BEDANYA PERCAYA DENGAN YAKIN

BEDANYA PERCAYA DENGAN YAKIN
Oleh: @deden_mm

Seorang kiyai menguji santri-santrinya tentang perbedaan percaya dan yakin.

“Apa kalian tahu bedanya percaya dengan yakin?, kata kiyai kepada santrinya memecah hening di halaman pesantren yang luas pagi itu.

Tidak ada santri yang menjawab pertanda tidak ada yang tahu dan bingung harus menjawab apa karena sepintas tidak ada bedanya antara percaya dengan yakin.

“Begini,” lanjut kiyai.

Kiyai mengambil sebilah pisau lalu melemparkannya ke buah mangga yang digantung dalam jarak delapan meter. Dan, persis pisau tersebut menancap pada bagian tengah buah mangga. Para santri takjub dengan skil melempar pisau sang kiyai yang luar biasa.

“Apakah kalian percaya kalau saya mahir melempar pisau dengan tepat sasaran?,” tanya kiyai.

“Percaya,” jawab santri-santri.

Lalu, kiyai mengambil pisau lagi dan melemparkannya, tapi kali ini yang dibidik bukan mangga, tapi buah apel yang ukurannya lebih kecil dari mangga dalam jarak yang sama. Dan, bidikan kiyai pun menengenainya lagi dengat tepat. Pisau menancap pada bagian tengah buah apel.

“Apakah kalian makin percaya bahwa saya mahir melempar pisau tepat sasaran?,” tanya kiyai lagi.

“Percaya,” jawaban santri-santri sama.

Kiyai lalu melemparkan pisau lagi ke sebuah jarum jahit yang menancap tidak jauh dari tempat buah apel tadi. Dan, lemparan yang ini pun tidak meleset. Pisau menancap persis di tempat jarum itu menancap.

“Apakah kalian lebih percaya lagi kalau saya mahir melempar pisau?”

“Percaya,” jawaban para santri begitu lagi.

“Nah,” kata kiyai.

“Itulah yang disebut percaya. Yakni, kalian percaya kepada saya bahwa saya mahir melempar pisau. Tapi kalian belum termasuk yakin,” sambung kiyai.

Para santri bengong seakan bertanya “lalu apa yang disebut yakin.”

“Kalian baru akan disebut yakin kepada kemahiran saya dalam melempar pisau apabila saya melempar mangga, apel, dan jarum tersebut di atas kepala kalian dalam jarak delapan meter. Jika kalian takut maka kalian belum yakin kepada saya,” pungkas kiyai.

“Demikian pula orang mukmin yang yakin kepada Allah hatinya akan tenang dan tidak akan takut. Kearena, Allah tidak akan pernah meleset dengan janji-janji-Nya. Kalau masih resah, cemas, dan takut, misalnya tentang rizqi, maka berarti baru sekadar percaya, belum yakin,” tutup kiyai.

Sadeng, 21 Januari 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan