NGEBULI ULAMA

NGEBULI ULAMA
Oleh: @deden_mm

Buli-membuli seperti yang terjadi sekarang pernah terjadi dahulu pada awal Dinasti Bani Umayah. Pemicunya pun sama. Yaitu masalah politik. Tak tanggung-tanggung ulama dan para sahabat nabi yang tersisa masuk kancah buli jika terjun di politik.

Tokoh yang dikenal hafizh Al-Quran bernama Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi(w. 95 H.) menjadi sentral konfliknya. Dia yang tak diragukan lagi kesolehan (pribadi) dan kecerdasannya serta kontribusinya dalam dakwah Islam, perluasan wilayah Islam, dan menjaga Al-Quran, malah menjadi penyokong fanatik rezim yang berkuasa.

Mimbar shalat Jumat dan shalat Id menjadi media saling buli para ulama paling horor atas nama kritik membangun yang disandarkan pada ayat. Di tempat-tempat berkumpulnya orang-orang seperti kebun, warung, dan pasar. Menggunjing Hajjaj bin Yusuf menjadi topik utama kubu oposisi. Sebaliknya kubu oposisi jadi bahan ghibah kubu pemerintah. Jika ada medsos mungkin akan penuh juga dengan meme-meme mirip sekarang.

Kritik yang dilancarkan ulama oposisi tidak dapat disampaikan dengan kalimat langsung mengingat tangan besi Hajjaj yang tak pandang bulu menangkap, memenjarakan, menyiksa, dan membunuh siapa yang saja yang mengghibah dirinya dan rezim. Tapi Hajjaj dengan kecerdasan ilmu Balaghah yang dimilikinya tak pernah bisa dikelabui dengan kalimat pujian yang padahal menghina. Sindiran-sindiran pun dikemas serapi mungkin agar dapat berkilah nanti di pengadilan jika tertangkap.

Seorang mufassir Al-Quran murid Ibnu Abbas, Said bin Jubair adalah ulama oposisi yang masuk target utama Hajjaj bin Yusuf. Tapi Said selalu berhasil lolos. Lalu setelah lama menjalani hidup mengajarkan Al-Quran, tafsir, dan fiqih dalam keadaan sebagai buronan pemerintah, Said bin Jubair menyerah. Dia berkata: “Lama aku besembunyi dari Hajjaj sampai aku malu kepada Allah.”

Said bin Jubair dihadirkan di persidangan Hajjaj bin Yusuf. Para ulama pemerintah duduk berbaris di samping kiri dan kanan Hajjaj. Mereka berharap Said bin Jubair tidak mengatakan kata-kata yang menyinggung Hajjaj. Justru sebisa mungkin memberikan pujian. Karena Hajjaj akan mengampuni siapapun yang memujinya.

Hajjaj berkata kepada Said:
“Katakan, siapa aku?”

Said menjawab:
“Engkau adalah yang adil.”

Dalam bahasa Arabnya: “anta qasith ‘adil.” Spontan para ulama merasa lega karena akhirnya Said memuji Hajjaj yang kemungkinan bisa menyebabkan kebebasannya. Tapi Hajjaj malah makin murka kepada Said seraya berkata:

“Tahukah kalian, yang dimaksud orang ini dengan qasith dan adil bukanlah memujiku. Tapi sedang menghinaku. (Karena qasith artinya zhalim dan ‘adil artinya berpaling dari kebenaran). Yaitu seperti firman Allah Swt: “Dan orang-orang yang qasith adalah kayu bakar Jahannam (QS al-Najm: 15). Dan firman Allah: “… dan orang-orang yang kufur itu ‘adil (berpaling) dari rabb mereka (QS al-An’am: 1).”

Said bin Jubair dijatuhi hukuman mati. Permohonannya untuk shalat dua rakaat sebelum dieksekusi tidak dikabulkan. Lalu Said menghadapkan badannya ke arah qiblat bertakbir untuk shalat. Lalu Hajjaj memerintahkan agar Said dipalingkan dari arah qiblat sehingga shalatnya mengarah ke selain qiblat. Tapi Said kendati sudah dipalingkan tetap melanjutkan shalatnya. Karena semua arah adalah qiblat Allah. Lalu Said penggal kepalanya di tempat dalam shalatnya terakhirnya itu.

Tampilnya ulama sebagai Cawapres petahana menyebabkan oposisi membuat kalimat buli yang halus karena berharap terhindar dari dosa ghibah ulama. Misalnya, “mari kita muliakan ulama kita, orang tua kita. Jangan biarkan beliau terbenani sebagai wapres.” Dan kalimat-kalimat sejenis lainnya yang terbaca menghormati tapi mengajak tidak memilihnya. Padahal jika diamati dengan saksama jelas-jelas ghibah. Bahkan lebih menghinakan dari pada buli-buli langsung. Seperti yang dilakukan Said bin Jubair.

Kalimat-kalimat tak langsung yang demikian biasanya digunakan Al-Quran untuk menyusutkan orang-orang yang kufur. Misalnya, “… berikanlah kabar gembir kepada mereka berupa adzab yang pedih.” Dan “Rasakanlah (adzab itu), sesungguhnya engkau adalah yang mulia lagi murah hati.” Ini kalimat penghinaan.

Buli dengan berbagai macam jenisnya, baik yang langsung maupun yang tak langsung, yang halus maupun yang kasar, tetaplah ghibah yang diharamkan Allah. Bahkan dalam sejarah panjang kekhalifahan Bani Umayah di mana Hajjaj bin Yusuf sebagai iconnya tradisi buli hanya melahirkan perasaban kebencian yang rusak dan permusuhan lintas generasi. Dan Islam pada masa itu tidak kunjung sampai pada masa keemasannya kecuali setelah dihapuskan tradisi buli oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, khususnya di mimbar-mimbar shalat Jumat.

Demikian

Sadenh, 25 Agustus 2018
Deden Muhammad Makhyaruddin
(Ketua Dewan Ulama Tahfizh dan Tafsir Indonesia)

Bagikan