. Tampaknya kata al-falaq mengimbangi kata al-shamad sebagai sifat Allah yang secara harfiyah artinya padat, tak berongga, dan tak terbelah. Sedang al-falaq adalah sebaliknya. Yakni makhluk yang terus berevolusi dan bersiklus. Membelah, melahirkan dan dilahirkan. Allah itu al-Shamad karena tidak melahirkan, tidak dilahirkan, dan tidak membelah. Karena Dia bukan materi yang tersusun dari atom. Juga bukan waktu yang terbagi dan bergulir dari siang, malam, pagi, petang, tahun, dan seterusnya. Tidak ada yang sepadan dengannya. Tidak bisa diserupakan atau dimiripkan dengan siapapun dan apapun. Kapanpun dan di manapun. Al-Shamad adalah pusat. Titik mentok. Yang awal dan yang akhir. Sedang al-falaq mempunyai awal dan akhir terus bergerak menuju pusat, ke titik mentok. Dari-Nya, milik-Nya, dan kembali pada-Nya. Oleh karenanya benar Imam al-Dhahhâk (w. 101 H.) yang menafsirkan al-falaq dengan seluruh makhluk. Juga benar pula yang menafsirkan dengan waktu subuh, gunung-gunung, batu-batu, tumbuhan, dan binatang. Karena tidak ada makhluk kecuali semuanya mengalami siklus al-falaq (pembelahan) untuk keberadaannya. Jika tidak mengalami falaq maka tidak akan pernah ada. Sebaliknya, yakni yang tidak demikian, Dialah Allah al-Shamad. Muara segala kebutuhan makhluk.

Seluruh makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati adalah al-falaq. Mereka ada, bergerak dan atau hidup atas pengaruh dari yang di luar dirinya. Baik langsung maupun tak langsung. Dan baik kasat mata maupun tak kasat mata. Mereka terikat hukum-hukum alam dan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Ada penggerak dan pemberi pengaruh yang gerakan dan pengaruhnya tidak dipengaruhi dari luar diri-nya. Dia mandiri. Karena dia bukan al-falaq. Tapi al-Shamad. Dialah rabbil falaq. Tuhannya falaq. Dialah pencipta, pemilik, pemelihara, penjaga, dan pemegang kendali hukum-hukum alam dan hukum-hukum sosial kemesyarakatan dalam silih bergantinya siang dan malam. Atau sebut saja hukum-hukum al-falaq. Termasuk pengaruh sihir yang diatur Yahudi. Tidak akan terjadi falaq padanya (terealisasi dan sukses) kecuali Rabbil Falaq yang mengendalikannya.

Kejahatan adalah perbuatan makhluk yang keluar (melenceng) dari rel falaq-nya. Atau, dengan kata lain, perbuatan makhluk yang dilakukan tanpa kesadaran dari pelakukanya bahwa ada campur tangan rabbil falaq di dalamnya. Dia merusak, menyengsarakan, dan mematikan. Bukan membangun, memperbaiki, membahagiakan, dan menghidupkan. Bukankah api bisa membakar juga bisa menerangi. Jika api membakar sesuatu yang tidak semestinya dibakar maka itu kejahatan. Api tidak bisa melakukan ini. Dia tidak punya kesadaran. Api membakar karena ada pengaruh dari luar dirinya. Jika pengaruh yang di luar dirinya itu keluar dari rel falaq-nya, maka api pun salah bakar. Demikian pula ketika api menerangi yang tidak semestinya diterangi, itu pun kejahatan. Allah adalah rabbul falaq. Dia Mahakuasa mengembalikan api itu kepada rel-nya. Semua kejahatan itu tidak akan bertahan lama. Tidak akan awet. Kerena tidak semata-mata jadi jahat kecuali telah keluar dari falaq-nya. Seekor ikan tidak akan bertahan lama jika keluar dari air dan pindah ke darat. Ia akan mati meski tidak diapa-apakan. Bahkan, membiarkan ikan berada di darat adalah cara paling mudah untuk membunuhnya. Demikian pula kejahatan, apapun itu, sihir dan kedengkian misalnya, abaikan saja, dan fokus ke rabbil falaq, maka akan mati dengan sendirinya, atau Allah mengembalikannya ke falaq-nya, baik dengan sedikit kekerasan maupun dengan belaian.

Kata qul (قُلْ) di pembuka ayat 1 surah al-Falaq ini tampaknya ditampilkan untuk memberi efek kejut kepada Rasulullah Saw dan semua yang meminta perlindungan kepada Rabbil Falaq agar mengabaikan kejahatan-kejahatan yang datang atau dikirimkan padanya dan fokus kepada Allah, Rabbil Falaq. Mengabaikannya adalah cara paling baik menggagalkannya. Ibn Abbas (w. 68 H.), sebagaiman penulis sebutkan di atas, menafsirkan kata al-falaq dengan penjara di neraka Jahannam, dan Abu Abdirrahman al-Sulami (w. 74 H.) menafsirkan kata al-falaq dengan nama lain dari neraka Jahannam. Hal ini, tampaknya, selain karena Jahannam secara bahasa mempunyai pengertian jurang atau sumur tua yang membelah, curam, dan dalam, juga karena Jahannam merupakan penjara bagi segala kejahatan. Sebut saja tempat pembuangan akhir kejahatan yang sudah putus asa dan tak lagi membahayakan. Ia hanya berbahaya dan memberikan penderitaan yang tak terlukiskan bagi pelakuknya saja. Rabbil Falaq adalah Tuhan yang tak membiarkan kejahatan memberi pengaruh negatif kepada semua yang berlindung kepada-Nya. Tafsir dari Ibn Abbas (w. 68 H.) dan Abu Abdirrahman al-Sulami (w. 74 H.) ini bukan sekadar membuat konsentrasi manusia teralihkan kepada Allah dan mengabaikan kejahatan-kejahatan, tapi juga terdorong untuk tidak melakukan dan mengirimkan kejahatan-kejahatan serupa kepada makhluk lain.

Dalam surah al-’An‘âm ayat 95 dan 96, ketika menegaskan peristiwa pembelahan biji tumbuhan dan biji kurma dan peristiwa pembelahan malam dengan cahaya subuh, Allah menyebut diri-Nya dengan Fâliq al-Habbi wa al-Nawâ (فَالِقُ الحَبِّ والنَّوَى) dan Fâliq al-Ishbâh (فَالِقُ الإِصْبَاحِ). Yakni Pembelah biji tumbuhan dan biji kurma dan Pembelah cahaya subuh. Dari akar kata al-falaq. Tampak dengan jelas, bahwa kata al-falaq terkait dengan pembelahan kehidupan. Konotasinya positif. Atau, dengan kata lain, tidak ada makhluk, baik yang hidup maupun benda mati, kecuali terjadi padanya proses al-falaq secara seimbang untuk kelangsungan hidupnya dan mepertahankan diri dari kepunahan. Ada preses regenerasi di dalamnya. Dalam surah al-Syu‘ara ayat 63, tentang terbelahnya laut melalui pukulan tongkat Nabi Musa untuk exodus Bani Israil, Allah Swt menyebut proses terbelahnya dengan kata infalaq (انْفَلَقَ). Yakni dengan kata yang seakar dengan kata al-falaq. Karena terlebelahnya laut tersebut menjadi alasan selamatnya Bani Israil dari kejahatan penguasa zalim yang berarti memberikan kehidupan. Oleh karenanya, kata al-falaq yang tampil dalam ayat 1 dari surah al-Falaq ini adalah kabar gembira dari Allah akan memberikan keselamatan, kelangsungan hidup, dan kejayaan yang lama bagi siapa saja yang berlindung kepada-Yya. Khususnya dengan membaca surah ini. Kejahatan apapun tidak akan melukainya. Termasuk sihir yang paling berbahaya sekali pun.

Dalam surah al-Baqarah ayat 102 dijelaskan bahwa di antara efek sihir yang paling berbahaya adalah menjadikan sepasang suami-istri pisah. Yang saling mencinta menjadi saling membenci. Orang-orang Yahudi, dengan sihir yang dikirimkan Labid bin ’A‘sham kepada Rasulullah Saw, menginginkan perpecahan itu. Dan, sebagaimana telah penulis jelaskan pada pendahuluan tafsir surah al-Falaq ini, sihir datang kepada Rasulullah Saw saat beliau sedang berada dalam puncak pencapaian. Para sahabat, bahkan orang-orang Arab yang biasanya bermusuhan menjadi bersatu padu dan saling menyayangi. Kedamaian pun tercipta. Yahudi tidak menyukai keadaan Madinah yang tenang dan damai sedemikian rupa. Tidak akan ada cara yang mampu mengalahkan dan merusak susasana tersebut kecuali memecah belah mereka. Namun propokasi tak lagi bisa memperngaruhi mereka. Hanya ada satu cara lagi yang masih tersisa. Yaitu sihir. Oleh karenanya, ayat ini, turun di Madinah, atau turun lagi di Madinah, bukan hanya untuk menghilangkan pengaruh sihir Yahudi, tetapi untuk menjadi pengikat persatuan antara para sahabat sehingga kejaayaan Islam dapat bertahan dan maju. Sampai bergenerasi-generasi. Yang terjadi adalah falaqnya perabadan (pembelahan peradaban). Semakin dinamis dan maju hingga terus tetap bertahan seperti siklus subuh dan maghrib, dan siklus pembelahan pada tumbuhan. Bukan faraq-nya peradaban (perpecahan peradaban) seperti yang diinginkan dengan sihirnya Yahudi.

Pembelahan dan perpecahan dalam Al-Qur’an mempunyai kosakata yang nyaris tersusun dari huruf-huruf yang sama. Yakni sama-sama terdiri dari tiga huruf. Huruf pertama dan huruf ketiga dari akar kata yang mempunyai pengertian pembelahan dan perpecahan adalah sama. Yaitu fa (ف) dan qaf (ق). Tapi huruf yang kedua, atau huruf yang di tengah-tengah kata, tidak sama. Huruf tengah dari akar kata yang mempunyai pengertian pembelahan adalah lam (ل), dan huruf tengah dari akar kata yang mempunyai pengertian perpecahan adalah ra (ر). Yaitu falaqa (فَلَقَ) dan faraqa (فَرَقَ). Tampaknya karena pembelahan dan perpecahan sama-sama belah. Hanya falaqa adalah belah untuk bersatu dan kuat sebagaimana dikehendaki dengan turunnya ayat ini, sedang faraqa adalah belah untuk pecah dan lemah sebagaimana dikehendaki oleh Yahudi.

Surah al-Falaq dengan ayat pertamanya ini tengah mengingatkan pentingnya bersatu setelah meraih kemenangan sebagaimana bersatu dalam memperjuangkannya. Bahkan lebih penting. Dalam tradisi menghafal Al-Qur’an, bersatu dalam mempertahankan hafalan atau disebut murojaah lebih penting dari bersatu menghafalkannya. Syarat utama dan terpenting untuk menjaga persatuan umat adalah tidak mengikuti Yahudi dan fokus berlindung kepada Allah. Yahudi, sebagaimana dalam Al-Qur’an, misalnya surah Âli ‘Imrân ayat 105, dikenal sebagai umat yang pecah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw menyebutkan bahwa Yahudi pecah menjadi 71 golongan, dan Nashrani pecah menjadi 72 golongan. Lalu beliau meramalkan bahwa umat Muhammad pun akan pecah bahkan menjadi 73 golongan. Dan, penyebab pecahnya, tak lain, sebagaimana hadits misalnya riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, adalah mengikuti Yahudi. Karena Yahudi, dengan mengambil pelajaran pada zaman Nabi, dalam golongannya sendiri pecah. Karenanya selalu mempengaruhi golongan lain untuk pecah agar dapat mengalahkannya. Bahkan kalau perlu menggunakan sihir. Mungkin zaman sekarang dengan teknologi. Rasulullah saw bersabda, dalam riwayat al-Hakim ketika menjelaskan penyebab pecahnya umat, bahkan jika Yahudi masuk kedalam lubang hewan dhab (semacam biawak tapi halal) maka kamu mengikuti meraka. Jika umat ini pecah, lalu mereka bersumpah tidak mengikuti Yahudi, maka sebenarnya pecahnya mereka itulah yang disebut mengikuti Yahudi.

Dalam bentang sejarah Islam, perpecahan umat yang diramalkan Rasulullah saw pernah terjadi, dan akan terus terjadi selama mereka mengikuti hawa nafsu seperti Yahudi. Pernah terjadi fitnah khalqul qur’an (kemakhlukan Al-Qur’an) yang mempengaruhi lajunya peradaban. Bahkan masih terasa sampai sekarang. Aktor utamanya adalah Jahm bin Shafwan (w. 128 H.). Ia berguru kepada Ja‘d bin Dinar (w. 105 H.) yang berguru kepada Aban bin Sam‘an. Ibn Katsir (w. 744 H.) dalam al-Bidâyah wa al-Nihâyah menyebutnya Bayan bin Sam‘an yang berguru kepada Thalut putra saudara perempuan Labid bin A‘sham. Thalut berguru kepada Labid bin A‘sham yang menyihir Rasulullah Saw. Jika diteleti lebih mendalam maka setiap golongan yang pecah dari umat Islam akan terlihat benang sanadnya sampai kepada golongan Yahudi. Mungkin, bisa jadi, sekali lagi penulis katakan bisa jadi, pemikirannya tidaklah begitu berbahaya, tapi memilihnya untuk pecah yang berbahaya. Untuk bersatu tidak cukup dengan pemikiran yang benar. Tapi sangat diperlukan kebijakan dan kecerdasan dengan tidak sedikit pun mengikuti hawa nafsu serta belindung kepada Allah. Mungkin dimulai dengan falaq-nya hati seterang cahaya subuh. Bukan faraq-nya hati segelap pekatnya malam. Karenanya surah al-Falaq bersama surah al-Nâs menjadi surah yang paling sering diperintahkan untuk dibaca. Bahkan ketika hendak tidur.

Ramalan dari Rasulullah Saw tentang akan pecahnya umat Islam menjadi 73 golongan karena mengikuti Yahudi sama sekali bukan alasan untuk pecah atau alasan tidak bersatu. Demikian pula hadits riwayat Imam Muslim (w, 261 H.) bahwa Rasulullah Saw bedoa dengan tiga buah doa. Tapi dua dikabulkan dan satu tidak dikabulkan. Dua doa yang dikabulkan adalah agar umat beliau tidak diadzab dengan peceklik dan tidak diadzab dengan banjir. Sedang satu doa yang tidak dikabulkan adalah agar umat beliau tidak berperang. Demikian pula ramalan-ramalan Rasulullah Saw yang lain tentang akhir zaman. Penulis tegaskan bahwa tidak sedikit pun menunjukan alasan untuk pecah atau alasan untuk tidak bersatu. Melainkan sebaliknya, ramalan-ramalan itu adalah rambu-rambu mewaspadai perpecahan. Yakni, dengan rambu-rambu itu, umat menjadi berhati-hati dan waspada sehingga mampu memikirkan konsep yang mengarah kepada persatuan yang dinamis dan semakin kuat.

Umat Islam diharuskan patuh kepada Rasulullah Saw. Jangan seperti Yahudi yang diceritakan dalam Al-Qur’an tidak patuh kepada nabi mereka. Di tengah-tengah mereka ada nabi yang diberikan mukjizat berupa kemampuan mengetahui masa depan dengan mentakwil mimpi dan atau kejadian. Cara-cara Nabi Yusuf dalam mentakwil mimpi dan kejadian adalah menjadi cara umat Islam dalam mentakwil ramalan-ramalan Rasulullah Saw. Di antara ramalan dari mimpi yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf adalah mimpinya Raja yang melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi ekor yang kurus. Juga melihat tujuh tandan gandum yang hijau dan tujuh tandan gandum yang kering. Takwil dari mimpi tersebut adalah akan datang tujuh tahun masa subur lalu akan datang tujuh tahun peceklik yang akan menghabiskan segalanya.

Tapi Nabi Yusuf tidak mentakwilkan demikian. Nabi Yusuf malah memerintahkan agar masyarakat menanam lebih banyak. Karena akan datang tujuh tahun musim yang sangat subur. Lalu setiap kali panen jangan dihabiskan semua. Melainkan harus disimpan. Karena, setelah masa subur itu, akan datang tujuh tahun masa peceklik. Akhirnya, dengan bersandar kepada takwil Nabi Yusuf ini, tujuh tahun pecekliknya memang benar-benar terjadi, tetapi masa-masa susah, seperti kelaparan dan lain sebagainya, akibat peceklik tidak pernah terjadi. Hal ini menyebabkan Mesir pada zaman Nabi Yusuf menjadi satu-satunya negeri yang dipinta bantuan pangannya oleh negeri-negeri lain. Termasuk negeri tempat ayah Nabi Yusuf, yaitu Nabi Ya‘qub tinggal bersama keluarganya.

Cara Nabi Yusuf mentakwil ramalan dalam mimpi Raja adalah teladan bagi umat ini dalam mentakwil ramalan Rasulullah Saw. Ramalan beliau harus disikapi dengan meningkatkan kesadaran, ikhtiar, dan kebijaksanaan akan pentingnya persatuan. Biar masa perselisihannya terjadi, tapi pecahnya tak terjadi. Atau biar pun pada akhirnya terjadi pecah, tapi masa-masa susah yang ditimbulkannya tidak akan terjadi, karena antara satu sama lain akan langsung saling menyadari dan menguatkan. Perpecahan yang tidak menimbulkan kesusahan bukanlah perpecahan tapi pembelahan (al-falaq) untuk peremajaan peradaban. Abaikan pengaruh negatif dan kejahatan dari luar, khususnya Yahudi, dan fokus meminta pelindungan kepada Allah dengan membaca qul ’a‘ûdzu bi rabbil falaq. Diawali dengan basmalah yang maknanya sesuai dengan isinya seperti yang dikemukakan Ibrahim al-Biaq’i (w. 885 H.). Yakin dan pasti Dunia Islam, khususnya Indonesia akan mengalami al-falaq, bukan al-faraq.

Wallâhu ’A‘lam

Bagikan