Sembahan Manusia

Deden Muhammad Makhyaruddin

 

SEMBAHAN MANUSIA
(Tafsir Surah al-Nâs Ayat 3)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

إِلَهِ النَّاسِ

Sembahan manusia

Kata al-Ilâh (الإِله) pada kalimt ilâhinnâs (إله النّاس) diterjemahkan, dalam terjemahan Kementrian Agama, dengan Sembahan. Tidak seperti biasanya. Yaitu Tuhan. Misalnya dalam kalimat lâ ’lâha illallâh (لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ). Diterjemahkan dengan “tiada Tuhan selain Allah.” Bukan “tiada sembahan selain Allah.” Hal ini agar terlihat berbeda dengan terjemahan kata rabb (ربّ) pada ayat pertama yang diterjemahkan dengan Tuhan. Yaitu rabbinnâs (ربّ الناس), Tuhannya manusia. Di sini terlihat bahwa kata ilâh (إله) lebih khusus dari rabb (ربّ). Kata Ilâh (إله) hanya menunjuk kepada Tuhan sebagai ma‘bûd (المعبود). Yakni yang disembah. Atau dibuat kata benda menjadi “Sembahan.” Keberadaan ilâh inilah yang paling dibutuhkan manusia dalam hidupnya. Bisa dikatakan bahwa Allah sebagai rabbinnâs (ربّ الناس) adalah yang dibutuhkan manusia untuk kecerdasan intelektualnya, dan Allah Swt sebagai malikinnâs (ملك الناس) adalah yang dibutuhkan untuk kecerdasan emosionalnya. Kedua-duanya lebih bersifat duniawi. Kalimat  rabbinnâs (رب الناس) dan malikinnâs (ملك الناس) menuntun manusia agar dunianya membawa dirinya pada kebahagiaan akhirat, bukan hanya kebahagiaan dunia saja. Maka, pada ayat ini, Allah Swt sebagai ilâhinnâs (إله الناس) adalah untuk kebutuhan spiritual manusia. Karenanya, sekali lagi, penulis tegaskan, lebih penting. Manusia, meski diberikan kemudahan dan diberikan segalanya dalam hidup, tidak akan tenang dan tidak akan benar-benar bahagia selama belum menemukan ilâh-nya.

Derivsi al-ilâh (الإله) berasal dari kata alaha ya’lahuله-يأله). Artinya berlindung, mengungsi. Surah al-Nâs ini surah perlindungan. Berlindung kepada Allah sebagairabbinnâs, malikinnâs, lalu terakhir sebagai ilâhinnâs, tempat berlindung hatinya. Dialah sang penguasa hati manusia. Ia menjadi tenang dengan mengingat-Nya.Rabbinnâs dan malikinnâs adalah tahapan untuk menuju ilâhinnâs. Siapapun tidak akan faham ilâh sebelum memahami rabb dan malik sebagaimana telah penulis jelaskan pada pembahasan sebelumnya. Kadang perlu waktu lama untuk sampai padanya. Bahkan adakalanya baru bisa hadir setelah lanjut usia. Pase kehidupan di dunia yang paling ditunggu. Tidak akan ada bisikan yang dapat mempengaruhi hati yang tertambat pada ilâh-nya. Pada ayat ini dinyatakan dengan jelas,ilâhinnâs, Sembahan manusia. Setiap yang disembah disebut ilâh meski selain Allah Swt. Brahmana adalah ilâh menurut keyakinan pemeluk agama Hindu. Demikian pula Yehova dan Yesus adalah ilâh dalam keyakinan Yahudi dan Nashara. Tapi kata ilâh dalam pemakaian secara umum menunjuk kepada sembahan yang nyata. Yakni tuhan yang ketuhanannya melekat bukan semata karena keyakinan pemeluknya tapi karena argumen-argumen logika dan filsafat membuktikannya. Yaitu Allah. Dia adalah sembahannya manusia. Bukan hanya sembahannya muslimin yang meyakini-Nya saja tapi juga sembahannya Yahudi, Nashara, Hindu, Buda, Konghucu meski meraka tidak meyakini-Nya. Karena ketuhanan Allah Swt adalah real, nyata, dan faktual. Tak perlu penyembah untuk membutikan keilâhan-nya. Orang muslim yang meyembah Allah Swt hanya karena keyakinannya saja, bukan karena ilmu dan nurani yang bersih, cerdas,  dan dewasa, agamanya dalam bahaya. Jika keyakinannya lemah maka bisa jadi berubah. Dan jika kuat maka tidak akan mampu bertoleransi dengan agama lain secara bijak. Keyakinan yang kuat itu harus dibangun berdasarkan ilmu bukan karena ngotot pada pilihan yang tak difahaminya. Oleh karenanya, dalam Al-Qur’an,lâ ilâha illallâh yang benar adalah yang berlandaskan fa‘lam (فَاعْلَمْ): …ketahuilah. Yakni ilmu.

Kata ilâh, sebagaimana penulis telah bahas di atas, adalah yang disembah, atau sembahan. Berarti manusia (الناس) adalah yang menyembah atau penyembah. Tapi dalam Al-Qur’an kata yang menunjuk kepada penyembah tidak ada yang dibentuk dari derivasi kata ilâh. Derivasi yang digunakan adalah ‘abada ya‘budu ‘abdan ‘âbidun (عبد يعبد عبادة عابد). Menyembah adalah ‘abad (عبد) dan ya‘budu (يعبد). Penyembah adalah ‘âbid. Dan penyembahan disebut ‘ibâdah (عبادة). Penyembah yang kuat dan yang melekat padanya karakter menyembah disebut ‘abd (عَبْدٌ). Artinya hamba. Ibadah pun diartikan penyembahan atau menghamba pada Allah. Patuh dan taat pada perintah dan larangan-Nya. Selanjutnya penulis akan menggunakan kata ibadah untuk penyembahan (penghambaan), kata hamba untuk penyembah, dan kata tuhan untuk ilâh (yang disembah). Pada paragraf sebelumnya penulis menyebutkan bahwa manusia membutuhkan Tuhan untuk mengisi ruang spiritualnya. Di sini penulis akan mencoba dalami bahwa ternyata butuhnya manusia pada Tuhan yang benar berifat bawaan lahir atau disebut fitrah. Semakin dewasa fitrah tersebut dan semakin bersih maka semakin butuh. Apalagi ditempa dengan kesulitan dan tantangan dalam hidup. Butuhnya semakin terasa. Dalam surah al-Dzâriyat ayat 56 disebutkan bahwa “… dan tidak Kuciptakan jin dan menusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud ibadah pada ayat di atas adalah bertauhid. Yakni mengesakan Allah Swt dan membersihkan-Nya dari segala ketidakesaan. Hal ini karena tauhid adalah tuntutan ilmu dan kebutuhan manusia untuk bahagianya. Akal manusia tidak dapat membenarkan tunduk dan patuh kepada selain-Nya. Ibadah adalah aktivitas manusia, segenap jiwa dan raga, yang tidak mau tunduk kepada selain Allah. Surah al-Dzariyât ayat 56 tidak menggunakan derivasi dari kata tauhîd (توحيد) untuk menyatakan tauhid, tapi menggunakan derivasi kata ‘ibâdah (عبادة). Yaitu liya‘budûni (لِيَعْبُدُونِ), bukanliyuwahhidûni (لِيُوَحِّدُونِ). Karena untuk menggambarkan tauhid yang sepenuhnya yang meliputi lahir dan batin. Makna tersebut ada dalam kata ibâdah (عِبَادة). Jika yang dipergunakan adalah liyuwahhidûni (لِيُوَحِّدُونِ) maka akan mengesankan tahudi hati saja. Allah Swt melarang syirik. Karena berarti ada kekuatan selain Allah Swt yang berpengruh pada hidupnya. Ada sesuatu yang ditakuti dan dipatuhi selain-Nya. Jelas hal ini akan mengganggu kreativitas, produktivitas, dan kebahagiaan manusia. Karena selain Allah Swt berarti alam semesta, termasuk dirinya. Mestinya manusia manaklukan alam, termasuk menaklukan dirinya, maka akan hidup bahagia. Bukan takluk dan tunduk kepada alam, apalagi pada dirinya. Selama masih tersisa ketundukan kepada selain Allah meski sedikit maka tidak akan bisa bahagia. Hatinya tidak akan tenang. Karena dengan syirik manusia telah kehilangan kemanusiaannya karena fitrahnya tertutup. Allah sebagai ilâh, ketika manusia medekati-Nya sejengkal maka Dia mendekati manusia tersebut sehasta. Dan jika manusia mendekati-Nya dengan berjalan maka Dia mendekati manusia dengan berlari. Mendekatlah hanya kepada ilâhinnâs, niscaya segala kebutuhan lahir dan batinmu akan tercukupi. Berlindunglah kepada-Nya maka tidak akan ada yang membahayakan lahir dan batinnya.

Biasanya, dalam Al-Qur’an, ketika Allah Swt mengatakan tentang penciptaan manusia, kata ganti yang menunjuk pada-Nya menggunakan kata ganti “kami,” bukan kata “aku,” untuk menunjukan banyaknya keterlibatan makhluk dalam penciptaan tersebut. Tapi dalam al-Dzâriyât ayat 56 tidak demikian. Kata ganti yang digunakan adalah “Aku.” Hal ini tak lain untuk menguatkan makna tauhid di dalamnya. Ibadah tidak boleh kepada selain-Nya. Sedikit dan sekecil apapun. Ayah dan ibu kendati Allah perintahkan untuk berbuat baik dan taat kepada mereka tapi ketaatan kepada mereka tidak bisa melebihi ketaatan kepada Allah. Tidak pula ketaatan kepada orangtua disebut ibadah kepada mereka. Bahkan ketataan anak kepada orangtuanya harus dilandasi karena mentaati perintah Allah, bukan menyembah orangtua.

Dalam Al-Qur’ân, Agama, sebagai jalan peribadatan kepada Allah yang benar untuk menusia mengarungi hidup selama di dunia, disebut al-dîn (الدِّين). Seakar dengan kata dalam bahasa Arab yang artinya hutang. Yaitu al-dain (الدَّين). Tampaknya  hal ini dikarenakan manusia, sebenarnya, dari sudut pandang manusianya, punya hutang kepada Allah yang harus dibayar. Yaitu Allah Swt telah mengadakannya, menciptakannya sebagai manusia, bukan sebagai makhluk yang lain, menyempurnakannya, menghidupkannya, memberinya akal dan nafsu, memberinya ilmu dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bahasa kasarnya, Allah Swt berikan semua itu kepada manusia tidak gratis, tapi sebagai hutang yang harus dibayar selama hidupnya dengan cara beribadah dan mengambdi hanya pada-Nya. Kemanusiaannya akan dicabut jika tidak mau bayar. Allah akan mengadzbanya dan memasukannya ke dalam neraka tanpa prikemanusiaan. Karena manusia, dengan tidak menyembah hanya kepada Allah Swt, telah merusak kemanusiaannya sendiri. Itulah sebabnya dalam surah al-Fâtihah hari Kiamat disebutYaumiddîn, hari Agama. Maksudnya hari pembalasan. Jika ada orang yang mengatakan: “Saya tidak pernah pesan kepada Tuhan untuk menciptakan saya, mengapa harus beribadah kepada-Nya sebagai pembayaran atas hutang penciptaan,” yakni dia menolak adanya Tuhan, atau disebut atheis, maka, sebenarnya, dengan kata-katanya tersebut, dia sedang membuktikan adanya Tuhan. Juga membuktikan dirinya butuh pada Tuhan. Karena, tidak semata-mata dia mengatakan hal yang demikian kecuali karena dia menikmatinya, yakni menikmati kata-katanya tersebut, nyaman dengan pilihannya, dan membutuhkannya. Padahal dia tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan dan kenyamanan dengan kata-katanaya tersebut  jika bukan karena Allah yang telah memberikannya. Jiwanya butuh bahagia. Yakni dia punya tuhan. Tapi Tuhan yang dibutuhkannya tidak diimaninya. Dia malah menuhankan keyakinan meniadakan tuhan itu. Yakni, dengan kata lain, tidak ada tuhan adalah tuhannya. Dalam Al-Qur’an surah al-Jâtsiah ayat 23, manusia yang demikian adalah orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Dia akan mengikuti fikirannya kemana pun mengarah.

Surah al-Nâs ayat 3 ini, kendati menetapkan satu Tuhan, tapi bersandingnya kata ilâh dengan al-nâs menampilkan kesan rukunnya umat lintas agama, karena Allah adalah ilâh semua manusia, termasuk para penyembah selain-Nya. Dalam hal ini, hendak membangun persamaan. Yakni ketika terdapat perbedaan maka yang harus dicari dan ditemukan adalah persamaannya. Jika fokus pada perbedaannya maka manusia sebagai al-nâs, yakni komunitas makhluk di bumi yang berperadaban tidak akan terwujud. Lalu, lama-kalamaan persamaan tersebut akan semakin banyak, bahkan sampai melebur segala perbedaan. Allah akan tuntun hati yang bersih dari dengki, kebencian, dan noda-noda lainnya ke jalan-Nya. Jika tidak mampu rukun di ayat 3, karena ilmu yang belum cukup sehingga akan menggoyahkan iman, maka mundur ke ayat sebelumnya, perlebar persamaannya pada malikinnâs sebagaimana telah penulis bahas sebelumnya. Jika tidak mampu juga maka mundur lagi, perlebar lagi persamaannya pada rabbinnâs sebagaimana telah penulis bahas pula sebelumnya. Jika pemahaman terhadaprabbinnâs, malikinnâs, dan ilâhinnâs telah seimbang sesuai porsi dan urutannya maka akan terwujud peradaban manusia yang hakiki, beradab dan religious, karena hati manusia-manusia-nya selalu tertambat pada Tuhan. Setan tak berdaya. Bisikannya tak mempan menggoda. Karena penjaga hatinya adalahrabbinnâs, malikinnâs, ilâhinnas.

Wallâhu A‘lam

(Visited 11 times, 1 visits today)
Bagikan