Ketika Tuhan Kalahkan Kebenaran

KETIKA TUHAN KALAHKAN KEBENARAN
(Rahasia Allah di Balik Kemenangan Mongol atas Baghdad)
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

 

Pada pertengahan abad ketujuh Hijrah, korupsi dan kezaliman tengah kuat menggrogoti tembok istana Kekhalifahan Abbasiah di Baghdad, yaitu pusat pemerintahan Islam terhebat di dunia. Lalu Allah lumpuhkan kota peradaban kebanggan muslimin itu dengan serbuan pasukan Mongol bak gelombang yang menyapu segala yang dilaluinya tanpa bisa dibendung. Lebih dari delapan ratus ribu jiwa menjadi korban. Bahkan ada yang mencatat dua juta jiwa. Mengapa Allah lakukan itu sampai umat Islam berkabung panjang?
 
Di pesantren tradisional, santri mana yang tak kenal Syaikh Nawawi al-Banteni (w. 1316 H.), seorang ulama asli Nusantara yang dikenal di dunia dengan karya-karya kitab-nya yang hebat yang berjumlah ratusan. Di antara kitab beliau yang banyak dipelajari di pesantren adalah Qami’ al-Thughyan. Sebuah kitab yang berisi penjelasan dan komentar atau disebut syarah terhadap bait-bait sya’ir karya Syaikh Zainuddin al-Malibari (w. 928 H.) yang berjudul Manzhumah Syu’aib al-Iman. Pada halaman 4, saat mengulas tentang taqdir, Syaikh Nawawi al-Banteni (w. 1316 H.) mengutip kisah Syaikh Afifuddin al-Zahid (w. 758 H.), seorang ulama yang dikenal alim, shalih, multi karya, dan pemilik banyak karamah, tentang bagaimana beliau menyikapi peristiwa runtuhnya Baghdad di tangan Mongol.
 
Saat itu Syaikh Afifuddin sedang berada di Mesir. Kabar tragedi yang memilukan di Badhdad sampai kepadanya. Orang-orang kafir (Mongol) melakukan pembantaian hingga kota Badhdad yang sebelumnya merupakan kota termaju di dunia menjadi kota mati selama tiga tahun enam bulan. Mereka mengalungkan Al-Qur’an di leher-leher anjing. Kitab-kitab para ulama dibuang ke sungai Tigris sampai membentuk semacam jembatan untuk penyebrangan kuda-kuda mereka. Ini keputusan Allah yang tak seorang pun bisa mencegah. Syaikh Afifuddin berkata: “Ini tidaklah benar, ya Allah. Tidak adil. Mengapa ini terjadi sementara di antara mereka ada anak-anak dan orang-orang yang tak berdosa.”
 
Malam harinya Syaikh Afifuddin bermimpi melihat orang yang membawa sebuah buku. Lalu ia mengambilnya. Ternyata di dalamnya tertulis dua bait syair:
 
Hentikan menentang yang bukan urusanmu.
Dan ketentuan bukanlah dalam peredaran bintang-bintang.
 
Jangan pertanyakan pekerjaan Allah
Yang masuk dalam gelombang lautan akan binasa.
 
Syaikh Afifuddin ditegur Allah. Yaitu teguran yang mengajak beliau melihat substansi. Allah tengah memenangkan kebenaran yang substantif dan mengalahkan kebenaran yang tidak substantif. Bukankah kebenaran adalah substansi dan kebatilan adalah kekosongan (tidak substantif). Jika belum mampu melihat substansi maka berhenti su’uzhon kepada Allah. Baghdad tidak jatuh kecuali Allah hendak memperbaiki peradaban Islam yang tampak megah di luar dan kropos di dalam. Tak sepatutnya muslimin menolak atau menganggapnya buruk, apalagi sibuk merencanakan balas dendam. Melainkan saatnya berintrospeksi. Yang buruk hanya kulitnya. Sedang substansinya baik.
 
Mungkin sampai Syaikh Afifuddin wafat rahasia jatuhnya Baghdad dan menangnya Mongol belum terlihat. Kerasnya karakter bangsa Mongol yang tak dapat dikalahkan kekuatan militer akhirnya luluh dengan akhlak para ulama sufi yang lembut dan bersih dari niat balas dendam. Lalu, tak sampai setengah abad, kecuali anak-cucu bangsa Mongol yang menghancurkan Baghdad, termasuk anak-cucu pimpinan mereka, Holagu Khan, berubah menjadi para penyebar kedamaian yang lembut dengan akhlak Islam sampai ke India, Asia Kecil, dan Cina. Raja-raja Mongol yang menguasai negeri-negeri muslim dari Transoksiana sampai Baghdad dan Syam bahu membahu membangun kerajaan dan peradaban Islam.
 
Di antara pengaruh paling besar dari islamisasi Mongol adalah lahirnya kekhalifahan Turki Utsmani dan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Biasanya agama penjajah mempengaruhi agama yang dijajah. Tapi lain halnya dengan Mongol. Mereka terpengaruh agama dan budaya bangsa yang dijajah. Ini tak lain karena Allah yang bekerja. Allah masih sayang kepada muslimin. Andai, maaf, Allah tak menjatuhkan Baghdad, atau apalagi memenangkannya, maka Islam dan Al-Qur’an hanya akan menjadi pembungkus kerusakan, ketidakadilan, dan kezaliman. Ini yang disebut istidraj. Pertanda Allah terlampau murka. Na’udzu billah min dzalik.
 
Wallahu A’lam
Sadeng, 5 Februari 2017
Bagikan