HAKIKAT ILMU ITU BUKAN ILMUNYA TAPI MENCARINYA

HAKIKAT ILMU ITU BUKAN ILMUNYA TAPI MENCARINYA
Oleh: @deden_mm

Pasal pertama dari kitab Ta’lim al-Muta’llim Thariq al-Ta’allum karangan syaikh Burhanuddin al-Zarnuji (w. 591 H.) adalah tentang mahiyah al-‘ilmi (مَاهِيةُ العِلْمِ). Yaitu substansi ilmu. Atau sebut saja hakikat ilmu.

Yang dikemukakan pertama kali di pasal tersebut bukannya pengertian ilmu. Tapi mengutip hadits:

طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمْسْلِمَةٍ
Mencari ilmu itu betapa sangat wajibnya kepada setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.

Mengutip hadits di atas yang dilakukan syaikh al-Zarnuji dalam pasal ini tampak tidak nyambung. Karena membahas mahiyah (substansi) berarti membahas definisi. Bukannya masalah hukum mencari ilmu.

Tapi kemudian saya berfikir justru di sinilah hebatnya ulama terdahulu. Tidak ada satu pun kata yang disusun tanpa maksud yang kuat. Apalagi mengutip hadits. Tidak akan ada penempatan yang lolos dari tujuan yang besar.

Tergambar di pikiran saya tampaknya, syaikh al-Zarnuji, dengan mengutip hadits ini dalam pasal mahiyah ilmu, hendak menyampaikan pesan tersirat bahwa hakikat ilmu yang sebenarnya bukanlah ilmunya itu sendiri tapi mencarinya.

Yakni, dengan kata lain, setinggi apapun ilmu seseorang, ketika dia berhenti belajar (mencari ilmu), maka saat itu pula dia menjadi bodoh lagi. Wallahu A’lam…

15 Oktober 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan