CURANG SETITIK RUSAK PEMILU SEBELANGA

Oleh: @deden_mm

Rasulullah Saw bersama para sahabat dalam perjalanan pulang dari Khaibar. Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dari arah yang tidak disangka dan mengenai seorang budak yang bersama beliau.

Sang budak meninggal dunia akibat serangan anak panah nyasar itu. Para sahabat spontan mengomentarinya syahid dan masuk surga. Tapi, Rasulullah Saw berkata dengan nada tinggi:

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya. Sebuah syamlah yang diambilnya dari rampasan perang sebelum dibagikan akan membakarnya di Neraka..”

Budak tersebut menggelapkan harta rampasan perang Khaibar. Ia mengambilnya secara curang sebelum dibagikan. Padahal nilainya tidaklah seberapa. Yaitu hanya syamlah.

Syamlah adalah sobekan baju lusuh untuk dipakai diselempangkan. Ada yang mengatakan, mantel lusuh dari wol. Yakni, barang yang tidak seberapa nilainnya.

Lalu, setelah mendengar Rasulullah Saw berkata demikian, tiba-tiba ada yang menyerahkan seutas tali sendal dan atau dua utas tali sendal yang dicuranginya dari rampasan perang Khaibar. Beliau pun bersabda: “Tali sendal dari neraka.”

Rasulullah Saw pernah memungut sehelai bulu unta seraya bersabda: “Tidak ada sehelai bulu unta pun dari rampasan perang kecuali aku membagikannya.”

Curang terhadap rampasan perang tidaklah main-main bahayanya walau hanya sehelai bulu unta. Karena, betapa merusak wajah kehidupan dan keadilan.

Disebut ghulul. Para ulama, kendati ada yang mengkhususkan, tidak mengkhususkan ghulul hanya berkaitan dengan rampasan perang saja. Tapi, semua bentuk kecurangan.

Curang dalam pemilu dan korupsi termasuk di dalamnya. Mungkin curang satu suara dirasa tidaklah seberapa dan tidak akan mengubah apa-apa pada selisih suara yang begitu banyak. Tapi, tidaklah demikian.

Ibarat pepatah :nira setitik rusak susu sebelanga,” maka “curang setitik rusak pemilu sebelanga.” Bagaimana kalau curangnya bukan hanya satu suara tapi dua suara atau lebih maka tak terbayangkan bagaimana rusaknya.

Jakarta, 27 April 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan