PERKELAHIAN NALAR DIGITAL

PERKELAHIAN NALAR DIGITAL

Sejak dulu, Islam itu maju pesat karena perdebatan, yang mengasah ilmu, mengasah iman, dan mengasah akhlak.

Dalam hal ini, para ulama dahulu kita sampai berhasil menciptakan disiplin ilmu tentang perdebatan. Disebut Ilmu al-Munâzharah.

Ilmu ini penting agar pertengkaran hanya ada dalam akal, dan perkelahian hanya terjadi dalam argumen. Maka, pemilihan narasi dan intonasi yang balaghah menjadi sangat penting, agar argumen tidak merusak perasaan, tapi mengena ke akal.

Saya membaca buku-buku Ibn Taimiyyah yang isinya, sebagian besar, penuh dengan pertengkaran dengan kelompok Asya’irah.

Demikian pula buku-buku Asya’irah penuh dengan pertengkaran menghadapi serang Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya.

Tapi, pertengkaran ini hanya terjadi dalam argumen, dan akal. Sehingga, baik Ibn Taimiah maupun Asya’irah dalam tatan sosial dan politik, dengan pertengkaran ilmiah itu, bersatu untuk membangun kembali peradaban Islam yang runtuh di Baghdad. Dan, berhasil.

Nah, seringkali pembaca buku-buku mereka yang belum mengerti Ilmu Munâzharah menjadi baper. Kayak baca buku-buku novel, gitu. Akhirnya, dalil-dalil bersuliweran dalam narasi-narasi kebencian di ruang publik.

Dari sinilah, para ulama fiqih melarang (mengharamkan) orang-orang awam, atau santri level bawah, untuk berdebat atau membaca buku-buku dengan konten perdebatan, baik aqidah, filsafat, maupun fiqih.

Bahkan, para ulama melarang juga, sebagai antisipasi, membaca langsung argumen dari Al-Quran dan hadis. Karena, Al-Quran dan Hadis sebagai dalil berbeda dengan Al-Quran dan Hadis sebagai hidayah.

Al-Quran dan hadis sebagai dalil ibarat senjata api yang mematikan. Keduanya akan menjadi penjaga kehidupan bila dipegang oleh yang ahli menggunakannya. Jika berada di tangan orang awam, bisa-bisa salah tembak.

Untuk sampai bisa belajar ke level Ilmu Munqzharah, juga untuk bisa memegang Al-Quran dan hadis langsung sebagai dalil, santri harus melewati ilmu-ilmu alat yang ruwet. Yaitu, Nahwu, Sharaf, Ma’ani, Bayan, Badi’, Manthiq, dan Ushul Fiqih, disamping ilmu dan praktek akhlak.

Dan, di era digital ini, semua orang bisa dengan mudahnya mengakses buku-buku dan konten-konten yang dahulu terlarang bagi santri level bawah.

Ini tidak dapat dihindari. Maka, hadapi dengan akal, agar bertambah ilmu, dan perdebatannya menjadi ibadah dan membangun. Dan, DIHARAMKAN baper. Eh, ups, malah langsung baper. Hehe…

WAG Masjid An-Nahl BSD, 25 Desember 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

(Visited 33 times, 1 visits today)
Bagikan