KOK NU JADI KERAS YA (bag. 2) (Tentang Shalat di Tribun Stadion Utama GBK di Kampanye Prabowo)

KOK NU JADI KERAS YA (bag. 2)
(Tentang Shalat di Tribun Stadion Utama GBK di Kampanye Prabowo)
Oleh: @deden_mm

Selain Shaf Shalat Campur, juga ramai diperbincangkan shalat di Tribun Penonton. Memang, dalam madzhab Syafii, ada perbedaan pelaksaan shalat yang mencolok antara shalat fardhu dan shalat sunnah di mana aturan shalat fardhu lebih ketat.

Misalnya, melakukan Shalat Fardhu dengan berdiri serta ruku dan sujudnya normal adalah wajib bagi yang sedang tidak sakit. Tidak ada toleransi. Demikian pula wajib menghadap qiblat.

Dan, shalat di tribun akan menyebabkan:

1. Terkendala berdiri.

2. Tidak dapat mengerjakan ruku dan sujud dengan normal

2. Tidak dapat menghadap qiblat bila di selain tribun timur.

Soal berdiri atau ruku mungkin dapat diatasi dengan mudah oleh sebagian orang. Tapi, soal sujud akan sulit di atasi. Kondisi ini mangharuskan setiap orang yang hendak shalat mencari tempat yang di sana dapat mengerjakan shalat dengan normal.

Jika, tidak dapat mencarinya karena berjubel orang atau akan keburu habis waktunya kalau mencari maka, baru, di situ, wajib mengerjakan shalat sebisanya. Shalatnya disebut Shalat Lihurmatil Waqti.

Tapi, konsekwensinya, setelah nanti menemukan tempat shalat yang normal maka menurut pendapat dalam madzhab Syafii yang terpilih, shalat tersebut wajib diulangi lagi. Orang menyebutnya “mengqadha.” Padahal, istilah yang
tepatnya adalah “mengi’adah.” Karena, mengulang tak berarti qadha.

Dan, dalam madzhab Syafii tentang mengulang shalat di atas bukan hanya punya pendapat yang itu saja. Masih ada pendapat lain meski bukan pilihan. Yaitu, sebagaimana dikutip dalam kitab Mughni al-Muhtaj:

1. Tidak wajib diulangi. Tapi, sunnah diulangi.

2. Tidak wajib diulangi. Tapi, boleh diulangi.

3. Tidak wajib diulangi, melainkan haram diulangi.

Kira-kira cocoknya NU memilih yang mana, ya? Apakah yang mewajibkan mengulang? Atau yang mensunnahkan, atau yang membolehkan, atau yang mengharamkan?

Dan, sebenarnya, madzhab di NU bukan hanya Syafii saja, tapi juga ada 3 madzhab lagi (Hanafi, Maliki, Hanbali) yang dalam kondisi tertentu, meski berstatus bermadzhab Syafii, dapat mengikuti salah satu dari ketiganya yang tidak mengenal shalat Lihurmatil Waqti.

Bukankah Munas Alim Ulama NU 2019 meminjam Madzhab Hanafi untuk menetapkam haramnya sebutan kafir bagi non muslim?

Jakarta, 10 April 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan