ULAMA-ULAMA STEMPEL

ULAMA-ULAMA STEMPEL
Oleh: @deden_mm

Ada yang bertanya kepada seorang Ajengan (gelar Kiyai di tatar Sunda): “Ajengan, manakah ulama yang sebenarnya. Saya ingin melihatnya.”

Benar-benar pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh kiyai. Karena siapapun tidak bisa mengaku ulama juga tidak bisa mengklaim orang lain ulama mengingat hakikat keulamaan yang sangat pribadi.

Ajengan menjawab: “Seseorang itu akan ketahuan apakah dia ulama atau bukan. Ketahuannya nanti di padang Mahsyar. Adapun di dunia tidak dapat diketahui.”

Memang benar syarat ulama berilmu tinggi. Tapi tak semua yang berilmu tinggi spontan jadi ulama. Hanya yang ilmunya menumbuhkan rasa takut kepada Allah saja yang disebut ulama dalam Al-Quran. Rasa takut inilah yang sangat pribadi.

Ulama bukan status sosial. Juga bukan gelar akademik. Seseorang tidak jadi ulama hanya karena terlahir sebagai anak atau cucu ulama, atau menjabat pimpinan ormas keulamaan, apalagi hanya menjadi pimpinan partai Islam. Tidak juga keulamaan ditetapkan oleh panggilan orang-orang awam.

Boleh saja menyematkan sebutan ulama kepada para penyandang status-status di atas. Tapi itu hanya stampel saja. Formalitas. Keulamaan seseorang yang sebenarnya hanya diketahui oleh Allah.

Tak mungkin orang yang takutnya hanya pada Allah sesuai kedalaman dan ketinggian ilmunya masih tersisa rasa takut kepada selain Allah dalam mengamalkannya. Ia menjadi teladan dalam segala hal. Bahkan dalam arena politik sekali pun. Rasa takutnya kepada Allah akan menghindarkannya dari perbuatan amoral.

Ada berhala besar yang biasanya disembah partai-partai politik. Termasuk partai politik Islam yang di dalamnya ada yang berstampel ulama. Politiknya musyrik. Sedang yang takutnya hanya pada Allah akan berani meremukkan berhala-berhala polikit itu walau seorang diri dan meski dengan sangsi yang berat. Misalnya dikriminalisasi, dipersekusi, dipenjarakan, dan lain-lain.

Persaudaraan yang dibangun oleh orang-orang yang takut hanya pada Allah adalah Ukhuwah Islamiyah. Walau dalam hal siyasah (politik). Bukan Ukhuwah Kekuasaan. Bukan pula Ukhuwah Politikiyah. Sehingga menjadi rahmat untuk alam semesta.

Umat merindukan ulama yang takut pada Allah Swt dengan ilmunya di Republik ini. Bukan yang takut pada penguasa dan berani pada Allah. Pantas kata Rasulullah Saw, ulama-ulama stampel itu diancam akan masuk ke dalam neraka sebelum para penyembah berhala. Karena dia pun memberhalakan dunia dengan ilmunya. Menjadikan keulamaan menjadi status sosial dan status politik.

Sadeng, 27 Agustus 2018

Bagikan