MEMBAKAR BENDERA TAUHID DAN KISAH ABDULLAH BIN ZUBAIR

MEMBAKAR BENDERA TAUHID DAN KISAH ABDULLAH BIN ZUBAIR
Oleh: @deden_mm

Pasukan Hajjaj bin Yusuf sampai di Mekah dengan berpakain ihram. Umrah bukan tujuan utamanya. Melainkan menangkap sahabat Rasulullah Saw yang shalih sekaligus cucu kesayangan Abu Bakar al-Shiddiq, Abdullah bin Zubair yang memberontak kepada penguasa Kekhalifahan Bani Umayah yang sah.

Hajjaj bin Yusuf memerintahkan kepada pasukannya agar tidak thawaf dan sai kecuali setelah menangkap hidup atau mati Abdullah bin al-Zubair yang bertahan di dalam Ka’bah dan dilindungi oleh para ulama dan para santrinya di Masjidil Haram.

Pasukan Hajjaj bin Yusuf yang berjumlah banyak dan kuat mengepung Masjidil Haram. Tapi Abdullah bin Zubair tak kungjung keluar dari dalam Ka’bah. Pertempuran sengit pun terjadi antara pasukan Hajjaj yang tentara dan pasukan pelindung Abdullah bin Zubair yang ulama dan santri di pelataran Masjid dan tempat thawaf.

Tak tampaknya Abdullah bin Zubair di mata Hajjaj mendorong Hajjaj memerintahkan agar pasukannya melemparkan batu-batu besar ke arah Ka’bah guna merusaknya dengan alat-alat pelempar yang disebut manjaniq.

Dinding Ka’bah perlahan roboh bagian-bagiannya. Tapi Abdullah bin Zubair masih di dalam. Kondisi Ka’bah sudah semakin parah akibat lempara batu-batu manjaniq itu. Akhirnya Abdullah bin Zubair tak tega melihat dibding Ka’bah yang kokoh terus melindungi dirinya.

Abdullah bin Zubair keluar dari Ka’bah. Alasannya sangat kuat. Yaitu sangat malu telah menjadikan Ka’bah sebagai perisai dirinya hingga menyabkannya retak-retak dan roboh. Mestinya dirinyalah yang menjadi perisai Ka’bah.

Sepontan Abdullah bin Zubair menghadang batu-batu yang melayang ke arah dinding Ka’bah dengan menggunakan senjata, tangan, dan badannya. Sampai Abdullah bin Zubair menemui syahidnya sementara Hajjaj bin Yusuf belum mengetahuinya.

Batu-batu manjaniq terus melayang menghantam dinding Ka’bah sampai benar-benar rubuh dan Hajjaj yakin tak ada orang di dalamnya yang selamat. Termasuk Abdullah bin Zubair.

Bendera bertuliskan kalimat tauhid ibarat Ka’bah. Membakarnya tanpa alasan yang syar’i tidaklah dibenarkan. Bahkan memang muslimin wajib inkar kepada pembakaran dan pembakar-nya. Yakni tak salah kalau umat marah.

Tapi juga tidak dibenarkan menulis kalimat tauhid di bendera kalau untuk digunakan unjuk rasa seakan menjadikannya perisai. Apalagi sampai menjadi terhinakan dengan adanya insiden terinjak-injak, perobekkan, atau pembakaran. Terlebih bendera yang bentuknya demikian identik dengan ormas yang terlarang di negara ini.

Sadeng, 22 Oktober 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan