ANDAI CAPRES-CAWAPRES KITA BELAJAR BACA QURAN LAGI

ANDAI CAPRES-CAWAPRES KITA BELAJAR BACA QURAN LAGI
Oleh: @deden_mm

Pilpres 2019 menampilkan warna Islam dalam dua pasang Capres dan Cawapres. Kubu oposisi yang sejak awal bangkit bersama ulama malah urung mencalonkan ulama sebagai capres dan cawapres. Dan sebaliknya kubu petahana yang disebut-sebut anti ulama lolos mengambil ulama sebagai cawapresnya.

Oposi beralasan bahwa tak tampilnya ulama sebagai cawapres dari kubu mereka karena khawatir terjadi benturan besar antar ulama yang berbuntut pada pecahnya umat. Alasan yang cukup masuk akal disamping alasan-alasan lainnya. Lalu saling serang di media sosial antar pendukung kedua kubu mengarah kepada bacaan Al-Quran masing-masing Capres dan Cawapres.

Dalam hal ini tampak oposisi seakan kewalahan. Meski berusaha terlihat tidak. Mereka membelokkan arahnya kepada adu gagasan, program, visi, dan misi. Yang awalnya getol mengkritik bacaan Al-Fatihah Presiden Jokowi dalam video yang viral menjadi seakan “gagap” ketika Capres dan Cawapresnya dipinta tes baca Al-Quran.

Bermacam alasan mengemuka dari oposisi untuk menutupi kekurangan Capres dan Cawapres mereka. Seolah berkesimpulan bahwa Indonesia tidak sedang membutuhkan presiden dan wakil presiden yang fasih bacaan Qurannya tapi fasih memimpin. Perbandingan demi perbandingan yang aneh pun muncul. Misalnya, bukan saatnya membaca, tapi saatnya mengamalkan, dan seterusnya.

Dalam hal ini, saya sebagai yang merasa di kubu 2019 ganti presiden merasa keberatan dengan jawaban teman-teman. Sangat keberatan. Menurut saya, jika memang Capres dan Cawapres kita masih di bawah Petahana bacaan Qurannya maka bukanlah sebaiknya mereka belajar baca Quran lagi. Ini sama sekali bukan aib bagi mereka. Justru kemuliaan yang hebat.

Yang belum bisa baca Quran atau belum fasih baca Quran itu biasanya bukan karena Al-Quran susah dipelajari, tapi memang belum belajar, atau belum benar-benar serius belajarnya akibat kendala yang tentu hanya yang bersangkutanlah yang tahu. Jika mau belajar serius maka tidak perlu waktu lama untuk kemudian menjadi bisa. Mungkin cukup waktu satu atau dua bulan belajar intensif.

Banyak para guru Al-Quran yang tentunya bersedia menjadi relawan guru ngaji Capres dan Cawapres. Bahkan saya sendiri bersama teman-teman, para hafizh Al-Quran terbaik Internasional secara khusus bisa membantu mengajar dengan suka rela. Jika misalnya tidak berhasil juga padahal sudah belajar maka setidaknya sudah ikhtiar maksimal serta tidak menghentikan ikhtiar itu.

Belajar membaca Al-Quran adalah bagian dari mengamalkan Al-Quran. Bahkan bagian mengamalkan Al-Quran yang paling kecil. Paling mudah. Jika mengamalkan pengamalan paling kecil dan paling mudah saja tidak dikerjakan maka bagaimana akan bisa mengerjakan pengamalan Al-Quran yang besar dalam memimpin Indonesia.

Niat tulus dan ikhtiar untuk belajar akan memberikan kemuliaan. Bukan untuk bertanding baca Quran mengalahkan Capres dan Cawapres lain, tapi berjuang untuk menggapai keridhoan Allah. Ini akan dahsyat jika bisa terjadi. Tak terbayang bagaimana Capres dan Wapres kita mengeja huruf-huruf Al-Quran sebelum mengeja Indonesia. Allah ridho. Dan Indonesia Baldatun Thayibatun Wa Rabbun Ghafur.

Bismillah…

Deden Muhammad Makhyaruddin
(Ketua Dewan Ulama Tahfizh dan Tafsir Indonesia)

Bagikan