BENDERA RASULULLAH SAW TAK BERTULISKAN KALIMAT TAUHID?

BENDERA RASULULLAH SAW TAK BERTULISKAN KALIMAT TAUHID?
Oleh: @deden_mm

Populer bendera Rasulullah Saw disebut al-Rayah dan al-Liwa. Padahal al-rayah dan al-liwa bukan nama bendera Rasulullah Saw. tapi dua kosakata bahasa Arab dengan pengertian bahasa Indonesia bendera.

Para ulama tidak membedakan pengertian al-rayah dan al-liwa. Yakni al-rayah adalah al-liwa, dan al-liwa adalah al-rayah. Kecuali beberapa saja dari meraka yang membedakan. Di antaranya adalah imam Abu ‘Isa al-Tirmidzi (w. 279 H.)

al-Rayah dan al-liwa tidak identik dengan bendera Rasulullah Saw. Karena dalam peperangan muslimin melawan musyrikin tak hanya pasukan Rasulullah Saw saja yang punya al-rayah dan al-liwa, melainkan musyrikin pun punya al-rayah dan al-liwa.

Dikisahkan dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah, bahwa Abu Jahal memegang al-rayah untuk pasukan Quraisy menjelang perang Badar. Lalu Iblis datang menyerupai Suraqah bin Malik seraya meminta al-rayah tersebut dari tangan Abu Jahal.

Demikian pula ketika Perang Uhud terjadi. Kaum Quraisy membawa beberapa al-liwa. Di antaranya adalah al-liwa yang dipegang oleh Thalhah bin Abu Thalhah al-‘Abdari yang kemudian dilumpuhkan oleh Zubair bin ‘Awwam.

Riwayat-riwayat tentang rayah dan liwa Rasulullah Saw dapat ditemukan dalam kitab-kitab Sirah dan Syama’il. Ada satu kitab Syama’il yang lengkap mengupas riwayat tentang rayah dan liwa Rasulullah Saw. Yaitu kitab Imta’ al-Asma’ (إمتاع الأسماع) karangan imam Taqyuddin al-Maqrizi (w. 845 H.).

Di dalamnya dipaparkan berbagai macam riwayat tentang warna, ukuran dan bentuk rayah dan liwa Rasulullah Saw. Ternyata warna al-rayah dan al-liwa tidak baku. Adakalanya al-rayah (panji) berwarna hitam dan al-liwa berwarna putih. Dan adakalanya al-rayah berwarna putih dan al-liwa berwarna hitam. Bahkan ada yang berwarna kuning, abu-abu, hijau, merah, dan campuran.

Riwayat tentang warna hitam al-rayah dan warna putih al-liwa memang lebih banyak mengemuka. Hanya saja banyak ulama yang menafsirkan bahwa hitamnya al-rayah bukan hitam murni. Tapi ada warna lainnya. Hanya saja warna hitamnya lebih dominan. Sehingga ketika terlihat dari jauh seakan-akan hitam murni.

Demikian pula ukurannya. Adakalanya ukuran bendera al-liwa lebih besar dari ukuran al-rayah dan adakalanya sebaliknya. Adapun bentuknya maka semua riwayat sepakat bahwa bentuk al-rayah adalah murabba’ah (مُرَبَّعَة). Yaitu berbentuk bujur sangkar. Bukan persegi panjang. Tidak ada riwayat tentang bentuk al-liwa.

Rasulullah Saw tidak mempunyai al-rayah dan al-liwa yang tetap dan baku. Tetapi dibuat kondisional. Yaitu untuk menyambut peperangan saja. Yakni lebih tepatnya, pada waktu itu, al-rayah dan al-liwa hanya berfungsi sebagai panji dan bendera perang.

Jumlah al-rayah dan al-liwa untuk setiap peperangan diatur Rasulullah Saw dan beliau sendiri yang memilih siapa yang berhak dan layak memegangnya. Ali bin Abu Thalib biasanya menjadi langganan pemegang bendera sahabat Muhajarin dan Sa’ad bin ‘Ubadah pemegang bendera sahabat Anshar.

Kalimah Tauhid pada rayah dan liwa Rasulullah Saw adalah tambahan yang tidak ada dalam riwayat al-Tirmidzi (w. 279 H.), al-Nasa’i (w. 303 H.), Ibnu Majah (w. 273 H.), dan Ibnu Abu Syaibah (w. 235 H.) yang lazim dijadikan dalil para pemakai Kalimat Tauhid pada bendera. Tapi ada dalam riwayat al-Thabarani (w. 360 H.), Abu Syaikh (w. 369 H.), dan Ibnu Adi (w. 365 H.) dari jalur Hayyan bin ‘Ubaidillah.

Ibnu Adi (w. 365 H.) mendhaifkan Hayyan bin Ubaidillah dalam kitab al-Kamil. Sementara para ahli hadits menilainya mudhtharib. Yakni tidak konsisten haditsnya dalam meriwayatkan bendera Rasulullah. Kadang ada tambahan Kalimah Tauhid dan kadang tidak. Kadang meriwayatkannya dari Ibnu Abbas dan kadang dari Buraidah. Oleh karenanya Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H.) dalam Fathul Bari menilai sandanya dengan kata “wahin (وَاهٍ).” Yaitu syadid al-dha’f (شَدِيدُ الضَعْفِ), atau sangat lemah.

Abu Syaikh (w. 369 H.) meriwayatkan tambahan Kalimah Tauhid pada bendera dari jalur lain. Yaitu dari Sa’id Ibn al-Musayyib (w. 94 H.) dan al-Zuhri (w. 124 H.) dari Abu Hurairah. Tapi dalam rantai sandanya ada Muhammad bin Abu Humaid yang dinilai munkar dan tidak diterima haditsnya. Yaitu oleh al-Bazzar (w. 292 H.), al-Haitsami (w. 807 H.), al-Bukhari (w. 256 H.), Abu Hatim w. 277 H.), dan al-‘Uqaili (w. 322 H.)

Dalam riwayat al-Thabarani (w. 360 H.) kata ganti bendera Rasulullah Saw yang ada Kalimah Tauhidnya adalah “‘alaihi (عَلَيهِ). Bukan ‘alahima (عَلَيهِمَا) dan bukan ‘alaiha (عَلَيهَا). Kadang menggunakan kata fiihi (فِيهِ). Berarti hanya al-liwa saja yang ada Kalimah Tauhidnya. Sedang al-Rayah tidak. Dan berbeda sebaliknya dengan riwayat Abu Syaikh (w. 369 H.) yang menyebutkan al-rayah. Yakni, dari redaksinya saja sudah tidak konsisten. Bagaimana bisa diterima dan dijadikan dalil.

Lalu adakah nama khusus untuk salah satu al-rayah dan al-liwa yang pernah digunakan Rasulullah Saw? Maka saya jawab, ada. Yaitu al-rayah yang bernama al-‘uqab (العُقَاب) dan al-Rayah al-Baidha (الرَّايَةُ البَيضَاءُ / Panji Putih). Juga ada al-liwa yang bernama al-zinah (الزِّينَة). Dan pada kedua-duanya tidak ada tulisan kalimah tauhid.

Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa al-‘Uqab dibuat oleh Rasulullah Saw dari kain yang disebut al-mirth (المِرْط) milik siti ‘Aisyah. Yaitu pakaian yang terbuat dari sutra, atau katun, atau wol, atau lainnya yang lazim dipakai oleh perempuan sebagai sarung.

Kain siti Aisyah yang dijadikan al-rayah tersebut dalam sebagian riwayat disifati dengan kata al-murahhal (المُرَحَّل). Yaitu bermotif gambar alas punggung unta. Dalam riwayat lain disebut namirah (نمرة). Yaitu kain garis-garis hitam dan putih. Tidak ada tulisan satu huruf pun padanya. Apalagi Kalimah Tauhid.

Jika ingin tetap menambahkan Kalimah Tauhid maka pilihlan varian kaligrafi yang dipakai paza zaman Nabi Saw. Yaitu khath Kufi, sebuah varian kaligrafi Arab berbentuk balok-balok persegi. Juga harus diperhatikan dengan saksama apakah tulisan kalimah tauhid tersebut memenuhi sebagian besar permukaan bendera atau tidak.

Kalimat Tauhid yang sering kita lihat pada bendera-bendera menggunakan varian khath (kaligrafi) Tsuluts yang memenuhi sebagian besar permukaan bendera. Khath ini sebenarnya varian baru dalam kaligrafi Arab. Yaitu baru muncul pada abad 4 Hijrah.

Cariu, 23 Oktober 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan