PORSI TIDURNYA PARA ULAMA (DI BULAN RAMADHAN)

PORSI TIDURNYA PARA ULAMA (DI BULAN RAMADHAN)
Oleh: @deden_mm

Setiap selepas shalat Isya, Umar bin Khaththab meminta diletakan bejana air di sampingnya agar kalau tertidur tangannya jatuh ke air lalu segera mengusap wajahnya untuk kembali shalat. Dan, jika tertidur lagi, maka terus saja begitu sampai shubuh.

Imam Abu Hanifah (w. 150 H.) tidak tidur sepanjang malam.

Imam al-Syafii tidak batal wudhu sepanjang malam, dan khatam Al-Quran setiap malam Ramadhan.

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 142 H.) membaca sepertujuh Al-Quran setiap malam. Dia tidur sebentar lalu shalat malam sampai shubuh.

Imam al-Nawawi (w. 626 H.) ketika mengantuk berat bersandar ke tumpukan buku-buku lalu tidur sekejap dan bangun lagi.

al-Imam Shofwan bin Sulaim (w. 132 H.) shalat di atas balkon rumah yang terbuka pada malam yang dingin agar tidak tidur.

al-Imam Al-Awzai (w. 157 H.) dalam perjalanan haji tidak pernah terlihat berbaring tidur di atas kendaraannya baik siang maupun malam. Dia terus mengerjakan halat. Dalam keadaan mengantuk berat pun tetap bertahan agar tidak berbaring dengan bersandar.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh (w. 187 H.) menggelar tikar di masjid. Dia shalat di awal malam satu jam. Lalu, tidur sekejap di atas tikar. Lalu, shalat lagi. Jika mengantuk berat, tidur lagi sekejap. Lalu, shalat lagi. Dan, terus begitu sampai shubuh.

Al-Aswad bin Yazid al-Nakha’i (w. 75 H.) khatam Al-Quran setiap dua malam sekali. Tidurnya antara Maghrib dan Isya.

al-Imam Himam bin Harits (w. 65 H.) berkata: “Ya Allah, puaskanlah aku dengan sedikit tidur, dan karuniakan aku tidak tidur dalam taat pada-Mu.”

Pada suatu malam, singa manghalangi jalur kafilah haji Thawus bin Kaisan (w. 106 H.). Seluruh kafilah tidak bisa tidur. Lalu, singa pergi di sepertiga malam. Mereka pun aman masuk tenda dan tidur. Tapi, Thawus malah shalat. Ada yang bertanya padanya: “Apakah anda tidak tidur?” Dia menjawab: “Apakah pantas orang tidur di sepertiga malam.”

al-Imam Imran bin Muslim berjanji atas nama Allah agar tidak tidur kecuali sekejap saat mengantuk berat

Fath al-Maushili (w. 170 H.) tidak pernah tidur kecuali dengan posisi duduk.

Muhammad bin al-Nadhr bersumpah tidak tidur kecuali sekejap setelah benar-benar tidak dapat ditahan.

Abu al-‘Abbas Ibn Atha (w. 309 H.) khatam Al-Quran setiap hari. Dan selama Ramadhan khatam 90 kali. Tapi, ada bacaan dengan tadabbur yang baru khatam setelah 17 tahun. Dia tidur hanya 2 jam sehari semalam.

Athiyah bin Sa’id (w. 111 H.) lambungnya belum pernah menyentuh bumi. Jikalau harus tidur maka dengan posisi duduk jongkok.

Abu Abdillah al-Baghdadi belah-belah pada kepala dan keningnya. Karena, dia melatakan tempat tinta atau tempat lainnya agar ketika mengantuk berat jatuh tersungkur ke atasnya, sehingga membekas di wajahnya.

Daud al-Thai (w. 165 H.) tidak tidur kecuali setelah mengantuk berat. Dia lalu mengikat lututnya agar tetap duduk.

Muhammad bin Hasan (w. 189 H.) menghilangkan tidur dengan air. Dia berkata: “Mengantuk itu dari panasnya suhu tubuh.”

Deden Muhammad Makhyaruddin
1 Mei 2019

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip