Idulfitrikan Negeri Ini

TAKBIR KITA MENDAYU IDULFITRIKAN NEGERI INI
Oleh: K.H Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Adzan Maghrib 1 Syawal berkumandang akhiri puasa Ramadhan 1438, suara takbir bergema, mengalun indah di masjid-masjid, di jalan-jalan, dan di gang-gang. Suara bedug yang bertalu merdu iringi keindahannya. Memecah keheningan malam dan warnai tangis hati yang ditinggalkan Ramadhan. Khawatir masih tersisa dosa yang belum diampuni. Teringat akan saudara, teman, dan handai taulan. Tangan pun terhulur sendu dari tanah rantau meminta maaf atas segala khilaf.

Suasana haru birunya hati di balik alunan takbir hadir karena takbir yang dikumandangkan mendayu. Meliuk-liuk terbawa angin malam. Mengisi semesta sampai pagi. Kita merasakan itu semua. Namun tampaknya takbir yang dilantunkan dengan mendayu ini tak ditemukan di negeri muslim mana pun kecuali Nusantara. Hal ini menggambarkan hati bangsa ini yang lembut dan pemaaf. Bahkan, jika kita orang Indonesia, di negera mana pun kita berada, pasti ingat kampung, ingin pulang, dan rindu alunan takbir yang mendayu.

Takbir, di selain Nusantara, termasuk di Timur Tengah, bahkan sejak zaman Nabi Saw, digemakan dengan suara keras dan lantang. Misalnya dalam peperangan. Mana ada takbir yang mendayu saat perang. Takbir model ini belakangan sering kita dengar dalam orasi-orasi aksi bela Islam di penghujung 2016 dan awal 2017. Pada dasarnya, atau idealnya, takbir pada malam Idul Fitri dikumandangkan dengan lantang dan keras pula seperti dalam perang. Hal ini sesuai dengan makna tekstual kalimat takbir yang utuh sebagai berikut:

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahas besar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha besar. Allah Mahabesar, dan hanya bagi Allah segela puji. Allah Mahabesar dengan sebesar-besarnya. Segala puji hanya bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah pagi dan petang. Tiada Tuhan selain Allah. Hanya satu Allah. Membenarkan janji-Nya. Menolong hamba-Nya. Menguatkan (memuliakan dan memenangkan) tentara-Nya. Dan mengalahkan pasukan koalisi (musuh-musuh-Nya). Tiada Tuhan selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali pada-Nya dengan memurnikan Agama, hanya untuk-Nya, walaupun orang-orang kafir benci, walaupun orang-orang musyrik benci, dan walaupun orang-orang munafiq benci.”

Demikian terjemah takbir yang utuh. Membacanya dengan mendayu menjadi tak sesuai dengan makna tekstualnya yang bernada tinggi dan beredaksi permusuhan. Tampaknya, para ulama Nusantara dahulu, kendati mereka banyak berasal dari Timur Tengah, betapa memahami karakter bangsa ini yang lembut. Juga sangat memahami substansi Islam yang sebenarnya, yaitu kasih sayang (rahmat) bagi semesta alam. Mereka kemudian menampilkan makna Takbir Idul Fitri yang tidak keras seperti makna tekstualnya. Oleh karenanya, mereka membaca dengan mendayu untuk menghilangkan kesan radikal dan menampilkan makna takbir yang penuh kasih sayang. 

Sisi radikal dari makna takbir hanya menghentak jantung pembacanya saja sehingga tak tersisa setitik pun kesombongan dalam hatinya untuk tidak memaafkan dan atau meminta maaf. Apalagi berbuat zhalim dan tidak adil kepada sesama makhluk Allah. Takbir yang menghapus segala dendam. Tidak ada lagi niat membalas. Yang ada hanya kasih sayang dan permohonan atas segala kesalahan. Karena semuanya kecil, tidak ada yang besar, kecuali Allah. Unsur perang dalam kalimat Takbir pun diarahkan kepada perang yang lebih dahsyat. Yaitu perang melawan Hawa Nafsu. Pembaca takbir yang menyadari realitas dirinya ini akan bertakbir lebih mendayu. Bahkan ia akan menangis hanya karena mendengar derap suara bedug yang bertalu. Ego-nya lumpuh dengan pukulan para penabuh. Yang tersebar ke seluruh penjuru semesta dari takbir-nya adalah sisi kasih sayangnya. Sisi terlembut darinya selembut alunan nadanya yang mendayu. Dayu-nya luluhkan hati yang keras.

Dengan Idul Fitri, dan dengan gema takbir-nya yang mendayu sepanjang malam, mestinya tak ada permasalahan bangsa yang tak terselesaikan di negeri ini dengan kasih sayang. Mulailah memaafkan, atau meminta maaf, untuk idulfitrikan negeri ini. Jadilah yang pertama mengucapkan salam. Sebagai bukti takbir kita tulus hanya untuk-Nya. Bangun persaudaraan dengan yang memutuskannya. Pasti Allah limpahkan rahmat-Nya untuk kita. Untuk negeri ini. Bismillah.

Bekasi, 26 Juni 2017, 2 Syawal 1438 H.

Bagikan