NABI IBRAHIM, BRAHMAN, DAN BRAHMA

NABI IBRAHIM, BRAHMAN, DAN BRAHMA
Oleh: Deden Muhammad Makhyaruddin

Dalam salah satu kitab yang menjadi referensi wajib di pesantren tradisional, Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja karya Syeikh Nawawi bin Umar al-Banteni (w. 1316 H.) halaman 10, ditemukan riwayat yang bersambung kepada Rasulullah Saw melalui Abu Dzar al-Gifari (w. 32 H.) tentang naskah kitab suci yang diberikan kepada Nabi Ibrahim (shuhuf). Bahwa seluruh isinya berupa amtsal (sloka-sloka). Ini mirip dengan kitab Weda (Sruti) yang berisi sloka-sloka. Dalam riwayat lain, Shuhuf Nabi Ibrahim berjumlah 10. Ini sesuai dengan Rg Weda (kompilasi) yang terdiri dari 10 Mandala.

Saya “curiga” yang disebut Brahman Yang Mahaesa dalam Weda adalah Nabi Ibrahim. Namun yang terjadi pada pengikut Weda adalah seperti pemahaman dan keyakinan Nashrani yang menuhankan Nabi Isa. Ini karena, kata Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H.), shuhuf yang asli sudah diangkat.

Kedua riwayat di atas meski belum diketahui jelas status kesahihannya, saya melihat, pada masa lalu, sudah ada upaya dari para ulama untuk mempertemukan Weda dengan Shuhuf Ibrahim. Dalam kitab al-Milal wa al-Nihal, misalnya, ada dugaan Barahimah (agama Hindu) adalah agama pengikut Nabi Ibrahim. Kajiannya tak banyak, karena terlanjur disimpulkan mereka dikenal menolak kenabian. Tampaknya hal ini karena para ulama dahulu di Arab masih kekurangan referensi tentang Weda dan Hindu.

Agama Weda, dalam perkembangannya, bermetamorposis menjadi Agama Budha kemudian Hindu. Dari kedua Agama tersebut yang disebut-sebut sebagai perwujudan yang lebih mirip dengan Agama Weda adalah yang datang belakangan, yaitu Hindu. Dalam kayakinan Hindu, Brahman menampilkan dirinya dalam tiga wujud dewa. Disebut Trimurti. Yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Mereka memiliki sifat dewa dan sifat manusia. Mereka diperanakan, beristri, dan beranak. Umat Hindu tidak sepaham dalam menentukan mana dari ketiganya yang tertinggi, atau perwujudan inti dari Brahman. Mayoritas menyebut Brahma tertinggi. Tapi ada yang menyebut Wisnu.

Trimurti lahir dengan mengangkat Brahman sebagai Tuhan yang benar-benar Tuhan (esa). Adapun yang mempunyai sisi manusia bukanlah Brahman, tapi Brahma bersama Wisnu dan Siwa. Yakni, dengan kata lain, dalam kepercayaan mereka, Nabi Ibrahim sebagai Tuhan menjadi disebut Brahman, dan sebagai yang berunsur manusia menjadi disebut Brahma.

Brahma, dalam mitologi Hindu, tak dinamakan Brahma kecuali karena merupakan cikal bakal penciptaan. Ia kemudian disebut dewa pencipta alam. Brahma pun identik dengan api (Agni). Ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim yang tak dipisahkan dari perjalanan dakwahnya yang pernah dibakar api. Brahma juga menikah dengan seorang dewi yang bernama Saraswati. Ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim yang menikah dengan Sarah (Sarah-swati).

Dari segi nama, selain mirip dengan Brahman, Brahma juga sangat mirip dengan makna etimologi Ibrahim. Dalam bahasa Suryani berasal dari “aburaham” (أَبُو رَهَام) artinya jumhur, mayoritas, induk, cikal bakal dan muara segala kebaikan. Berasal dari bahasa Arab: “abun rahimun” (أَبٌ رَحِيمٌ). Artinya ayah yang penyayang. Ada yang mengatakan dari bahasa Kurdi, Bar/بَر (saudara) dan Ham/هَم (batu) yang identik dengan tradisi memahat batu untuk dijadikan berhala. Dan tradisi ini pesat di India.

Kebanyakan orang hanya mengetahui satu varian bacaan kata ibrahim, padahal dalam bahasa Arab bisa dibaca dengan 7 varian bacaan, bahkan salah satunya ada yang dinyatakan sah sebagai bagian varian bacaan (qiraat) yang diterima secara bergelombang (mutawatirah) dari Rasulullah Saw, seperti qiraat di negeri Syam, yaitu qiraat Ibnu Amir (w. 118 H.) dari Abu Musa al-Asy’ari (w. 44 H.), melalui rawi Ibnu Dzakwan (w. 242 H.). Varian tersebut adalah:

1. Ibraahiim (إِبْرَاهِيم). Bacaan (qiraat) jumhur
2. Ibraahaam (إِبْرَاهَام). Bacaan Abi Musa al-Asy’ari (w. 44 H.) dan Abdullah bin Zubair (w. 73 H.)
3. Ibraahim (إِبْرَاهِم). Bacaan Malik bin Dinar (w. 127 H.)
4. Ibraaham (إِبْرَاهَم). Bacaan Abdurrahman bin Abu Bakrah (w. 96 H.)
5. Ibraahum (إِبْرَاهُم)
6. Ibraham (إِبْرَهَم)
7. Ibrahim (إِبْرَهِم). Bacaan Abu Raja al-‘Atharidi (w. 107 H.)
8. Ibraahuum (إِبْرَاهُوم).

Bentuk jamak dari kata ibrahim adalah abaarih (أَبَارِه), baraahim (بَرَاهِم), abaarihah (أَبَارِهَة), baraahimah (بَرَاهِمَة), baraah (بَرَاه). Dan tashghirnya adalah buraih (بُرَيه). Demikian varian bacaan nama Ibrahim, sangat mirip dengan Brahman dan Brahma.

Wallahu A’lam

Sadeng, 6 Desember 2015

Bagikan