MENGAPA HARUS 200?

MENGAPA HARUS 200?
Oleh: @deden_mm

Viral 200 muballigh rekomendasi Kemenag RI. Saya yakin tujuannya bagus. Tapi kemudian blunder karena banyak muballigh yang mestinya masuk rekomendasi malah tidak masuk. Bahkan sebaliknya ada beberapa yang dianggap tidak layak malah terdaftar. Ada apa dengan penguasa negeri ini? Berikut hasil tadabbur “tengil” saya saat berselancar murojaah juz 10.

Saya sama sekali tidak mempesoalkan muballigh-muballigh yang terekomendasi, karena bagi saya, yang 200 itu memang layak. Bahkan di antara mereka ada muballigh-muballigh kondang panutan saya. Tapi saya amati mengapa mesti 200 muballigh? Mengapa tidak kurang atau lebih? Tampaknya inilah yang menyebabkan sebagian muballigh yang masuk rekomendasi malah meminta agar dikeluarkan.

Yakni, rekomendasi tersebut bukan menyebabkan banyak muballigh yang tidak terdaftar berharap menjadi terdaftar, tapi justru menyebabkan banyak muballigh yang terdaftar berharap dikeluarkan dari daftar. Saya amati kata 200 dalam Al-Quran. Yaitu kata mi’atain (مِائتين). Ternyata ada dalam surah al-Anfal ayat 65 dan 66 sebagai pasukan yang akan dikalahkan oleh yang sepuluh kali lebih kecil atau dua kali lebih kecil dari mereka.

Allah Swt berfirman:
إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَينِ
Jika ada dua puluh orang yang sabar dari kamu (orang-orang mukmin) maka akan mengalahkan dua ratus orang (QS al-Anfal, 65)

Pada ayat berikutnya Allah Swt berfirman:
فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوْا مِائَتَينِ
Maka jika ada seratus orang yang sabar dari kamu niscaya akan mengalahkan dua ratus.

Dua ayat di atas menyampaikan jumlah minimum pasukan mukminin untuk menang. Yaitu, pada pase awal, sebelum dinanasakh, satu orang mukmin mengalahkan sepuluh orang lawan. Lalu pada pase berikutnya setelah dinasakh satu orang mukmin mengalahkan dua orang lawan. Tapi mengapa Al-Quran berpatokan kepada angka 200? Padahal belum tentu lawan itu berjumlah 200 orang. Tapi adakalanya kurang. Bahkan sering kali lebih. Apakah pertanda pasukan yang ditakdirkan kalah walau besar identik dengan angka 200?

Rekomendasi 200 muballigh bukanlah tentang kekalahan 200 muballigh tersebut dengan membenturkan mereka dengan muballigh-muballigh lain. Tidak demikian. Mereka adalah ulama yang mulia. Tidak dapat dikotak-kotakkan. Mereka satu suara menolak kezaliman. Tapi mungkin ini tanda dari Allah akan kekalahan oknum pembuat rekomendasi. Tidak ada yang dapat menghentikan mereka membuat rekomendasi dengan angka 200 kalau memang mereka ditakdirkan untuk dikalahkan tahun 2019.

Wallahu A’lam
5 Ramadhan 1439 H.

Bagikan