NAHWU DOA MBAH MAIMUN

NAHWU DOA MBAH MAIMUN
Oleh: @deden_mm

Berikut lebih kurang kutipan doa Mbah Maimun tentang presiden 2019:

‎اجْعَلْ مَنْ، يَا إِلٰهَنَا، فِي جَنْبِنَا، يَا إِلٰهَنَا يَا أَللهُ، الرَّئِيْسَ، هَذَا الرَّئِيْسَ فَاكْ فَرَابَاوَا، اجْعَلْهُ، يَا إِلٰهَنَا، فِي المَرَّةِ الثَّانِيَةِ نَائِلًا أَصْوَاتًا كَثِيرَةً

Untuk memudahkan, saya pisahkan dulu dari jumlah mu’taridhah-nya. Yaitu kata “ya ilahana” dan kata “ya ‘allaah.” Jadi:

‎اجْعَلْ مَنْ فِي جَنْبِنَا الرَّئِيْسَ، هَذَا الرَّئِيْسَ، فَاكْ فَرَابَاوَا، اجْعَلْهُ فِي المَرَّةِ الثَّانِيَةِ نَائِلًا أَصْوَاتًا كَثِيرَةً

Terjemahan umumnya adalah: “Jadikanlah orang yang berada di samping kami, Presiden, Presiden ini, yaitu Pak Prabowo, jadikanlah dia dalam kali yang kedua ini meraih suara yang banyak.”

Yang dimaksud oleh Mbah Moen dengan “Presiden ini” adalah Pak Jokowi. Tapi, beliau terpeleset lidah, sehingga yang terucap adalah Pak Prabowo. Bahkan, kalau saja tidak melihat konteksnya, narasi doa beliau benar-benar mendoakan Pak Prabowo jadi presiden. Bukan mendoakan Pak Jokowi.

Mbah Maimun sama sekali tidak sedang mendoakan Pak Prabowo jadi presiden, tapi mendoakan Pak Jokowi. Karena, yang dianggap dalam doa atau ucapan adalah yang di dalam hati bukan yang di lidah. Karena, isim isyarah jelas menunjuk kepada Pak Jokowi yang berada dekat di samping beliau.

Nama Prabowo yang muncul tidak dapat mengalihkan doa tersebut ke Pak Prabowo, karena kemunculan nama Prabowo hanya terpeleset saja. Tidak diniatkan. Doanya hanya untuk yang ditunjuk oleh isim isyarah. Tapi, dalam dua tulisan saya sebelumnya dengan judul “Terpeleset Doa,” dan “Ralat Doa,” bahwa berdoa “dilarang” terpeleset kepada yang buruk, karena tetap akan dikabulkan sesuai yang diucapkan dan tidak dapat diralat.

Saya di sini akan mengupas Nahwu-nya dengan asumsi bahwa yang dimaksud “Presiden ini” adalah Pak Jokowi, dan kata “Pak Prabowo” bukan “badal,” tapi hanya kata yang terpeleset lalu menyisip ke dalam tubuh kalimat. Yaitu, dalam hal ini, yang lebih menarik untuk digarisbawahi bukan hanya isim isyarah-nya saja tapi juga penggunaan kata “ij’al (إِجْعَلْ).” Kata perintah dari ja’ala (جَعَلَ). Artinya menjadikan.

Kata ja’ala (جَعَلَ) adalah satu dari tujuh “Fi’il Tahwil atau Tashyir.” Yaitu, fi’il-fi’il yang bermakna “menjadikan.” Ia menashabkan dua Maf’ul. Maf’ul pertama asalnya Mubtada dan Maf’ul kedua asalnya Khabar Mubtada. Ada dua kata ‘ij’al (إجْعَلْ) dalam doa beliau. Yaitu, pertama, kata ‘ij’al (إجْعَلْ) di pembuka doa. Dan, kedua, kata ‘ij’al-hu (إجْعَلْهُ) setelah kata “فَرَابَاوَا.” Dua-duanya membutuhkan dua kata untuk maf’ul-maf’ul-nya.

Dua maf’ul ‘ij’al (إجْعَلْ) yang pertama harus ada sebelum kata ‘ij’al (اجْعَلْ) yang kedua. Terlihat dengan jelas bahwa Maf’ul pertama dari ij’al yang pertama adalah kata “man fi janbina.” Yaitu, orang yang berada di samping kami. Lalu mana Maf’ul kedua? Jelas bukan kata hadza (هٰذَا) juga bukan kata al-ra’is (الرَّئِيسَ). Karena, kata al-ra’is (الرَّئِيسَ) yang pertama adalah badal dari kata “man fi janbina.” Dan, kata hadza (هٰذَا) adalah na’at dari al-ra’is (الرَّئِيسَ). Lalu, kata al-ra’is (الرَّئِسَ) yang kedua adalah badal atau ‘athaf bayan dari hadza (هٰذَا). Semuanya menunjuk pada satu sosok yang berada di samping Mbah Maimun, yaitu Presiden Jokowi.

Hanya satu kata yang tersisa sebelum kata ‘ij’al (اجْعَلْ) yang kedua, yaitu kata “prabowo” (فَرَابَاوَا). Mau tidak mau kata inilah yang harus dijadikan Maf’ul kedua dari kata ‘ij’al (اجْعَلْ) yang pertama. Sehingga jika disingkat kalimatnya akan menjadi:

اجْعَلْ هٰذَا الرَّئِيسَ فَرَابَاوَا
Jadikanlah Presiden ini (Pak Jokowi) Prabowo.

Yakni, Mbah Maimun meminta kepada Allah agar Pak Presiden beralih (تَحْوِيل) ke Prabowo. Kalimat ini sama dengan yang sering dibuat contoh dalam kitab-kitab Nahwu tentang Fi’il Tahwil. Yaitu:

اجْعَلْ هٰذَا التُّرَابَ خَزَفًا
Jadikanlah tanah ini tembikar.

Yakni, kata perintah mengalihkan tanah menjadi tembikar.

Kemudian, kata ‘ij’al (اجْعَلْ) yang kedua, Maf’ul pertamanya adalah dhamir (هُ) yang kembali kepada kata yang disebutkan sebelumnya. Dan, Maf’ul kedua-nya adalah kata na’ilan (نَائِلًا). Lalu, kata manakah yang menjadi tempat kembalinya dhamir? Kata “man fi janbina,” yaitu Pak Jokowi atau Prabowo?

Kita lihat bahwa kata ‘ij’al (اجْعَلْ) yang pertama telah menjadikan Presiden Jokowi teralihkan (تَحْوِيل) ke Prabowo. Tidak mungkin kemudian dhamir pada kata ‘ij’al yang kedua kembali kepada Presiden yang telah dialihkan, tapi ke Prabowo yang menerima pengalihan. Jadi terjemahan dari:

اجْعَلْهُ فِي المَرَّةِ الثَّانِيَةِ نَائلًا أَصْوَاتًا كَثِيرَةً
Adalah: “Jadikanlah Prabowo dalam kali kedua ini meraih suara yang banyak.”

al-Marrah al-tsaniyah (المَرَّة الثَّانِية) tidak berarti periode kedua Jokowi, tapi putaran kedua pertarungan Prabowo-Jokowi dalam Pilpres. Berikut adalah terjemahan gramatikal doa Mbah Maimun:

“Jadikanlah, ya Tuhan kami, orang yang ada di samping kami, ya Tuhan, ya Allah, yaitu Presiden, Presiden ini (Jokowi), (alihkanlah dia menjadi) Pak Prabowo. Dan, jadikanlah dia (Prabowo), ya Tuhan kami, dalam kali kedua (ini) meraih suara yang banyak.”

Tapi, dalam Nahwu, selalu terbuka wajah yang lain. Disebut muhtamil. Bisa saja masuk bab tanazu’ di mana ij’al yang pertama berebut dengan ‘ij’al yang kedua untuk mendapatkan kata na’ilan menjadi Maf’ul keduanya. Yakni, yang didoakan dengan ‘ij’al yang pertama dan yang kedua adalah orang yang sama. Yaitu, Pak Jokowi. Tapi, dengan begini, kata “prabowo” menjadi badal yang terpeleset lagi.

Sadeng, 2 Februari 2019
Deden Muhammad Makhyaruddin

Bagikan