RAUDHAH

(Menyingkap Tabir dan Asal-usul Raudhah di Masjid Rasulullah Saw)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Yang pernah ziarah ke Madinah, baik dalam rangka ibadah haji maupun umroh, pastinya tak asing lagi dengan situs Raudhah. Yaitu sebuah tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara rumah Rasulullah Saw dan mimbar beliau. Panjangnya 53 siku. Dan lebarnya selebar rumah beliau yang memanjang ke belakang masjid. Dalam ukuran meter panjangnya 22 meter dan lebarnya 15 meter. Ada yang mengatakan panjangnya 26,5 meter. Area ini sekarang diberi karpet warna hijau yang berbeda dengan warna karpet masjid.

Nama Raudhah diambil dari kata Raudhatul Jannah. Artinya taman surga. Rasulullah Saw bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِى وَمِنْبَرِى رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

Area yang terletak antara rumahku dan mimbarku adalah satu taman dari taman-taman surga (HR Bukhari nomor 1196 dan Muslim nomor 1391)

Bisa dibayangkan bagaimana istimewanya tempat itu. Bahasa bebasnya, “kapling surga di bumi.” Yang masuk ke situ berarti menginjakan kaki di tanah surga. Tak heran apabila umat Islam dari seluruh penjuru negeri rela mengantri, berebut, dan berdesak-desakkan hanya di demi beberapa menit sholat dan berdoa di dalamnya.

Tapi, apakah benar pengertian Raudhah itu demikian? Berikut akan saya paparkan pandangan dan hasil analisa para ulama terdahulu terkait Raudhah di masjid Nabawi. Pendangan mereka berkisar antara:

1. Raudhah adalah area di bumi yang nanti akan menjadi salah satu area surga.

2. Raudhah adalah area di mana ibadah yang dikerjakan di situ akan membawa ke surga.

3. Raudhah adalah area surga yang ada di bumi.

Pandangan para ulama di atas ketiga-tiganya benar. Hanya saja dalam bentuk metafora. Karena dalam hadits lain, Rasulullah Saw bersabda: “Jika kalian melewati taman-taman surga maka masuklah kedalamnya.” Para sahabat menjawab: “Apa yang dimaksud taman surga (Raudhatul Jannah)?” Beliau menjawab: “Tempat-tempat ilmu.” Dalam riwayat lain: “Tempat-tempat dzikir (mebaca Al-Quran, murojaah).” Dalam riwayat lain lagi: “Masjid-masjid.” Di antaranya diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi.

Imam Ibn Al-Haj al-Fasi al-Maliki (w. 737 H.) dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H.) mengatakan, area antara rumah Rasulullah Saw dan mimbar beliau disebut Raudhatul Jannah tak lain karena merupakan tempat transpormasi keilmuan, peradaban, dan kemanusiaan paling besar dalam sejarah. Misalnya:

1. Tempat malaikat Jibril mengajarkan Al-Quran kepada Rasulullah Saw. Juga tempat murojaah hafalan beliau sampai berkali-kali khatam kepada malaikat Jibril.

2. Tempat Rasulullah Saw mengajarkan talaqqi Al-Quran dan talaqqi hadits kepada para sahabat.

3. Tempat rapat Rasulullah Saw dengan para sahabat besar terkait permasalah umat. Bukan hanya masalah Agama saja, tapi juga meliputi negara, ekonomi, keamanan, politik, dan lain-lain.

4. Tempat shalat tahajjud dan i’tikaf Rasulullah Saw.

5. Tempat Rasulullah Saw menyambut delegasi suku-suku Arab dan raja-raja.

6. Tempat berkumpulnya para sahabat pilihan dari kaum muhajirin.

Jika kita memasuki area Raudhah maka kita akan mendapatkan banyak tiang di dalamnya yang disebut Usthuwanah. Tiang-tiang tersebut bukan sekadar tiang, tapi tiang yang dibangun persis di tempat tiang penyangga yang dibangun Rasulullah Saw untuk mengabadikan proses tranpsormasi agung yang terjadi di sekitarnya. Di antaranya ada enam tiang yang paling terkenal. Yaitu:

1. Tiang al-Mukhallaqah (المخلقة). Yaitu tiang yang dilumuri wewangian. Tiang yang paling dekat dengan arah kiblat. Awalnya ada seorang sahabat yang meludah di situ saat sholat. Dia adalah sahabat senior, Utsman bin Mazh’un. Dia resah dan merasa bersalah. Lalu istrinya membersihkan dan melumurinya dengan minyak wangi. Disebut al-Mukhallaqah. Artinya dilumuri minyak wangi. Rasulullah Saw pernah mengimami shalat di situ selama sekitar 17 hari setelah terjadi pemindahan arah qiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Beliau pun sering shalat sunah di situ. Seorang sahabat senior dan jendral perang serta penakluk, Salamah Ibn al-Akwa, selalu berusaha mendapatkan tiang ini.

2. Tiang al-Qur’ah / القرعة (Undian). Disebut pula tiang Siti Aisyah. Juga dikenal dengan tiang Muhajirin. Posisinya ketiga dari mihrab, ketiga dari qiblat, ketiga dari makam. Disebut al-Qur’ah karena kata Siti Aisyah seandainya tahu keutamaan ibadah di tempat itu maka akan memburunya meski harus diundi. Abdullah bin al-Zubair, cucu Abu Bakar al-Shiddiq, selalu berusaha agar bisa shalat di situ setelah diberitahu keutamaanya oleh Siti Aisyah. Juga di situ adalah tempat berkumpulnya para sahabat muhajirin.

3. Tiang Taubat. Dalam kisah yang panjang, seorang sahabat bernama Abu Lubabah pernah mengikat diri di tiang itu karena merasa bersalah telah mendahului Rasulullah Saw. dalam membuat keputusan terhadap Yahudi Bani Quraizhah. Selama tiga bulan tidak dilepas kecuali untuk sholat dan buang hajat. Makan dibawakan istrinya. Sampai kemudian ayat Al-Quran (QS al-Taubah: 118) turun tentang diterimanya taubat Abu Lubabah. Namun Abu Lubabah tidak mau dilepaskan kecuali oleh tangan Rasulullah Saw sendiri. Posisinya kedua dari makam, ketiga dari qiblat, dan keempat dari mimbar.

4. Tiang al-Sarir / السرير (Dipan). Terletak sebelah timur tiang Taubah yang bersambung dengan jendela ke Raudhah. Adalah tempat i’tikaf Rasululah Saw. Disebut al-sarir karena Rasulullah Saw memasang dipan dari pelapah kurma di situ setiap kali i’tikaf.

5. Tiang al-Muharras / المحرس. Terletak di belakang tiang al-Sarir sebelah utara berhadapan dengan tempat keluar Rasulullah Saw dari rumah siti Aisyah ke Raudhah. Artinya tempat pengawalan Rasulullah Saw. Disebut tiang Ali bin Abu Thalib karena Ali bin Abu Thalib menjaga Rasulullah Saw di tiang itu.

6. Tiang al-Wufud / الوفود (Delegasi). Di tempat itu Rasulullah Saw menyambut tamu-temu negara. Juga disebut Majlis al-Qaladah karena para sahabat besar berkumpul di situ untuk bermusyawarah. Posisinnya di belakang tiang al-Muharras dari sebelah utara.

Tepat dan pantas Rasulullah Saw menyebut area itu dengan nama Raudhatul Jannah (Taman Surga). Yakni, kata Ibn al-Haj (w. 737 H.) dan Ibn Qayyim (w. 751 H.), aktivitas-aktivitas hebat di atasnya tersebutlah (transpormasi ilmu, ibadah, akhlak dan peradaban) yang mengangkatnya menjadi Raudhatul Jannah. Bukan sebaliknya. Bahkan, setiap tempat, di mana pun, yang menjadi tempat aktivitas-aktivitas di atas, maka itulah Raudhah, kapling surga di bumi. Misalnya area di masjid An-Nahl yang menjadi tempat para penghafal Al-Quran bermurojaah, taraweh 10 juz, dan aktivitas-aktivitas besar lainnya, baik ilmu, ibadah, maupun sosial, adalah Raudhatul Jannah.

Dalam prakteknya, pemahaman para sahabat pun tidak seragam. Tapi kedua-keduanya benar. Ada sahabat, yaitu Abdullah bin Zubair dan Salamah Ibn al-Akwa’, yang memahami bahwa kemuliaan Raudhah yang menyebabkan aktivitas ibadah di atasnya menjadi besar. Tapi sahabat-sahabat besar lainnya, seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Bilal bin Rabah, tidak diceritakan mengejar dan berebut sholat dan berdoa di Raudhah. Mereka ke masjid nabawi hanya untuk sholat berjamaah (menjadi imam) dan bermusyawarah tentang umat (negara) di bagian yang tidak mesti Raudhah. Bahkan Ali bin Abu Thalib berada di Raudhah pada zaman Nabi Saw bukan untuk sholat atau berdoa, tapi untuk mengawal Rasulullah Saw.

Bahkan mereka punya Raudhah sendiri di rumah mereka masing-masing untuk mengerjakan shalat sunnah, murojaah Al-Quran, dan ibadah-ibadah khash lainnya. Raudhah-raudhah meraka adalah tempat yang sekarang bisa kita lihat menjadi Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, Masjid Ali, dan Masjid Bilal. Oleh karenanya para ulama mensunnahkan masuk ke Raudah Rasulullah Saw untuk berdoa dan sholat, tapi kalau kemudian menjadi sulit, antrian panjang yang penuh sesak, desak-desakan dan rebutan, apalagi sampai menjadi tidak menjaga kehormatan sesama muslim, menyikut, mendorong, terdorong, melangkahi depan orang yang sholat, suara gaduh di samping makam Rasulullah Saw, dan lain-lain, maka tidak sunnah lagi.

Yang terpenting dari Raudhah adalah bukan masuknya tapi inspirasinya menjadi lebih baik untuk diri, keluarga, tetangga, sesama muslim, sesama manusia, dan sesama makhluk Allah. Sehingga setiap jengkal bumi yang dipijaknya menjadi taman surga.

Wallahu A’lam
Masjid Nabawi, Madinah
13 September 2017
Kafilah Haji Al-Anshor.

Bagikan