PECAHNYA BEJANA KACA

PECAHNYA BEJANA KACA
Oleh: @deden_mm

al-Imam Muhyiddin Ibn Arabi (w. 638 H.) diundang ke acara makan salah seorang yang shalih nan sufi (wali) di Gang Pelita (Zuqâq al-Qanâdîl), Mesir.

Para guru sufi berkumpul. Tuan rumah menghidangkan makanan. Dan, bejana-bejana diedarkan.

Di antara bejana-bejana itu ada bejana kaca yang diperuntukan untuk buang air kecil. Masih baru. Belum pernah dipakai apa-apa sebelumnya.

Tuan rumah menuangkan makanan ke bejana kaca itu sementara yang lain makan darinya.

Terdengar di alam spiritual mereka bejana kaca berkata:

“Sejak Allah muliakan aku dengan makannya para guru mulia dariku maka aku tidak merelakan diriku menjadi tempat kotoran setelahnya.”

Bejana kaca pun pecah menjadi dua.

Imam Ibn Arabi (w. 638 H.) bertanya kepada semua yang hadir:

“Apakah kalian mendengar apa yang dikatakan bejana kaca?”

“Ya, kami mendengarnya,” jawab mereka.

Lalu, mereka menirukan apa yang diucapkan bejana kaca.

“Bukan itu,” kata Ibn Arabi.

“Tapi, dia mengatakan, demikianlah hati, sejak Allah memuliakannya dengan iman, janganlah merelakannya menjadi tempat bagi kotoran maksiat dan najis cinta dunia.”

Dikutip dari kitab Munyah al-Faqîr al-Mutajarrid wa Sîrah Murîd al-Mutafarrid, halaman 29.

Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 9 times, 1 visits today)
Bagikan