JIKA POLITIK DITULIS DENGAN HURUF ARAB

JIKA POLITIK DITULIS DENGAN HURUF ARAB
Oleh: @deden_mm

Di pesantren Tradisional khas Nusantara kegiatan menulis, baik bahasa Indonesia, Sunda, maupun Jawa, dilakukan dengan menggunakan huruf Arab. Termasuk kosakata politik.

Kata politik jika ditulis dengan huruf Arab di pesantren maka akan terlihat terusun dari rangkaian huruf fa (ف), wawu (و), lam (ل), ya (ي), ta (ت), dan kaf (ك) yang, jika disambung, maka akan terlihat seperti di bawah ini:

فوليتك

Kata di atas, jika dibaca dengan menggunakan standar membaca Kitab Kuning sesuai ilmu Nahwu dan Sharaf maka akan terbaca sebagai berikut:

فَوَلَّيْتُكَ
Fawallaituka (Fa-wallai-tu-ka)

Dalam terjemahan gramatikal khas pesantren (ngalogat) berbahasa Jawa, pengertian “fawallaituka” adalah: “maka wus andadeaken ratu (wali) ingsun ing siro.”

Fa (َف) adalah huruf jawab. Artinya “maka.” Kata “walla” (وَلّٰى) adalah kata kerja lampau yang berhuruf akhir sukun (mabni sukun) karena bertemu dengan kata ganti orang pertama sebagai subjek (dhamir mutaharrik marfu’). Yaitu kata “tu” (تُ) yang menjadi subjek (fail) dari kata “tawalla.” Artinya aku. Sedang “ka” (كَ) adalah objek (maf’ul) kata “walla,” kata ganti orang kedua tunggal (mukhathab). Artinya kamu.

Yakni, terjemahan kalimat “fawallaituka” dalam bahasa Indonesia adalah: “Maka aku jadikan kamu wali.” Yaitu “pemimpin.”

Huruf fa (ف) bermakna “tafri’iyah” atau “fashihat.” Yakni, menunjukan adanya rangkaian kalimat yang panjang sebelumnya yang tidak terucap. Berupa segala ikhtiar positif yang maksimal dari berbagai sisinya sampai layak dijadikan pemimpin.

Dengan kata lain, seakan memberi pesan, bahwa pemimpin dijadikan. Hanya tafri’ saja. Yakni, akan terjadi secara otomatis setelah rangkaian ikhtiarnya maksimal serta sudah pantas menurut Allah. Atau hanya “fashihat” saja. Yaitu jawaban dari serangkai pertanyaan rakyat yang menginginkan keadilan.

Tapi, kata “walla” pun mempunyai pengertian “berpaling” atau “memalingkan.” “Fawallaituka” pun berarti: “maka aku (akan) palingkan kamu.” Inilah kenyataan politik jika ikhtiarnya tidak disertai kedekatan dengan Allah. Politik bahkan bisa memalingkan ulama dari keulamaannya. Mudah tergelincir. Hanya yang istiqamah yang bisa selamat.

Demikian, ketika politik ditulis dengan huruf Arab ala santri.

Sadeng, 20 September 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan

Artikel Terkait

Arsip