Cara Ulama Salaf Menjaga Toleransi

CARA ULAMA SALAF MENJAGA TOLERANSI
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Sepeninggal Mu’awiyah bin Abu Sufyan, pemerintahan Islam jatuh ke tangan penguasa yang zalim. Penguasa menjadi selalu benar. Siapa pun yang menentangnya langsung ditangkap, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Tak peduli apakah mereka ulama atau orang biasa. Jika menentang penguasa maka akan dihabisi. Tak jelas lagi siapakah ulama yang sebenarnya. Karena penguasa pun menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran. Mereka menjadi imam shalat kaum muslimin. Kedua belah pihak saling berperang mengatasnamakan jihad. Pada saat itu perlawanan hanya menyebabkan umat kehilangan ulama, baik karena dibunuh, dipenjara, atau menjadi buronan penguasa. Sebuah revolusi berdarah yang enggan menemui kesudahannya.
 
Di tengah revolusi tersebut hadir seorang ulama besar yang diakui oleh salah seorang istri Rasulullah Saw, siti Aisyah sebagai orang yang kata-katanya mirip seorang nabi. Juga diakui oleh para ulama di zamannya sebagai guru para ulama. Dialah imam para zuhhad, al-Hasan al-Bashri (w. 110 H.). Dia tidak sependapat dengan para ulama di zamannya. Revolusi bukan solusi untuk membawa umat kepada kedamaian. Yang harus dikedepankan adalah toleransi yang tinggi. Karenanya, dia tidak pernah menolak kebijakan penguasa. Tetapi memberikan pendampingan padanya. Karena dia tahu, para penguasa, dengan segala kebijakan yang dikeluarkannya, tak menghendaki keburukan untuk umat. Demikian pula dengan para ulama yang melakukan revolusi tidak punya niat menumpahkan darah apalagi membuat umat susah. Mereka melakukannya karena Allah. Hanya saja masing-masing tidak saling memahami.
 
Imam Hasan al-Bashri adalah seorang yang zuhud, tawadhu, ahli ilmu dan ahli ibadah. Hatinya sudah bebas dari hal-hal duniawi. Tak butuh jabatan. Juga tak butuh uang. Apalagi kekuasaan. Pujian dan hinaan sama baginya. Integritas yang tinggi inilah yang membuatnya disegani semua kalangan termasuk para ulama di zamannya dan penguasa. Tidak pernah keluar kata-kata yang menghina kepada siapapun, termasuk kepada penguasa. Tak heran, ketika ulama lain dipenjarakan dan dibunuh, imam Hasan al-Bashri justru dihormati dan didengar nasehatnya oleh penguasa. Hajjaj bin Yusuf, jendral perang Bani Umayah yang dikenal gagah, sadis dan pembunuh ratusan ulama bersimpuh menangis mendengar nasehat-nasehat Imam Hasan al-Bashri.
 
Seorang ulama bernama Imam Farqad menghadiri undangan makan di Istana Penguasa bersama Imam Hasan al-Bashri. Dia ingin mengikuti jejak imam Hasan al-Bashri. Tapi dia kaget melihat alat-alat makan yang disuguhkan terbuat dari emas dan perak. Imam Farqad tidak kuat melihat kemunkaran tersebut lalu keluar tanpa idzin. Imam Hasan al-Bashri yang mengetahui kepergian imam Farqad langsung memanggil: “Hai Furaiqad.” Dia tidak memanggilnya Farqad, tapi Furaiqad, yaitu sebuah derivasi kata dalam bahasa Arab untuk menilai kecil (kurang). Yakni, seakan-akan imam Hasan al-Bashri berkata, ternyata ilmu-mu tak sebesar namamu. Kenapa pergi. Apa yang dianggap munkar di tempat ini dapat diatasi dengan mudah. Tapi ketika toleransi runtuh maka persatuan umat tidak akan terwujud. Lalu, ketika makan, imam Hasan al-Bashri menuangkan makanan ke atas semacam kerupuk yang lebar, sehingga, dengan cara itu, dia tidak makan dengan peralatan makan dari emas dan perak.
 
Atas nama tolerasni, imam Hasan al-Bashri tak pernah menyebut sanad keilmuan apabila ada ulama dalam rantai sanad tersebut yang tidak disukai penguasa. Banyak ulama dan murid beliau yang menanyakan sanad tersebut. Tapi beliau tak menjawabanya. Sampai ketika suasana sudah dingin, imam Hasan al-Bashri mengatakan: “Seandainya aku bukan hidup di zaman sosok Ali bin Abu Thalib dibenci, niscaya telah kukatakan sejak awal, bahwa sebagian besar ilmu ini bersumber dari Ali bin Abi Thalib.” Pada masa itu segala sesuatu yang berbau Ali bin Abu Thalib langsung dihukum oleh penguasa. Tak boleh ada orang yang memberi nama anak laki-lakinya dengan nama Ali. Caci maki terhadap yang kontra penguasa dari yang pro penguasa, juga caci maki terhadap penguasa dari para ulama yang anti penguasa menghiasi mimbar-mimbar khuthbah jum’at kaum muslimin.
 
Imam Hasan al-Bashri tak ikut hanyut dalam caci maki tersebut. Ia mengubah tradisi caci maki dengan cara-cara yang tidak mengandung unsur caci maki meski dirinya menjadi dicacimaki. Menghapus kesenjangan antara ulama dan penguasa sampai terbangun jembatan pemahaman yang menghubungkan aspirasi muslimin dengan kebijakan penguasa pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik (w. 99 H.). Imam Hasan al-Bashri tak sendirian. Melainkan banyak yang menempuh jalan perjuangan yang sama. Yaitu jalan toleransi dan menjaga persatuan. Di Madinah ada imam Sa’id bin al-Musayyab (w. 94 H.), seorang ulama tabiin, murid Abdullah Ibn Umar. Ia menghindar dari mentafsir Al-Qur’an kecuali sebatas yang diterimanya dari Nabi dan para sahabat karena sangat takut salah. Salah tafsir sama dengan menyediakan tempat di neraka. Perang saudara antara sesama muslimin pun dimulai dari tafsir yang salah. Imam Sa’id mengkader pemimpin termasuk dari keluarga istana dengan pendidikan nabawi. Di antara muridnya adalah seorang ulama besar yang ahli Al-Qur’an, ahli hadits, mujtahid dan zuhud. Ia terbukti amanah menjadi wali kota Madinah sampai kemudian Sulaiman bin Abdul Malik (w. 99 H.) menunjuknya sebagai pengganti dirinya untuk menjadi khalifah. Dia tak lain adalah yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai khulafaurrasyidin kelima, yaitu Umar bin Abdul Aziz (w. 101 H.).
 
Wallaahu A’lam
Sadeng 22 Januari 2017
Bagikan