JIKA PRESIDEN INDONESIA BERNAMA ALIF

JIKA PRESIDEN INDONESIA BERNAMA ALIF

Jika Indonesia bernama Hija’iyah, Alif presidennya, dan huruf-huruf yang lain rakyatnya, maka akan tercipta banyak karya hebat yang tak pernah habis dibaca.

Huruf berasal dari sebuah goresan sederhana, dan tiada goresan sederhana yang sesederhana Alif. Yakni, Alif adalah fitrah huruf.

Alif mempunyai karakter Lin (lembut) dan Mad (membantu, memperpanjang hidup dan kualitasnya).

Alif selalu memberikan Harakat (martabat) berupa Fathah (kemenangan) pada setiap huruf yang mengikutinya.

Alif berdiri; simbol kerja keras, mandiri, dan mujahadah. Ia selalu bangun, dan tak pernah tidur, atau duduk berpangku tangan dari memberikan Fathah dan Mad

Tegaknya simbol istiqamah, lurusnya lambang kebenaran, dan totalitasnya bukti pengabdian kepada Allah yang Ahad

Alif penyeimbang struktur kata yang tidak sehat (ghair salim) dengan mengambil posisi sebagai pengganti tetap huruf yang menjadi sumber penyakitnya (huruf ‘illat)

Alif rela membungkuk dan membengkok saat mengantikan huruf ya (ي) di ujung kata. Ia dapat menanggung beban ya (ي) tanpa harus melepaskan Fathah dari huruf yang mengikutinya

Alif memberikan kesetaraan kepada kosakata tingkat rendah hingga sederajat dengan kosakata tingkat tinggi (alif lil ilhaq).

Bersama Nun, Alif menjadi tanda Rafa (ketinggian derajat) kata yang sedang menjalin tali kasih antara dua makna (Tatsniah).

Bersama Nun pula, Alif menjadi alasan suatu kata sifat berkarakter kuat hingga selalu Fathah meski dalam kondisi Khafadh (ghair munsharif)

Bersama Asmaul Khamsah, Alif manjadi tanda kemapanan (Nashab)

Alif adalah alat pembiak makna yang paling produktif dalam bentuk Jamak Mu’annats dan Jamak Taksir.

Alif mengantikan Tanwin Fathah saat Waqaf. Tanwin menjadi tak mati, karena diberi Mad.

Bersama Alif, kosakata Muannats menjadi berintegritas, karena menyebabkannya selalu Fathah dalam keadaan Khafadh sekalipun.

Sebegitu hebatnya peran Alif, ia sendiri, selamanya, tak pernah berharkat. Tapi memberikan harkat.

Katika suatu huruf mati (sukun), maka diberi tanda sukun. Tapi tidak pada Alif. Ia tak diberi tanda apa-apa. Karena tak berharkat, tak berarti mati. Bukankah sukun bagian dari harkat?

Ketika Alif bertemu dengan huruf mati, hingga huruf tersebut tak bisa terbaca, maka Alif mengambil harkat, tapi bukan untuk dirinya, melainkan untuk hamzah.

Lalu, ketika kemudian hamzah terjepit, maka Alif pasang badan melindungi hamzah dan membiarkan dirinya terlindas harakat penjepit hamzah tersebut agar tembus ke huruf sukun di depannya hingga terbaca meski hamzah telah pergi.

Alif di ujung kata rela dibuang bersama huruf wawu dan ya kalau keadaan suatu kata membutuhkan pengorbanan untuk memerintah, melarang, dan kuat mengikuti takdir Allah (jazm).

Alif adalah pahlawan tanpa Tanda Baca. Tak terbaca, tapi selalu hadir dan terbaca bersama setiap huruf. Raja yang tak bermahkota dan tak bersinggasana. Tapi ia selalu ada untuk rakyat dan selalu ada di hati mereka.

Wallahu A’lam
Kamis 26 November 2015
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan