MENYEMBELIH KORUPTOR

MENYEMBELIH KORUPTOR
@deden_mm

Mentari pagi bersinar cerah. Lautan manusia membanjiri halaman masjid kota Cordova. Gemuruh takbir menghentak jatung menunggu sang Khalifah memimpin shalat. Ada yang berbeda pada Idul Adha di Andalusi tahun itu. Tahun 308 Hijrah. Khuthbah sang Khalifah memecah keheningan. Tampak menggebu-gebu. Ia menyuarakan keadilan dengan penuh semangat. Haru biru tampak pada wajah jamaah Shalat Id saat Khalifah berjanji akan memberikan Qurban terbaik untuk rakyatnya.

Ia adalah khalifah Andalusia yang dijuluki An-Nashir (Sang Penolong). Dikenal rakyat sebagai pemimpin yang adil, pemberani, memilih hidup sederhana, dan menjauhi kemewahan dunia. Jendral perang, negarawan, dan ilmuwan yang religius. Namanya Abdurrahman III. Pada masanya, Andalusia sampai pada puncak kejayaan dan kemakmuran setelah sebelumnya mundur bersama para penguasanya yang lemah dan korup.

Beberapa bulan sebelumnya, negara diguncang kasus pengkhianatan dan korupsi. Benteng kekhalifahan nyaris roboh. Hampir meletus perang saudara, dan ekonomi pun jatuh. Khalifah tak tinggal diam. Ia kerahkan segala kemampuannya untuk menangkap sang koruptor. Menjelang Idul Adha, koruptor sekaligus pengkhianat itu tertangkap tangan. Alangkah terkejutnya Khalifah. Ternyata yang dicari-carinya bukan orang asing. Ia adalah buah hatinya sendiri, putra mahkota, dan pewaris tahta kerajaan, Abdullah bin Abadurrahman. Namun, siapapun dia, pengkhianat adalah pengkhianat. Ia harus diadili, kendati sangat memilukan.

Khalifah turun dari mimbar. Hewan-hewan kurban digiring ke tempat penyembelihan. Anak-anak dilarang masuk. Semua mata tertuju pada sembelihan Khalifah, karena yang dibawanya bukan hewan. Melainkan sang koruptor itu. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan Khalifah pada anak kesayangannya. Khalifah merebahkan anaknya di tempat penyembelihan layaknya perlakuan Ibrahim kepada Isma’il. Lalu perlahan dan hati-hati, Khalifah menggoreskan sebilah pisau yang tajam ke leher putranya. Kepala putra mahkota pun terpenggal bersimbah darah.

Berat niat beban yang dipikul Khalifah. Air matanya meleleh. Berharap dipertemukan dengan putranya di surga kelak. Namun ia harus tetap terlihat tenang, meski seakan-akan bertanya kenapa harus dia. Ia merasa yang salah itu dirinya, bukan anaknya. Namun bagaimana dengan rakyat dan pertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Orang-orang tak tega melihatnya. Ingin hati melerai sang Khalifah. Namun koruptor tetap harus dihukum mati. Karena dengan kematiannya, jutaan nyawa dalam satu generasi akan tertolong.

Khalifah menghadap ke seluruh jamaah yang hadir seraya berkata:

“Ini adalah qurbanku tahun ini.”

Sumber
Dzikr Bilad al-Andalus
Tarikh al-Andalus fi al-‘Ashr al-Islami

Bagikan