NABI SAKIT MATA PARAH SAAT DIASUH KAKEKNYA

NABI SAKIT MATA PARAH SAAT DIASUH KAKEKNYA
Oleh: @deden_mm

Tiba-tiba saya mendapat kiriman screenshot halaman kitab Nûr al-‘Abshâr fî Manâqib Âl Bait al-Nabiyy al-Mukhtâr yang berisi potongan riwayat tentang ramad syadîd (رَمَدٌ شَدِيدٌ) yang menimpa Rasulullah Saw saat dalam pengasuhan kekeknya. Teks lengkapnya sebagai berikut:

وَأَصَابَهُ صلى الله عليه وسلم فِي السَّنَةِ السَّابِعَةِ رَمَدٌ شَدِيدٌ
Dan, Nabi Saw ditimpa ramad syadîd pada tahun ketujuh (dari usianya).

Kata ramad syadîd difahami sebagai pentunjuk bahwa masa kecil Nabi, dalam pengasuhan kekeknya, kurang terurus, dekil, dan ingusan seperti anak-anak lain pada umumnya. Bahkan, mata beliau sampai terkena ramad syadîd.

“Ramad” memang berarti sakit mata yang biasa menimpa pada anak kecil. Dan, “syadîd” berarti “yang parah.” Namub, sama sekali bukan petunjuk masa kecil Rasulullah Saw kurang terurus. Karena, dalam kitab al-Manhal al-‘Adzb al-Maurûd jilid 9 halaman 98 dan 99, terdapat riwayat versi lengkapnya. Bahwa, sakit mata beliau adalah salah satu petunjuk atau tanda bakal kenabian beliau.

Diriwayatkan, ketika Abdul Muthalib mengetahui cucu kesayangannya itu sakit mata maka seketika langsung mengupayakan pengobatannya. Tapi, tidak ada seorang pun di Makkah yang bisa mengobatinya. Lalu, Abdul Muthalib disarankan mendatangi seorang rahib tua di daerah Ukazh.

Lalu, Abdul Muthalib segera memacu untanya guna membawa Rasulullah Saw ke tempat Rahib. Abdul Muthalib sampai di Ukazh sementara Rahib berada di tempat ibadah pribadinya yang terkunci dari dalam. Abdul Muthalib memanggil dari luar, tapi tidak menjawab. Tiba-tiba tempat ibadah berguncang keras hingga hampir atapnya runtuh menimpa Rahib jika tidak segera lari keluar.

“Wahai Abdul Muthalib, sungguh anak ini adalah nabi umat ini. Jika aku tidak segera keluar menemuimu maka tempat ibadahku akan runtuh menimpaku. Pulanglah, dan jaga dia. Jangan sampai orang-orang Ahlul Kitab membunuhnya,” kata sang Rahib kepada Abdul Muthalib.

Lalu, Rahib mengobati mata Rasulullah Saw seraya memberikan resep obat kepada beliau.

Dalam riwayat lain, Rahib membuka lembaran-lembaran miliknya lalu mengamati isinya sambil melihat-melihat Rasulullah Saw. Kemudian dia berkata: “Demi Allah, dialah penutup para nabi.”

“Wahai Abdul Muthalib,” lanjut Rahib, “Apakah ini ramad (sakit mata)?”

“Benar,” jawab Abdul Muthalib.

“Obatnya ada pada dirinya. Ambil air liurnya lalu letakan di kedua matanya,” kata Rahib.

Abdul Muthalib langsung melaksanakan resep Rahib. Air liur Rasulullah diambil lalu diletakan di kedua mata beliau. Maka, sembuh seketika.

Lalu, Rahib berkata: “Wahai Abdul Muthalib, demi Allah, sungguh anak inilah yang aku selalu bersumpah kepada Allah atas namanya untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit dan mengobati sakit mata.”

Demikian, wallâhu a’lam…

Sadeng 3 Desember 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 56 times, 1 visits today)
Bagikan