Penakluk Sihir Kebencian

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

PENAKLUK SIHIR KEBENCIAN
(Pendahuluan Tafsir Surah al-Falaq)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

بسم الله الرحمن الرحيم

Di Madinah, saat Rasulullah Saw hijrah ke sana, terdapat tiga klan Yahudi yang besar. Yaitu Bani Qianuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Mereka sudah berada di Madinah sejak lebih kurang 1000 tahun sebelum Rasulullah Saw dilahirkan. Yang mendorong mereka berimigrasi ke Madinah tak lain adalah menjemput nabi terkahir penyelamat mereka yang diramalkan dalam Taurat akan muncul di pegunungan Paran, atau disebut tanah Hijaz (Makkah dan Madinah). Dan di Madinah sendiri, sebelum kedatangan Yahudi, sudah ada dua klan Arab keturunan Saba dari Yaman, yaitu kabilah Aus dan kabilah Khazraj. Mereka datang ke Madinah pasca jebolnya bendungan Ma‘rib di Yaman yang melumpuhkan mata pencaharian mereka padahal sebelumnya sangat subur. Asimilasi terjadi antara bangsa Arab (Aus dan Khazraj) yang menyoritas minim pengetahuan Agama dengan Yahudi yang dikenal sebagai bangsa yang faham Agama karena mempunyai Kitab Suci. Banyak bangsa Arab yang memeluk Agama Yahudi. Bahkan wanita-wanita hamil di Madinah bernadzar jika anaknya lahir dengan selamat akan dijadikan Yahudi. Hal ini merupakan kesempatan bagi Yahudi untuk menguasai Madinah dari sektor Politik, Pertanian, Perdagangan, dan Agama.

Dalam bidang politik, Yahudi melakukan Poltik Adu Domba antara kabilah Aus dan Khazraj sehingga peperangan terus meletus antara keduanya. Dalam perang ini Yahudi membagi peran. Ada yang bersekutu dengan kabilah Aus dan ada yang bersekutu dengan kabilah Khazraj untuk terus memanas-manaskan suasana. Lalu ketika perang meletus, Yahudi hanya menjadi penonton dan mengatur siasat bagaimana perang menjadi ladang peruntungan yang besar bagi mereka. Biaya perang yang mahal menyebabkan masing-masing dari kabilah Aus dan Khazraj berhutang kepada Yahudi yang setiap kali jatuh tempo dan tidak mampu membayar diberlakukan bunga yang berlipat ganda sampai aset mereka habis dan menjadi milik Yahudi. Lalu pasar-pasar dan kebun-kebun dibangun oleh Yahudi di Madinah dan sekiranya. Tidak ada yang berani melawan Yahudi karena Yahudi membangun sistem itu dengan mengatasnamakan Ayat-ayat Suci yang tak lain sebenarnya hanya mitos Agama yang dibuat-buat untuk sekadar menakut-nakuti.

Perang saudara antara kabilah Aus dan Khazraj menghabiskan segalanya setelah berlangsung selama berabad-abad, mereka kemudian menyadari pentingnya membangun persatuan dan melebur permusuhan. Namun harus ada tokoh yang mampu menyatukannya. Lalu mereka datang ke Makkah setelah mendengar ada nabi menyeru kepada tauhid, persatuan, melebur perbedaan, dan mengajak pada keadilan. Lalu terjadilah bai‘at (sumpah setia) antara perwakilan kabilah Madinah dengan Rasulullah Saw di sebuah Tanjakan di Minah yang dikenal dengan Bai‘at al-‘Aqabah. Inilah awal mula proses hijrahnya Rasulullah Saw ke Madinah sekaligus awal dari permusuhan Yahudi yang besar kepada beliau. Kehadiran beliau di Madinah dengan wahyu yang dibawanya akan menggagalkan dan menghentikan proyek-proyek Yahudi yang telah lama mereka nikmati. Penyimpangan-penyimpangan penafsiran dan fatwa-fatwa Agama yang dilakukan oknum-oknum Yahudi terhadap kitab Taurat yang telah merugikan kabilah Aus dan Kgazraj dan memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Madinah akan diluruskan oleh wahyu Al-Qur’an. Yahudi tidak akan dipercaya lagi. Pada akhirnya nabi yang mereka nantikan kehadirannya selama lebih kurang seribu tahun di Pegunungan Paran (Hijaz) menjadi musuh paling besar mereka. Mereka mengganggap sang nabi datang tak sesuai dengan harapkan mereka. Yaitu berpihak kepada Yahudi dan menyelematkan mereka dari penindasan. Bahkan mereka menginginkan nabi terakhir diutus dari klan mereka.

Permusuhan Yahudi kepada Rasulullah Saw pada mulanya tidak tampak. Karena ketika beliau sampai di Madinah Yahudi bersedia mengadakan perjanjian damai dengan beliau dalam Piagam Madinah. Namun rupanya mereka hanya pura-pura untuk mencari aman saja. Mereka hendak menikam dari dalam. Bahkan mereka terus berusaha mengobarkan permusuhan antara kabilah Aus dan Khazraj dan bersekongkol dengan kelompok munafiqun pimpinan Abdullah bin Ubay untuk membunuh Rasulullah Saw dengan membuka jalan bagi masuknya pasukan Quraisy ke Madinah. Tidak ada perang besar antara Rasulullah Saw dengan kaum Quraisy kecuali Yahudi berperan besar dalam mengobarkannya. Di mulai dari Perang Badar, Perang Uhud, sampai Perang Khandaq (Perang Ahzab). Pengkhianatan demi pengkhianatan terus dilakukan Yahudi. Lalu setiap kali ada bukti yang kuat, Rasulullah Saw diperintahkan untuk memerangi mereka. Bani Qainuqa diperangi setelah memperlihatkan pengkhianatan pasca Perang Badar pada tahun 2 Hijrah. Bani al-Nadhir diperangi setelah terang-terangan berkhianat pasca Perang Uhud pada tahun 4 Hijrah. Dan Bani Quraizah diperangi sepulang Rasulullah Saw dari Perang Khandaq karena terbukti sebagai pengkhianat perang yang menyebabkan meletusnya perang besar di Khandaq (Parit) pada tahun 5 hijrah.

Pada pada tahun keenam Hijrah, Rasulullah Saw dan para sahabat menjadi tenang dan kehidupan berjalan tanpa gangguan karena Yahudi yang merupakan penyebab segala masalah telah selesai diperangi. Kabilah-kabilah Arab di luar Madinah pun banyak yang menyerah dan bergabung kedalam barisan kaum muslimin. Bahkan yang terkuat dari mereka, yaitu Bani al-Mushthaliq. Di akhir tahun itu Rasulullah Saw beserta 1400 sahabat berangkat untuk menunaikan umrah ke Makkah. Namun terhalang di Hudaibiyyah karena pihak musyrikin Makkah tidak mengidzinkan beliau dan para sahabat masuk Makkah. Lalu dibuat perjanjian damai antara Rasulullah Saw dengan orang-orang musyrik Makkah yang dikenal dalam sejarah Islam dengan Perjanjian Hudaibiyyah yang menjadi awal berakhirnya permusuhan orang-orang Makkah terhadap Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Rasulullah Saw dan para sahabat pulang ke Madinah dan membatalkan ihram umrahnya dengan menyebelih hewan dam. Rombongan sampai di Madinah pada akhir bulan Dzul Hijjah dan sudah memasuki Muharram tahun 7 Hijrah.

Yahudi Bani Qainuqa‘, Bani al-Nadhir, dan Bani Quraizah memang sudah tidak ada di Madinah. Tapi Yahudi di luar Madinah masih banyak. Di antaranya di Khaibar dan Fadak. Mereka menyimpan dendam yang mendalam terhadap Rasulullah Saw. Khususnya setelah melihat pencapaian-pencapaian besar yang telah diraih Rasulullah Saw dan para sahabat pasca pulang dari Hudaibiyyah. Dari luar Madinah mereka terus berusaha melenyapkan Rasulullah Saw dengan bantuan sihir. Penyihir-penyihir handal yang mereka punya, baik penyihir wanita maupun penyihir laki-laki, dikerahkan. Mereka menyihir Rasulullah Saw bukan hanya setelah Bani Quraizhah diperangi tapi jauh sebelumnya itu. Tapi tak satu pun sihir yang berhasil mencelakai beliau. Puncak sihir yang dilakukan Yahudi terjadi setelah Rasulullah Saw pulang dari Hudaibiyyah. Segala upaya mereka lakukan agar sihir mereka berhasil sampai kepada beliau. Suasana di Madinah, pasca berakhirnya pengkhianatan Yahudi, sangat mendukung sampainya sihir kepada Rasullah Saw. Interaksi sosial berjalan dengan damai tanpa gangguan. Ditambah Rasulullah Saw tetap membiarkan para Yahudi yang tidak terlibat dalam pengkhianatan hidup berdampingan dengan kaum muslimin. Bahkan Rasulullah Saw mempunyai seorang pelayan berusia muda beragama Yahudi. Namanya Abdul Quddus.

Di antara kabilah Khazraj di Madinah ada kabilah yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Yahudi. Bahkan banyak yang masuk Agama Yahudi. Mereka adalah Bani Zuraiq. Di perkampungan mereka diajarkan ilmu sihir dan maju pesat. Tapi mereka menyembunyikan keberpihakan mereka kepada Yahudi. Disebut kelompok munafiq dari kalangan yang beragama Yahudi. Penyihir paling hebat adalah di klan ini. Di antara mereka ada yang bernama A‘sham. Ia melahirkan anak-anak perempuan yang semuanya penyihir dan seorang anak laki-laki yang juga penyihir bernama Labid bin A‘sham. Ia seorang yang beragama Yahudi tapi hafal Al-Qur’an untuk menyebunyikan keyahudiannya. Padahal hidupannya sangat susah. Dia miskin tapi ketamakan menguasai hatinya. Para tokoh Yahudi mendatangi Labid bin A‘sham menjelang kedatangan kembali Rasulullah Saw dari Hudaibiyyah. Mereka membayar Labid atas sihirnya dengan tiga dinar. Harga yang sangat murah untuk nyawa Rasulullah Saw. Tapi Labid menyanggupinya karena ketamakan dan kesulitan hidup yang dideritanya. Para tokoh Yahudi berpesan kepada Labid agar sihir yang dikirimkan kepada Rasulullah Saw benar-benar kuat. Karena selama bertahun-tahun para penyihir Yahudi tidak pernah berhasil menyihir beliau. Bahkan dengan berbagai cara dan media. Labid langsung mengeksekusi agar sihirnya dapat bekerja bertepatan dengan kedatangan Rasulullah Saw.

Dalam menjalankan aksinya, Labid bekerjasama dengan Abdul Quddus, Yahudi yang menjadi pelayan di rumah Rasulullah Saw. untuk mengambil beberapa helai rambut dan sisir rambut bekas Rasulullah Saw sebelum beliau datang. Labid kemudian menjadikan rambut Rasullah Saw sebagai media sihirnya. Pusat sihir dikirim dari perkampungan Bani Zuraiq. Di sana ada sumur yang disebut Dzarwan, atau Dzi Arwan. Labid melilitkan rambut Rasulullah Saw kepada sisir rambut bekas beliau yang sudah tak terpakai. Lilitan rambut pada sisir tersebut diletakan di dalam kelopak tandan kurma jantan yang tua. Lalu dimasukkan ke dasar sumur Dzarwan dengan dihimpit batu. Labid sendiri yang memasukannya. Labid pun, dengan dibantu para penyihir wanita yang tak lain adalah saudara-saudara perempuannya, mulai mengirim sihirnya kepada Rasulullah Saw yang baru datang dari Hudaibiyyah. Entah mantera apa yang dibacakan. Tapi teknik yang dilakukan Labid sudah mengesankan seram dan merinding meski tanpa mantera dan sugesti. Efek sihir, karena begitu kuat energinya, akhirnya sampai kepada Rasulullah Saw, tapi beliau tidak tahu kalau dirinya tengah diguna-guna. Beliau tampak sakit sampai dijenguk oleh para sahabat tapi tiba-tiba sakitnya hilang. Beliau masih bisa beraktivitas dengan normal. Termasuk mengtur strategi melacak sisa-sisa pengkhiatan Yahudi yang berada di luar Madinah. Di antara efek sihir adalah usus beliau terasa sakit seperti dililitkan pada sesuatu. Kaeadaan tersebut terus menimpa beliau sampai 40 hari, ada yang mengatakan 6 bulan, bahkan ada yang mengatakan 1 tahun. Tapi referensi terbanyak dan terkuat adalah 6 bulan. Puncaknya Rasulullah Saw merasa telah mendatangi istri beliau padahal tidak, dan merasa telah melakukan sesuatu padahal belum. Sampai dua malaikat datang kepada beliau dalam keadaan beliau setengah tidur dengan wujud dua orang laki-laki. Yang satu duduk di dekat kepala beliau dan yang satu lagi di dekat kaki beliau.

“Sakit apa laki-laki ini,” tanya malaikat yang duduk di dekat kepala Rasulullah Saw kepada yang duduk di dekat kaki beliau. Maksudnya Rasulullah Saw.

“Disihir,” jawab malaikat yang duduk di dekat kaki beliau menjawab: “Disihir.”

“Siapa yang menyihirnya?” Tanyanya lagi.

“Labid bin A‘sham,” jawabnya.

“Apa media sihirnya?”

“Sisir bekas, helai rambut yang jatuh saat disisir, dan kelopak tandan kurma jantan.”

“Disimpan di mana?”

“Di sumur Dzarwan.”

Rasulullah Saw mengetahui bahwa obrolan dua malaikat itu wahyu yang mengabarkan tentang penyakitnya. Yaitu pengaruh sihir. Dalam kitab-kitab Tafsir disebutkan bahwa kedua malaikat tersebut memerintahkan membaca surah al-Falaq dan surah al-Nâs sebagai penangkalnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa surah al-Falaq dan al-Nâs ini turun berkenaan dengan pengaruh sihir Labid bin A‘sham terhadap Rasulullah Saw ini. Diriwayatkan Labid melilitkan helai rambut pada sisir yang menjadi media sihirnya berjumlah 11 ikat. Surah al-Falaq yang berjumlah 5 ayat ditambah surah al-Nâs yang berjumlah 6 ayat menjadi 11 ayat. Setiap kali Rasulullah Saw membaca satu ayat dari al-Falaq dan al-Nâs maka terlepaslah satu ikat. Sampai ayat ke 11, maka lepaslah semua ikatan sihir yang dililitkan Labid.

Pada pagi harinya Rasulullah Saw berangkat bersama para sahabat di antaranya Ali bin Abu Thalib dan Ammar bin Yasir menuju tempat sumur Dzarwan berada. Nama sumur Dzarwan tak asing di telinga orang Madinah. Ia adalah sumur milik Bani Zuraiq. Dan Labid yang disebutkan namanya oleh malaikat kepada Rasulullah Saw tak lain adalah seorang penyihir dari Bani Zuraiq yang ternyata beragama Yahudi, bukan Islam. Seorang sahabat Rasulullah Saw yang berasal dari Bani Zuraiq bernama Jubair bin Iyas al-Zuraqi menjadi penunjuk ke sumur tersebut. Sumur Dzarwan ditemukan oleh Rasulullah Saw dan para shabat di dalam kebun kurma Bani Zuraiq. Airnya pucat seperti rendaman daun hena dan pohon-pohon kurmanya seram seperti kepala setan. Ali bin Abu Thalib turun mengambil media sihir Labid dari dalam sumur. Keadaanya persis seperti yang disampaikan dua malaikat di atas. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw melepaskan ikatan helai rambut dari gigi-gigi sisir yang dililitkan Labid sambil membaca surah al-Falaq dan surah al-Nâs. Untuk satu ikat satu ayat. Pengaruh sihir pun tak bersisa.

Sasaran para sahabat selanjutnya mengarah kepada Labid bin A‘sham untuk menghukumnya. Siti A‘isyah mengusulkan agar area tempat keberadaan sumur Dzarwan dibakar. Tapi Rasulullah Saw melarangnya. Untuk menghilangkan jejak sihir cukup dengan menimbun sumur dengan tanah. Beliau bersabda kepada Siti ‘Aisyah: “Allah telah menyembuhkanku. Dan aku tidak ingin menyulut keburukan pada muslimin disebabkan sumur itu.” Beliau tidak menghukum Labid, bahkan tidak marah sama sekali seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa pada beliau disebabkan sihirnya. Pelayan beliau yang Yahudi, yaitu Abdul Quddus, yang membantu Labid mendapatkan helai rambut Rasulullah Saw dan sisir bekas juga dimaafkan. Bahkan tak menghukumnya meski dengan sepatah kata. Tampaknya beliau hendak benar-benar mengakhiri permusuhan yang terus digoreng Yahudi. Inilah cara Nabi dalam menghukum para pembencinya. Yaitu memaafkan. Cara ini pula yang menyebakan keberhasilan Rasulullah Saw tak pernah bisa digagalkan. Selalu naik dan meningkat setiap hari. Pada akhirnya Abdul Quddus sakit parah. Beliau menjenguknya seraya mengajaknya pada Islam. Abdul Quddus tidak berani mengambil keputusan mendahului ayahnya. Ia mengarahkan penglihatan kepada ayahnya. Lalu ayahnya mengangguk isyarat setuju. Abdul Quddus bersyadahat di hadapan Rasulullah Saw lalu meninggal dunia.

Demikian uraian penulis tentang sihir yang pernah mengenai Rasulullah Saw. Penulis meringkasnya dari kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, kitab-kitab sirah, kitab-kitab tarâjim (beografi), dan kitab-kitab nasab Arab. Penulis menuraikannya dengan terperinci. Bahkan tampaknya belum ada yang menulis kisah sihir terhadap Rasulullah Saw selengkap yang penulis kumpulkan dalam tafsir ini. Kisah ini penting penulis uraikan untuk mengangkat lebih jauh dan lebih luas peran surah al-Falaq dan surah al-Nâs dalam memberikan penjagaan dan perlindungan kepada Rasulullah Saw, para sahabat, kehidupan, dan peradaban. Yaitu tentang energi-energi negatif yang menimpa seseorang saat mulai sampai ke puncak keberhasilannya. Tanpa terkecuali Rasulullah Saw. Energi negatif mengenai beliau pasca mendapatkan sukes besar di Hudaibiyyah. Tak semua orang suka dengan sebuah pencapaian gemilang yang dicapai orang lain. Di saat-saat seperti ini dia bisa mendadak jatuh lagi saat menghadapi celaan dan atau pujian. Karena energi celaan dan energi pujian sama-sama dapat membunuh jika belum siap secara mental. Energinya menjadi negatif. Bahkan energi negatif bisa datang dari semua makhluk, termasuk daun pepohonan yang tertiup angin dan atau dirinya sendiri. Yang paling tidak suka kepada beliau dengan segala pencapaian yang diraih, bahkan sampai memendam kebencian, perasaan dendam, dan kedengkian, adalah Yahudi.

Rasulullah Saw bukanlah manusia yang kebal sihir. Hanya saja hati beliau senantiasa ingat dan berdzikir. Sehingga energi negatif tidak bisa sampai kepada beliau. Namun, dengan kejadian ini, Allah Swt hendak memberikan penjelasan, betapa seseorang yang tengah mencapai kesuksesannya dapat dengan mudah dijatuhkan oleh kedengkian para pembencinya, juga pujian para pemujanya, atau energi-energi negatif dari segala yang ada di sekitarnya. Kebencian Yahudi ketika Rasulullah Saw pulang dari Hudaibiyyah adalah puncaknya. Juga merupakan awal puncak pencapaian beliau selama berdakwah. Sihir kebencian pun begitu kuat menghantam pertahan jiwa Rasulullah Saw sampai air sumur Dzarwan yang sebelumnya bening berubah menajdi pucat seperti rendaman daun hena. Salah seorang saudara Labid bin A‘sham yang juga penyihir melalukan survei ke rumah Rasullah Saw. Ia mendengar perkataan Siti Aisyah yang menggambarkan Rasulullah Saw seperti berhalusinasi. Ia berkata: “Jika dia seorang nabi maka pasti akan ada yang memberitahunya. Dan jika bukan nabi maka tidak akan bisa sembuh sampai akalnya hilang.” Ini menggambarkan betapa kuatnya sihir Labid. Yang mempu menetralkan kembali adalah bacaan surah al-Falaq dan al-Nâs. Yakni kedua surah ini bukanlah surah biasa. Tapi luar biasa. Pembacanya dapat terhindar dari gangguan-gangguan besar yang menyebabkan batal sukses. Berupa energi-energi negatif dari diri sendiri dan dari lingkungan sekitar baik manusia maupun makhluk lain. Baik yang kasat mata maupun tak kasat mata. Bukan hanya sihir kecil yang dapat ditangkal dengan surah al-Falaq dan al-Nâs ini tapi sihir besar yang mampu menembus dinding pertahanan seorang nabi. Bukan pencapaian kecil yang dapat dijaga tapi pencapaian besar. Dan bukan hanya kegagalan besar yang dapat dihindarkan tapi sampai pada kegagalan yang terkecil. Oleh karenanya surah al-Falaq dan al-Nâs ini disebut oleh Rasulullah Saw dengan dua surat yang belum pernah diturunkan seumpamanya sebelumnya.

Imam Ibn Katsir (w. 774 H.), saat menafsirkan surah al-Falaq ini mengutip banyak hadits yang menjelaskan keutamaan surah al-Falaq. Di antaranya hadits riwayat Imam Muslim (w, 261 H.) bahwa Rasulullah Saw bersabda kepada ‘Uqbah bin ‘Amir: “Pernahkan kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan malam ini yang belum pernah dilihat yang semisalnya sebelumnya. Yaitu qul ’a‘ûdzu bi rabbil falaq dan qul ’a‘ûdzu bi rabbin nâs.” Dalam riwayat imam Ahmad (w. 241 H.), Abu Dawud (w. 275 H.) dan al-Nasa’i (w. 303 H.), Rasulullah Saw menyebutkan kepada ‘Uqbah bahwa surah al-Falaq dan al-Nâs adalah dua surat terbaik yang dibaca manusia. ‘Uqbah malah menganggapnya biasa mendengarnya. Lalu Rasulullah Saw memerintah agar membaca keduanya sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Dalam riwayat imam Ahmad (w. 241 H.) yang lain, ‘Uqbah berkata: “Aku diperintahkan membaca keduanya setiap selesai shalat.” Rasulullah Saw memerintahkan ‘Uqbah untuk membaca surah al-Falaq pada malam itu, yaitu saat ‘Uqbah menuntun bagal (hewan persilangan keledai dan kuda) yang beliau kendarai Rasulullah Saw. Beliau terus mengulang perintahnya sampai selesai membacanya. Hal ini karena beliau melihat ‘Uqabah tidak terlalu senang dengan diberi surah al-Falaq. Beliau bersabda: “Tampaknya kamu menganggap remeh surah al-Falaq. Tidak ada bacaan shalat yang seumpamanya.” Dalam riwayat al-Nasa’i (w. 303 H.), ‘Uqbah bin ‘Amir hafal surah al-Falaq dan surah al-Nâs langsung diajari oleh Rasulullah Saw malam itu. Beliau menambahkan: “Belum pernah ada yang meminta dengan semisal keduanya dan belum pernah berlindung dengan seumpama keduanya.” Selain ‘Uqbah bin ‘Amir, terdapat sahabat lain yang diajari khusus tentang surah al-Falaq dan al-Nâs ini. Yaitu Abdullah bin Unais al-Aslami, Jabir bin Abdillah, dan Siti ‘Aisyah. Siti ‘Aisyah mengatakan, misalnya sebagaimana dalam Shahîh al-Bukhâri (w. 256 H.), bahwa Rasulullah Saw membaca surah al-Falaq dan al-Nâs lalu meniupkannya kepada kedua telapak tangan beliau lalu mengusap-usapkannya ke kepala, ke wajah, dan ke bagian depan badan beliau. Bahkan Siti ‘Aisyah ikut membacanya untuk kesembuhan beliau sebagaimana diriwayatkan oleh imam Malik (w. 179 H.). Sebelum turun surah al-Falaq dan surah al-Nâs, Rasulullah Saw selalu meminta perlindungan dari sugesti negatif dari jin dan manusia dengan redaksi yang berbeda-beda. Lalu setelah turun kedua surah ini, beliau tidak lagi meminta perlindungan kecuali dengan keduanya.

Surah al-Falaq diberi nama surah al-Falaq dari ayat pertamanya. Sebagaimana surah-surah yang lain, al-Falaq pun ditulis dalam mushaf dengan didahuluibasmalah. Pengertian kata al-falaq berikut penjelasan basmalah-nya akan penulis jelaskan pada penafsiran ayat 1 dari surah al-Falaq. Hal-hal yang terkait surahal-Falaq yang belum penulis jelaskan termasuk tentang riwayat yang menyebutkan Ibn Mas‘ud yang tidak menulis surah al-Falaq dan surah al-Nâs dalam mushaf-mushfanya penulis bahas dalam penafsiran surah al-Nâs, karena surah al-Falaq dan al-Nâs ini seakan satu surat yang sama. Wallâhu ’A‘lam.

(Visited 10 times, 1 visits today)
Bagikan