Sudah Karena Allah Kah Jihad Kita?

SUDAH KARENA ALLAH KAH JIHAD KITA?
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Semenjak kasus penodaan Agama bergulir, kosakata jihad banyak diteriakkan. Tentu yang dimaksud adalah jihad yang sebenarnya dengan berbagai macam cara. Termasuk turun ke jalan melakukan aksi bela Agama bersama segala resiko yang dihadapi. Bahkan mereka merindukan syahid. Sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan ketika jutaan muslimin tumpah di Jakarta. Perbedaan pun hilang. Berharap perjuangan diridoi Allah. Tapi apakah perjalanan jihad kita sudah mendekati perjuangan yang dicontohkan Rasulullah Saw?

Rasulullah Saw melarang para sahabat di Mekkah untuk melawan orang-orang Quraisy meski kondisinya sudah sangat meperihatinkan. Para sahabat pun terus menunggu turunnya ayat jihad. Tapi ayat jihad tak kunjung turun. Hal ini karena melakukan perlawanan akan mengakibatkan perjuangan semakin berat, penyiksaan terhadap muslimin akan semakin menjadi-jadi, dan dakwah akan terus dikriminalisasi dengan dicari-cari kesalahannya. Karena jumlah muslimin masih sangat sedikit dan dukungan dari tokoh pun masih kurang.
 
Para sahabat banyak yang tak sabar. Mereka tak takut mati. Semangat mereka menggebu-gebu. Keadaan mereka pun, menjelang hijrah ke Madinah, sudah bisa melawan. Karena mereka membela yang benar yang tak bisa dikalahkan. Apalagi Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib yang dikenal gagah serta disegani dan ditakuti lawan sudah di pihak mereka. Tapi kewajiban perang belum turun juga. Hal ini bukan sekadar karena hanya jumlah muslimin masih sedikit tapi lebih karena mental mereka yang belum siap. Mereka masih dicengkram kemarahan. Khawatir jika perang diwajibkan saat itu mereka berperang bukan karena Allah tapi karena marah atau balas dendam atas nama bela Agama.
 
Ketika para sahabat sudah tenang di Madinah dan keinginan untuk berperang sudah pupus maka ayat perang pun turun, yaitu surah al-Haj ayat 39. Hasilnya sangat sedikit sekali yang bersemangat menyambut seruan perang dalam ayat tersebut. Kecuali para sahabat pilihan yang sejak awal semangat berperangnya hanya karena Allah, bukan karena marah. Sampai Allah menegur mereka dalam surah al-Nisa ayat 77, bahwa mereka sangat menginginkan perang hanya saja tidak diidzinkan melainkan diperintahkan shalat dan dzakat. Lalu setelah perang diwajibkan mereka takut kepada manusia seperti takut kepada Allah. Mereka berkata: “Ya Rabb, mengapa Kauwajibkan perang kepada kami. Tangguhkanlah sebentar.” Lebih tegas lagi Allah menegur mereka dalam surah al-Shaff ayat 2 dan 3, bahwa “wahai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. Alangkan besar murka Allah kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan.”
 
Hal ini membuktikan motivasi perang di jalan Allah harus Allah, bukan amarah. Juga harus dalam suasana hati yang sejuk bukan dalam suasana hati yang panas. Sebelum mewajibkan perang, Allah kisahkan terlebih dahulu dalam surah al-Baqarah ayat 246-251 tentang Bani Israil yang meminta kepada nabi mereka agar Allah Swt mengangkat seorang raja yang dapat memimpin perang di Jalan Allah guna melawan penguasa zhalim yang bernama Jalut. Tapi setelah diwajibkan berperang mereka tidak mau berangkat dengan banyak alasan. Di antaranya karena raja yang dipilih Allah tidak sesuai dengan keinginan mereka, yaitu Thalut.
 
Allah pun mengisahkan tidak semua orang boleh ikut berperang di jalan-Nya. Yang boleh ikut hanya orang-orang tertentu yang teruji ketaatannya kepada Allah. Allah berikan ujian berupa rasa haus lalu menemukan sungai yang jernih dan segar tapi dilarang meminumnya kecuali sekadar menciduknya dengan tangan. Hasilnya hanya sedikit saja yang lolos. Karena kemenangan dari Allah hanya diberikan kepada pasukan yang motovasi perangnnya bukan nafsu atau marah tapi Allah semata. Tidak diberikan kepada pasukan yang bertumpu pada banyaknya personil, bersenjata lengkap, berbadan kuat, dan persediaan logistik yang cukup.
 
Dalam surah al-Anfal ayat 5 sampai 7, Allah Swt melukiskan bagaimana keadaan hati orang-orang mukmin dalam perjalanan menuju perang Badar. Betapa mereka tidak menginginkan berangkat. Tapi Allah tetap memberangkatkan mereka seakan digiring pada kematian karena keengganan mereka adalah tanda habisnya dorongan nafsu mereka. Sehingga yang tersisa hanya ikhlas meski dalam kadar yang sangat minim. Bahkan agar mereka mau berangkat pada mulanya Rasulullah Saw menyatakan bahwa Allah menjanjikan satu dari dua kemangan. Yaitu pertama menang atas harta perniagaan orang-orang Quraisy dari Syam yang dipimpin Abu Sufyan, dan kedua menang perang melawan pasukan Quraisy. Spontan mereka terdorong berangkat ke Badar untuk menguasai perniagaan Quraisy pimpinan Abu Sufyan bukan untuk bertempur melawan pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahal. Karena menyerang Abu Sufyan dengan kekayaan Quraisy bersamanya yang tidak berpasukan lebih menguntungkan dan minim resiko.
 
Ketika mereka telah sampai di Badar, harapan mereka untuk menguasai perniagaan Quraisy pupus karena Abu Sufyan berhasil lolos sebelum mereka datang. Ini tak lain karena Allah yang membuatnya lolos sehingga mau tidak mau mereka harus menghadapi pasukan Quraisy pimpinan Abu Jahal tanpa sedikit pun tersisa dalam hati mareka dorongan nafsu atau motovasi selain menjalankan perintah Allah meski, sekali lagi, dengan kadar yang paling minim. Hati mereka dingin dan tenang. Fokus dan pasrah pada Allah. Keadaan inilah yang membyebabkan Allah memberikan kemenangan kepada mereka.
 
Dalam peperangan yang lain berulang kali Allah buktikan motovasi dunia hanya menyebabkan kekalahan. Di antara motivasi duniawi adalah perasaan ujub dan marah. Pada Perang Uhud padahal yang tergoda oleh dunia hanya sebagian kecil dari mereka, yaitu para pemanah. Tapi Allah berikan ujian kepada muslim dengan gugurnya 70 pejuang yang hebat. Di antaranya adalah Hamzah bin Abdul Muththalib dan Mush’ab bin ‘Umair. Dengan ujian ini mereka semakin menyadari pentingnya menghilangkan tujuan-tujuan duniawi. Hal ini terbukti dengan sigapnya mereka kembali menyambut seruan perang Hamraul Asad padahal tubuh mereka masih dalam keadaan penuh luka dari Uhud.
 
Ketika jihad salah seorang dari mereka didorong perasaan marah maka Rasulullah Saw lebih memilih membatalkan perang. Allah Swt mengaturnya demikian karena hendak memberikan kemenangan. Ini seperti terjadi pada peristiwa Perjanjian Damai di Hudaibiyyah. Saat itu Rasulullah Saw mengumumkan kepada para sahabat bai’at kepada beliau untuk berperang sampai mati membela beliau setelah mendengar kabar Utsman bin Affan yang diutus  beliau menemui pemuka Quraisy dibunuh. Sontak para sahabat yang tengah kuat dan menunggu kesempatan untuk membalas kezaliman orang-orang Quraisy sangat antusias menyambutnya. Mereka pun berbaiat. Tapi Rasulullah Saw tanpa musyawarah malah menerima tawaran orang-orang Quraisy untuk berdamai. Terlebih setelah terbukti bahwa kabar tentang terbunuhnya Utsman tidak benar. Mereka menahan kesal terlebih isi perjanjian yang disepakati, secara lahiriah, sangat merugikan muslimin. Tapi justru pengendalian nafsu dan amarah di Hudaibiyah ini menjadi tonggak kemenangan muslimin. Bukankah, dalam Perang Khaibar, Ali bin Abu Thalib tak jadi membunuh lawan tandingnya padahal sebelumnya berjuang mati-matian menjatuhkannya hanya karena lawannya tersebut meludahinya. Ali bin Abu Thalib marah. Ia takut, kalau dilanjutkan, membunuhnya tidak karena Allah, tapi karena marah.
 
Dalam Perang Hunain setelah muslimin berhasil menaklukkan kota Mekkah, salah seorang dari muslimin berkata bahwa dengan jumlah pasukan yang sebesar ini muslimin tidak akan kalah. Ucapan tersebut membuat Rasulullah Saw sedih. Ujub dan bersandar kepada banyaknya pasukan menyelinap masuk ke hati salah seorang dari personil muslimin. Hasilnya, muslimin dengan jumlah pasukan sebanyak itu kocar kacir. Yang bertahan hanya Rasulullah Saw dan paman beliau, al-Abbas berserta beberapa sahabat senior. Ini karena satu orang saja yang ujub, bagaimana kalau dua orang, apalagi banyak. Baru setelah mereka sadar bahwa tiada yang dapat memberikan pertolongan kecuali Allah, mereka menang.
 
Bagaimana dengan aksi kita? Masih tersisakah marah dalam hati kita? Bisakah spirit jihad kita tetap menyala setelah dingin dan setelah tak tersisa lagi kemarahan? Bisakah kita bersatu seperti pada aksi 212 tanpa perlu ada ayat Al-Qur’an yang dinistakan dahulu?
 
Emirates Dubai-Jakarta
21 Februari 2017
Bagikan