MENGAKU HABIB

MENGAKU HABIB
Oleh: @deden_mm

Habib menurut ‘uruf di masyarakat kita adalah orang yang mempunyai silsilah keturunan yang sah dari Rasulullah Saw. Berasal dari bahasa Arab artinya kekasih. Kita lazim menyebut jamaknya dengan habaib (الحَبَائِب).

Dalam kitab sejarah imam al-Biqa’iy (w. 885 H.) yang berjudul Izhhar al-‘Ashr li Asrar Ahl al-‘Ashr jilid 2 halaman 230-231 dikisahkan bahwa pada tahun 861 H. di Mesir ada orang yang mangaku habib.

Namanya Ahmad al-Mugharbil. Atau disebut juga Ahmad al-Madani.

Dia membawa pengakuannya ke pengadilan. Saksi-saksi palsu dihadirkan berikut catatan silsilah nasab yang diakuinya bersambung kepada Ja’far al-Shadiq.

Dia mengaku berasal dari Ja’fariyah di mana semua penduduknya merupakan keturuan Ja’fat al-Shadiq (w. 148 H.) bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Yang bertindak sebagai hakim adalah seorang ulama yang wara’ bernama al-Sa’d al-Dairy al-Hanafi (w. 876 H.) dengan gelar qadhi al-qudhat.

Lalu, terbukti Ahmad al-Mugharbil adalah seorang yang berprofesi sebagai tukang pembuat saringan tepung di distrik Bulaq, Kairo.

Ia bukan keturunan Rasulullah Saw. Melainkan keturunan keluarga yang beragama Nashrani yang tinggal di kota Dimyath, provinsi Dimyath, Mesir.

al-Sa’d al-Dairy al-Hanafi (w. 876 H.) menjatuhkan hukuman berat kepada sang pengaku habib berupa hukuman pukul yang sangat keras serta diarak di keramaian.

al-Sa’d (w. 876 H.) sendiri yang turun mengeksekusi pukalan dan mengaraknya di keramaian pada hari Sabtu tanggal 17 Muharram tahun 861 H.

al-Sa’d berkata: “Inilah balasan orang yang hendak masuk kedalam nasab yang mulia tanpa hak.”

Sadeng, 20 Desember 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan