KOK NU JADI KERAS YA (bag. 1) (Tentang Shaf Shalat Campur di Kampanye Prabowo)

KOK NU JADI KERAS YA (bag. 1)
(Tentang Shaf Shalat Campur di Kampanye Prabowo)
Oleh: @deden_mm

Diberitakan Detiknews tanggal 8 April 2019 “Shaf Salat Campur di Kamapanye Prabowo, PBNU: Itu Tidak Boleh, Haram.” Lalu, diberitakan Detiknews pula di tanggal yang sama “Komisi Fatwa MUI Soal ‘Shaf Salat Campur’ di Kampanye Prabowo: Salatnya Sah.”

Vonis haram pada praktek ibadah orang bukan tradisi NU. Saya fikir beritanya terbalik. Tapi, yang terjadi benar demikian. Memang NU tidak mengeluarkan fatwa dan juga sebenarnya tidak bertentangan dengan jawaban Komisi Fatwa MUI.

Tapi, adalah salah kalau yang dimaksud haram oleh Wasekjen PBNU adalah tidak sah. Karena, tidak selamanya haram itu tidak sah. Juga, adalah salah kalau yang dimaksud haram adalah shalatnya. Karena, yang haram adalah “campurnya,” bukan shalatnya, juga bukan berjamaahnya.

Santri NU tentu tahu kitab Jam’ul Jawami tentang Ushul Fiqih. Shaf shalat campur ini masuk masalah yang disebut “al-Wahid bi al-Syakh lahu jihataani.” Sama halnya dengan shalat di tempat hasil ghashab. Maka, ada empat pendapat ulama:

1. Shalatnya sah tapi tidak berpahala. Ini pendapat Jumhur.

2. Shalatnya sah dan berpahala. Ini pendapat yang disebut dalam Jam’ul Jawami’ dengan “qiila.”

3. Shalatnya tidak sah tapi kewajibannya gugur. Ini pendapat al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani dan al-Imam Fakhruddin al-Razi.

4. Shalatnya tidak sah dan tidak gugur kewajibannya. Ini pendapat Imam Ahmad.

Cocoknya, NU memilih pendapat nomor 02 yang mengatakan sah dan berpahala Tapi, gak apa-apa juga milih pendapat 01, sah tapi tidak perpahala.

Bogor, 10 April 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip